“Bismillahirrahmanirrahim Astagfirullahal’adzim, astagfirulahal’adzim, astagfirullahal’adzim Asyhadualla ilahaillallah wa asyhaduanna muhammadarasulullah Ananda Bima Wicaksana bin Bambang Wicaksana, saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya yang bernama Hafshah kepada engkau, dengan maskawinnya berupa emas 50 gram, tunai.” * * * Hari itu panas sedang terik, keringat bercucuran dari leher ke kerah kemeja. Jumlah AC di kelas tak sebanding dengan jumlah manusia yang memenuhinya. Aku berjalan menuju sebuah bangunan mirip saung di bawah pohon besar. Tak apa ke sini sebentar, dosen belum datang. Aku menggamit handphone dari saku kemeja, sebuah notifikasi pop up dari line muncul. 2 chat dari Rizki. ‘Bim, ntar sore ikut ke Joker Coffe nggak?’ ‘Lo kan belum pernah nyobain vape’ Ah, anak ini. Dari kejauhan seseorang berkerudung jingga berjalan menuju saung sambil membawa sesuatu. Wajahnya tidak asing. “Hafshah ya?”, tanyaku Ia mengangguk. Aku memang tak terlalu care ...
there is always something in your mind that you can't say, but you can write.