Buku yang bertemakan matematika dan tebal; harusnya sudah cukup untuk menjadi kriteria eksklusi saat saya sedang memilih-milih novel yang akan saya beli satu tahun yang lalu. Namun, sayangnya, saya nggak bisa berbohong bahwa sampul buku ini memang ciamik.
Lagipula, kalau bukan karena sampulnya, mungkin saya nggak akan memalingkan muka berkali-kali ke arah buku dan kategori rak buku yang saat itu, membuat saya berpikir, "ngapain buku matematika terapan ada di rak novel."
Nggak hanya karena ada anak laki-laki menarik di sampul ini (yang belakangan, saya amini dia cukup mirip Park Sae-ro-yi di drama Itaewon Class, hahaha), tapi juga karena tulisan #1st winner UNNES International Novel Writing Contest 2017 tertera di sampul depannya.
Belum lagi sinopsis tentang P-NP, berikut review singkat dari Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, Prof. Suminto A. Sayuti dan Faisal Oddang tercetak di sampul belakangnya.
Bagaimana saya bisa menolak pada kenyataan bahwa fisik luar buku inipun sudah membuat saya tertarik sejak pandangan pertama?
Saat itu, saya hanya nggak tahu saja bahwa saya akan pusing membaca sebundel filsafat, matematika, fisika dan kedokteran dalam sebuah novel.
Satu tahun yang lalu—nggak lama setelah saya membelinya—, saya sudah pernah membaca buku ini. Namun, saya hanya bertahan sampai halaman lima puluhan. Saat itu saya merasa sangat bosan. Mungkin karena saya sudah lama nggak membaca prosa (ya, novel ini menggunakan bahasa sastra yang tinggi menurut saya. Atau paling tidak, sebutlah, bahasa/kata-kata yang ngga lumrah didengar). Mungkin juga karena memang saya bukan penggila matematika, atau saya merasa lelah harus bolak-balik melihat apa arti heksagram I Ching pada BAB yang sedang saya baca.
Satu tahun, saya tinggalkan buku itu di rak. Hingga masa pandemi datang dan saya kehilangan akal untuk membunuh kebosanan di siang hari.
Saya mencoba membaca ulang dari halaman pertama. Awalnya, tentu saja bosan, karena saya sudah pernah baca sebelumnya dan masih cukup ingat ceritanya. Setelah melewati halaman terakhir yang saya baca setahun lalu, saya mulai menikmatinya. Lebih tepatnya menikmati kening saya berkerut berjam-jam di siang hari di saat-saat biasanya saya memilih untuk tidur siang.
Buku ini menceritakan tentang Mantisa dan Prima, setidaknya memang mereka berdualah yang paling banyak diceritakan di buku ini.
Dua orang yang namanya diambil dari kesepahaman dalam matematika.
Mantisa adalah anak Wuri yang dititipkan oleh pihak Rumah Sakit kepada Tari di Rumah Gardastari setelah ia lahir, karena Wuri meninggal sesaat setelah melahirkannya—tentu saja itu dilakukan karena tidak ada sanak saudara, kerabat, ataupun Ayah Mantisa yang bisa dihubungi oleh Rumah Sakit—. Mantisa kemudian dikenal oleh Tari sebagai si mulut panas (halaman 19) karena ia gemar bertanya yang menurut Tari itu sangat merepotkannya karena harus terus membual.
Prima sendiri adalah anak dari Sekar—yang awalnya saya kira diusir oleh suaminya setelah ia melahirkan—. Prima awalnya adalah gambaran seorang anak yang menjalani hidupnya seperti biasa hingga di usia lebih dari dua belas bulan, ia jatuh dari boks tempat tidurnya, lalu terkena cedera serius dan mengalami ketulian.
Waktu berjalan. Baik Mantisa maupun Prima bukan lagi bayi. Mantisa memiliki teman seorang kidal bernama Tarsa, sedangkan Prima mulai mahir berkomunikasi dengan Ibunya menggunakan bahasa jemari.
