Skip to main content

How does netizen react an article?

Ketimbang mikirin bener-bener isi artikelnya, mereka lebih suka nyablak di kolom komentar.

Assalamu’alaykum wr. wb.

Beberapa waktu belakangan ini, berita hoax dan plagiarisme suatu artikel di internet lagi hangat-hangatnya diperbincangin, terlebih ketika pemerintah ngeluarin kebijakannya mengenai penyebaran hoax di internet. Sebelumnya, artikel-artikel tersebut memang gembar-gembor di-share di linimasa, dari yang posting-an facebook, broadcast-an whatsapp, sampe berita-berita publish-an blogspot.

Kalo gue balik ke tahun 2010 ke bawah, ketika gue baru punya media sosial dan lumayan rajin nge-net, orang-orang –baik itu temen gue atau bukan– rasanya belum terlalu concern untuk memercayai berita di internet. Mereka lebih percaya ketika dikasi berita lewat media televisi, radio, ataupun surat kabar yang kayaknya adalah media paling valid untuk disiarkan ataupun diterbitkan.

Jadi, apa yang membuat orang-orang sekarang lebih suka berita di internet ketimbang surat kabar? Ini subyektif. Menurut pandangan gue, sekarang internet adalah suatu hal yang sangat mudah didapatkan. Instead of beli koran Rp. 2500/hari, orang-orang akan memilih beli kuota Rp. 50.000/bulan untuk akses apapun, termasuk koran-koran online.

Hal itu nggak mengherankan, mengingat banyaknya provider yang menyediakan layanan internet karena pengguna internet dunia sendiri memang meningkat tajam 2 dekade ini. Ngutip dari www.internetlivestats.com/internet-users/, pengguna internet tahun 2016 adalah lebih dari 3,4 milyar. Sedangkan pengguna internet di Indonesia per tahun 2016 adalah lebih dari 53 juta, which is sekitar 20% dari banyak penduduknya. Sayangnya, pertumbuhan internet yang pesat, terutama di Indonesia ini kebanyakan nggak dibarengi dengan pemakaian yang cerdas. Maksudnya, masih banyak pengguna internet a.k.a netizen yang menyebarkan kebencian, berita hoax, permusuhan, info-info palsu, sampe penipuan.

Gue sering ngamatin gimana para netizen ini bereaksi terhadap artikel yang mereka baca kunjungi. Most of them, lebih suka menghujat, melontarkan komen negatif atau berburuk sangka terhadap suatu artikel tanpa berpikir atau mencari tau fakta, isi dan kebenarannya. Gue contohin aja waktu itu di facebook ada artikel kesehatan dari suatu portal berita yang nulis tentang perkembangan penelitian suatu penyakit yang kebetulan bisa mengenai daerah kelamin. Di komen, netizen malah menghujat portal berita tersebut. Mulai dari ngatain bahwa nggak sepatutnya artikel kesehatan itu dibahas, sampe artikel itu nggak semestinya di-publish karena banyak anak bawah umur yang bisa melihat atau membaca. Yang gue pikir saat itu adalah, apa yang salah dari artikel ini? Pas gue kunjungi bahkan baca artikelnya, gue nggak ngeliat ada hal vulgar yang emang sengaja diumbar. Isi artikel itu adalah pengetahuan, sebuah keilmiahan bahkan seharusnya jadi bacaan agar netizen lebih aware sama kesehatan mereka.

Belum lagi, lo pernah nemu nggak? Ada fanpage facebook, bahkan ads di aplikasi yang munculin judul berita menarik tapi isinya malah beda. Itu banyaaak banget, terutama berita-berita selebriti, pejabat negara dan isu-isu krusial. Lucunya, gue liat ada banyak sekali netizen yang me-reshare “judul berita tanpa isi” itu. Coba dipikir, kira-kira apakah netizen tersebut sudah mengunjungi artikel aslinya? Atau cuma baca judul doang?

Itu baru yang di facebook, belum lagi broadcast whatsapp, tentang penyakit kanker, paru-paru basah, jantung, sampe magh yang isinya ala-ala dia aja. Eh, abis itu di akhir dia malah promosiin produknya. Yang bahaya, kadang dia ngasi sign atas nama instansi atau oraganisasi terkait supaya keliatan lebih valid. Padahal gue yakin, itu semua nol besar.

Terakhir, waktu MUI ngeluarin fatwa haram terhadap beberapa hal yang dilakukan di internet, semua langsung menghujat MUI. Banyak dari netizen yang bilang MUI nambah-nambahin daftar hal-hal haram. Padahal gue yakin, yang namanya menggosip, memfitnah, menyebarkan kebohongan dan kebencian nggak pernah diperbolehkan oleh agama apapun, bahkan sebelum MUI ngeluarin fatwa.

MUI ngeluarin fatwa karena aktivitas di internet saat ini memang udah meresahkan. Padahal kalo netizen bisa ngegunain otak dan cerdas dalam menanggapi suatu hal di internet, MUI ga bakalan ngeluarin fatwa tersebut. Belum lagi yang nge-judge bahwa MUI ga punya ranah untuk ngeluarin fatwa seperti itu, MUI ga mikir dulu sebelum mengharamkan sesuatu, MUI melakukan konspirasi dan “dibeli”. Dude, what the heck? Apa jaman sekarang netizen udah lebih pinter daripada ulama hanya karena mereka punya internet?

Lucunya lagi, ada aja komentar yang nggak sesuai dengan apa yang dibicarain di artikel. Semisal, artikel fatwa MUI itu. Ada yang malah komen tentang suatu kasus pornografi, sampe pemilu gubernur yang viral beberapa waktu lalu. Gue pikir setelah MUI ngeluarin fatwa itu, netizen akan lebih sadar, ternyata tetep aja mereka menyebarkan kebencian dan mau-maunya mengadu domba diri sendiri dengan orang lain hanya karena beda pendapat.

Entah sampai kapan netizen akan bereaksi demikian terhadap apa yang mereka baca kunjungi. Gue berharap mereka dapat segera menjadi lebih sadar dan cerdas dalam berinternet. Bukan cuma dunia nyata yang butuh perdamaian, dunia maya juga.

Never let the fakes viral, yet the facts ignored. Make yourself smarter not fooler by using the internet.

Wassalamu’alaykum wr. wb.

  

Comments

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...