Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Book Review: Hai, Conchita! (Pembajak Cinta), Reborn by Marthino Andries

Saking lamanya nunggu kopaja ngetem sepulang sekolah, Conchita Velasquez—cewek blasteran cantik yang tomboi—nekat membajak bus putih hijau itu. Seorang pengamen jadi-jadian yang punya tampang imut tapi amit-amitpun berusaha menangin hati Chita. Di balik lagaknya yang cuek, dia peduli sama orang-orang di sekitarnya. Siapa sangka keonaran akibat ulah Chita bikin dia jadi selebriti ngetop? Hai, Conchita! adalah novel remaja best-seller yang terbit di tahun 2005. Kini, kisah Conchita si pembajak cinta yang populer pada zamannya telah dirombak dan hadir dalam versi yang lebih up-to-date. Begitulah kira-kira yang tertulis di sampul belakang novel ini. Saat saya membelinya, sebenarnya saya nggak begitu ngeh dengan details novel ini, cuma karena (lagi-lagi) desain sampulnya cakep aja! Hehehe, makanya saya beli. Novel ini bisa dibilang novel yang superduper ringan buat dibaca. Ceritanya yang berjalan mulus dan lancar seperti sirop marjan yang melewati kerongkongan saya saat buka pua...

This is not a tteokbokki recipe (but it could be a little bit spicy).

Saya belum tidur sejak semalam. Banyak sekali pertanyaan mampir di kepala saya. Namun, lebih banyak lagi refleksi tentang apa yang saya rasakan selama ini. Karena blog ini adalah brain dumps untuk saya, maka saya memutuskan untuk memuntahkan isi pikiran saya di sini saja. Baik, mari mulai dari satu hal saja dulu. Kamu percaya nggak kalo orang yang sedang memakai sepatu Balenciaga bisa saja kakinya kurapan? Atau ada boroknya? Tapi, siapa peduli. Toh, kenyataannya prestige Balenciaga bisa menutupi. Kurang lebih, itulah yang mungkin terjadi di banyak instansi di Indonesia. Contoh, ada instansi yang menggembar-gemborkan cuci tangan (apalagi di musim pandemi ini). Kenyataannya, di toilet instansi mereka, meski ada wastafel, tapi air keran lebih sering nggak nyala. Atau jika menyalapun, lebih sering lagi kita nggak bisa menemukan sabun cuci tangan di sana. Bahkan, ketika kita seberuntung itu menemukan wastafel dengan air keran menyala, serta sabun cuci tangan, tisu untuk mengeringkan tangan ...

Book Review: Buku Panduan Matematika Terapan by Triskaidekaman

Buku yang bertemakan matematika dan tebal; harusnya sudah cukup untuk menjadi kriteria eksklusi saat saya sedang memilih-milih novel yang akan saya beli satu tahun yang lalu. Namun, sayangnya, saya nggak bisa berbohong bahwa sampul buku ini memang ciamik. Lagipula, kalau bukan karena sampulnya, mungkin saya nggak akan memalingkan muka berkali-kali ke arah buku dan kategori rak buku yang saat itu, membuat saya berpikir, "ngapain buku matematika terapan ada di rak novel." Nggak hanya karena ada anak laki-laki menarik di sampul ini (yang belakangan, saya amini dia cukup mirip Park Sae-ro-yi di drama Itaewon Class, hahaha), tapi juga karena tulisan #1st winner UNNES International Novel Writing Contest 2017 tertera di sampul depannya. Belum lagi sinopsis tentang P-NP, berikut review singkat dari Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, Prof. Suminto A. Sayuti dan Faisal Oddang tercetak di sampul belakangnya. Bagaimana saya bisa menolak pada kenyataan bahwa fisik luar...

Book Review: a Cup of Tea by Gita Savitri Devi

Setelah menerbitkan "Rentang Kisah" 3 tahun yang lalu, saya ngga nyangka bahwa saya akan membaca tulisan Gita dalam sebuah buku lagi. Bisa dibilang saya rindu tak rindu dengan tulisannya, karena selama ini saya juga masih membaca tulisan Gita di blognya, "a Cup of Tea", persis seperti judul buku ini. Gita, sebagai tipikal seorang observer, selalu berhasil membuat saya kagum dengan pemikiran yang disampaikannya; baik melalui video maupun tulisan, seperti di buku ini. Di buku ini, saya menemukan Gita, perjalanan dan misi-misinya. Setiap BAB yang saya baca membuat saya merasakan pengalaman baru, lebih tepatnya seperti sedang mendengarkan seorang sahabat bercerita tentang "slice of life"-nya. Gita membawa saya pada masa remajanya, ketika pertama kali pergi ke Amerika untuk mengunjungi Ayahnya yang bekerja di sana, juga bercerita ketika ia, Ibu dan adiknya menginap di apartemen Chinatown, saat di Singapore karena lebih murah. Saat menjalani masa kul...