Skip to main content

This is not a tteokbokki recipe (but it could be a little bit spicy).

Saya belum tidur sejak semalam. Banyak sekali pertanyaan mampir di kepala saya. Namun, lebih banyak lagi refleksi tentang apa yang saya rasakan selama ini.

Karena blog ini adalah brain dumps untuk saya, maka saya memutuskan untuk memuntahkan isi pikiran saya di sini saja.
Baik, mari mulai dari satu hal saja dulu.

Kamu percaya nggak kalo orang yang sedang memakai sepatu Balenciaga bisa saja kakinya kurapan? Atau ada boroknya?
Tapi, siapa peduli. Toh, kenyataannya prestige Balenciaga bisa menutupi.

Kurang lebih, itulah yang mungkin terjadi di banyak instansi di Indonesia.
Contoh, ada instansi yang menggembar-gemborkan cuci tangan (apalagi di musim pandemi ini).
Kenyataannya, di toilet instansi mereka, meski ada wastafel, tapi air keran lebih sering nggak nyala.
Atau jika menyalapun, lebih sering lagi kita nggak bisa menemukan sabun cuci tangan di sana.
Bahkan, ketika kita seberuntung itu menemukan wastafel dengan air keran menyala, serta sabun cuci tangan, tisu untuk mengeringkan tangan selalu absen dari penglihatan.

Bukan hanya di toiletnya, mungkin juga di tempat-tempat krusial seperti kantin, hal itu bisa terjadi.
Tempat yang harusnya butuh wastafel cuci tangan, berikut keran air bersih yang bisa menyala, sabun cuci tangan dan tisu, tapi tidak pernah ada.

Mengkampanyekan sesuatu ternyata lebih gampang. Lagipula, prestigenya di masyarakat lebih bagus. Jangakauannya lebih banyak, tidak sebatas populasi di dalam instansinya saja.
Seperti halnya contoh di atas, menyuarakan kebiasaan cuci tangan tampaknya lebih mudah daripada menyediakan fasilitas cuci tangan yang memadai.
Perlu diingat bahwa kampanye hampir hanya perlu modal suara, sedangkan memfasilitasi perlu modal dana. Ya, walaupun kampanye pake dana juga, sih.

Beberapa punya keresahan yang sama, tapi lebih banyak memilih untuk diam. Karena, jika bersuara dengan ketidaknyamanan ini, kamu bisa dianggap pembangkang, tidak tahu malu, tidak tahu diri, dan tidak tahu berterima kasih. Begitulah kira-kira.

Ya, memang rupanya lebih mudah menutupi borok dengan Balenciaga daripada mengobatinya.
Lagian, siapa tahu boroknya bisa jadi borok hypebeast? ;)


Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...