Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Doi

Assalamu’alaykum wr wb! Ketemu lagi di kolleg-see~ Kali ini gue mau nulis tentang doi. Karena gue ga punya (dan ga pernah punya doi beneran), jadi anggap aja doi yang dimaksud di sini adalah sahabat-sahabat gue. Sebenernya tulisan ginian jamannya tahun 2011-an di blog, tapi karena gue dulu nggak nge-blog, gue nulisnya sekarang aja. Dulu gue bukan orang yang benar-benar punya sahabat dalam komitmen khusus. Maksudnya, kadang gue akrab, kadang juga engga. Pas baikan gue cerita ke dia, pas berantem dia nyeritain aib gue ke orang lain. Gitu. Sampe akhirnya, waktu itu bulan desember 2011, gue mulai punya sahabat. Oke, kita mulai! Alifa Zakiyya. Gue mulai akrab sama anak ini di tahun 2011, bulan desember. Waktu itu lagi classmeeting dan gue duduk ngambar sendirian di samping kelas 9b. Tiba-tiba dia dateng dan SKSD. Gue ga terlalu kenal dia, yang gue tau cuma dia anak 9d yang lumayan terkenal di sekolah, dia juga anak geng cewek gaul gitu. Gue lupa deh namanya. Gue inget bange...

Hafshah

“Bismillahirrahmanirrahim Astagfirullahal’adzim, astagfirulahal’adzim, astagfirullahal’adzim Asyhadualla ilahaillallah wa asyhaduanna muhammadarasulullah Ananda Bima Wicaksana bin Bambang Wicaksana, saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya yang bernama Hafshah kepada engkau, dengan maskawinnya berupa emas 50 gram, tunai.” * * * Hari itu panas sedang terik, keringat bercucuran dari leher ke kerah kemeja. Jumlah AC di kelas tak sebanding dengan jumlah manusia yang memenuhinya. Aku berjalan menuju sebuah bangunan mirip saung di bawah pohon besar. Tak apa ke sini sebentar, dosen belum datang. Aku menggamit handphone dari saku kemeja, sebuah notifikasi pop up dari line muncul. 2 chat dari Rizki. ‘Bim, ntar sore ikut ke Joker Coffe nggak?’ ‘Lo kan belum pernah nyobain vape’ Ah, anak ini. Dari kejauhan seseorang berkerudung jingga berjalan menuju saung sambil membawa sesuatu. Wajahnya tidak asing. “Hafshah ya?”, tanyaku Ia mengangguk. Aku memang tak terlalu care ...

Tentang Broadcast

Apakah kita pernah memikirkan tentang apa yang kita share? Assalamu’alaykum wr wb. “ MOHON DOA Khabar dari Ust Nazer (Thoha Travel) bersama Jemaahnya di Medina 3 jam yang lalu Melalui FB nya Salam untuk semua kaum muslim. Palestine dikepung oleh pasukan Israel. Israel melakukan serangan darat ke Gaza (spt juga diberitakan RCTI pkl 16.00).. Pemimpin Hizbullah, Syed Hasan Nasrallah minta semua muslim utk dg ikhlas membaca surah al-Baqarah 26-27 dan surah Yunus ayat 85,86,88 malam ini... Tolong sebarkan forward kpd seluruh umat Islam.. bhw saudara seagama telah dikepung & keadaan amat dahsyat. Itu Saja JIHAD kita.... minta tolong dgn sangat kpd sahabat2 sebarkan seluas mungkin....Labbaika Allahuma Labbaika .. minta tolong dgn sangat kpd sahabat2 sebarkan seluas mungkin...maaf untuk yg non muslim Indonesia Yahudi akan menyerang darat mlm ini  Kasihan saudara kita umat Islam, kita berdoa utk keselamatan atas rencana Israel utk menyerang dlm masa 24...

How does netizen react an article?

Ketimbang mikirin bener-bener isi artikelnya, mereka lebih suka nyablak di kolom komentar. Assalamu’alaykum wr. wb. Beberapa waktu belakangan ini, berita hoax dan plagiarisme suatu artikel di internet lagi hangat-hangatnya diperbincangin, terlebih ketika pemerintah ngeluarin kebijakannya mengenai penyebaran hoax di internet. Sebelumnya, artikel-artikel tersebut memang gembar-gembor di- share di linimasa, dari yang posting -an facebook , broadcast -an whatsapp , sampe berita-berita publish -an blogspot . Kalo gue balik ke tahun 2010 ke bawah, ketika gue baru punya media sosial dan lumayan rajin nge- net , orang-orang –baik itu temen gue atau bukan– rasanya belum terlalu concern untuk memercayai berita di internet. Mereka lebih percaya ketika dikasi berita lewat media televisi, radio, ataupun surat kabar yang kayaknya adalah media paling valid untuk disiarkan ataupun diterbitkan. Jadi, apa yang membuat orang-orang sekarang lebih suka berita di internet ketimbang sur...