Ketika sudah waktunya, Mantisa masuk sekolah dan langsung terkenal karena terlalu berani untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan berani pada guru-gurunya.
Berbeda halnya dengan Prima yang ketika masuk sekolah harus menerima perundungan dari teman-temannya hanya karena ia “berbeda”. Hal itu pula yang akhirnya membawa Prima keluar dari sekolah. Ia dibawa Ibunya—Sekar—untuk belajar di perpustakaan setiap hari, karena Sekar bekerja di sana.
Mantisa yang selalu diliputi rasa ingin tahu yang besar, dan Prima yang selalu mencari jawaban, akhirnya bertemu di perpustakaan. Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama mengenal Tarsa, sama-sama menemukan buku atas pertanyaan diri mereka masing-masing hingga berlanjut pada titik tanya yang sebenarnya sama: Pertanyaan P-NP; serta pertemuan dengan hantu-hantu di mimpi mereka.
Saat membaca buku ini, saya berkali-kali bertanya, apakah ini novel di dalam tulisan ilmiah, atau tulisan ilmiah di dalam novel? Ya, walaupun saya tahu ini sebuah novel (pernah nggak sih kalian mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti? Seperti itulah kira-kira).
Bagi saya, pengalaman membaca "Buku Panduan Matematika Terapan" adalah sesuatu yang menarik. Triskaidekaman berhasil membuat saya menghighlight banyak kata-kata yang bagi saya terdengar asing: abakus, sejumantara, enigma, taksa, keriapan, semenjana, masai, mangkus, berkelindan, halimun, bidak, kalibut, duaja, kaunyana, kirmizi, dan lain-lain. Selain itu, di awal-awal saya cukup bingung, kapankah kiranya saya akan menemukan ledakan konflik di novel ini, karena saya merasa bahwa novel ini lebih fokus mengeksplorasi karakter pada tokoh secara detail.
Meski begitu, saya tetap merasakan letupan-letupan takjub setiap kali ada teori yang kebanyakan saya sudah lupa, tidak tahu, atau tidak pernah begitu peduli untuk tahu, tertulis sebagai foot note di novel ini. Hal tersebut kemudian menjadi fun fact tersendiri bagi saya.
Sudut pandang novel ini memakai sudut pandang penulis, serta kehidupan Mantisa dan Prima dibuat berselang-seling tiap BABnya, bahkan hingga akhir. Di awal saya cukup tidak nyaman, tapi seiring waktu saya jadi terbiasa.
Bagi saya, ledakan keterkejutan baru saya rasakan di akhir-akhir cerita. Tentang siapa Prima, tentang jawaban Sekar saat akan meninggal, tokoh-tokoh transeden, komanya Mantisa, keberhasilan Prima dalam memecahkan persoalan P-NP dengan pendekatan Teori Relativitas dan Hukum Dinamika, hingga lahirnya—dan meninggalnya—anak mereka; juga Mantisa.
Yang saya kurang paham di buku ini hanya latar waktu yang terasa melompat-lompat. Suatu waktu, Mantisa dan Prima baru masuk sekolah dasar, lalu tak lama ternyata mereka sudah umur belasan, tak lama pula, mereka sudah berumur lima puluh tahun.
Untuk saya, buku ini tidak terasa familiar, tapi tulisan yang berbedalah yang membuat buku ini jadi menarik dan layak dipertimbangkan untuk dibaca serta menjadi referensi baru bagi otak saya.
Mungkin jika ada kesempatan, buku ini masuk ke dalam daftar buku yang akan saya baca kedua atau ketiga kalinya untuk lebih mengilhami isinya.
Judul buku: Buku Panduan Matematika Terapan
Penulis: Triskaidekaman
Kategori: Novel/Sastra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018, cetakan kedua
359 halaman.
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment