Skip to main content

Hafshah

“Bismillahirrahmanirrahim
Astagfirullahal’adzim, astagfirulahal’adzim, astagfirullahal’adzim
Asyhadualla ilahaillallah wa asyhaduanna muhammadarasulullah
Ananda Bima Wicaksana bin Bambang Wicaksana, saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya yang bernama Hafshah kepada engkau, dengan maskawinnya berupa emas 50 gram, tunai.”
* * *
Hari itu panas sedang terik, keringat bercucuran dari leher ke kerah kemeja. Jumlah AC di kelas tak sebanding dengan jumlah manusia yang memenuhinya. Aku berjalan menuju sebuah bangunan mirip saung di bawah pohon besar. Tak apa ke sini sebentar, dosen belum datang.

Aku menggamit handphone dari saku kemeja, sebuah notifikasi pop up dari line muncul. 2 chat dari Rizki.
‘Bim, ntar sore ikut ke Joker Coffe nggak?’
‘Lo kan belum pernah nyobain vape’
Ah, anak ini.

Dari kejauhan seseorang berkerudung jingga berjalan menuju saung sambil membawa sesuatu. Wajahnya tidak asing.
“Hafshah ya?”, tanyaku
Ia mengangguk. Aku memang tak terlalu care dengan teman sekelasku. Ingat Hafshah pun karena kemarin sekelompok.
“Tumben lo?” tanyaku lagi
“Gapapa”, ia tersenyum.
“Mau makan siang ya? Makan aja, gue udah” mataku melirik kotak bekalnya
“Oh ini, untuk kamu. Pudding mangga”
“Hahaha lah buat gue?”. Ia tak menjawab, hanya melihat sebentar.
Aku membuka kotak bekal itu. Waktu sekelompok kemarin aku memang pernah bilang kalo aku suka pudding mangga di toko dessert Ibunya.
“Makasih ya!”. Ia hanya mengangguk.
“Bim, cerita dong.” Ia menatap sebentar lalu membuang pandang lagi.
“Hah? Cerita apaan? Hahaha”
“Cerita apa aja...”
“Kenapa emangnya?”
“Aku suka denger kamu cerita.”
* * *
Aku mengetik pesan di kolom chat line kepada Rizki.
‘Gue ke sana bentar aja, nyokap minta anter check up
Read.
Tak berapa lama line dari Rizki masuk. Sepertinya anak ini penghuni line 7x24 jam.
‘Oh, okelah’
Aku menaruh handphone di meja kamar, lalu merebahkan diri.
“Oh iya, pudding mangga”. Aku merogoh sebuah tempat bekal dari dalam tas, di dalam tempat bekal itu masih ada sisa pudding.
“Hmmm, harus balikin tempat bekalnya ya berarti...”
Entah kenapa aku refleks tersenyum sambil mengunyah sisa pudding itu.
“Enak..”
“Ini ibunya atau dia ya yang bikin?”
* * *
“Coba dong vapenya!”
“Nggak sih gue”
“Yailah, ini lebih asik daripada ngerokok doang! Nih!”
Aku menahan tangan Rizki yang sedang menyodorkan, “Nggak, Ki. Makasih ya.”
Kopi sepertiga cangkir di depanku kuteguk habis.
“Duluan ya!” Aku menepuk bahu Rizki dan melambaikan tangan kepada teman-teman yang lain.
2 tahun yang lalu aku pertama kali mulai merokok. Berawal dari iseng-iseng karena melihat teman, sampai sekarang aku jadi terbiasa. Kadang ada rasa menyesal, tapi penyesalan iu hilang seketika rokok menyala lagi.
* * *
“Ma, abis check up mau kemana?”
“Ke supermarket aja ya, adek nitip stick sama perintilannya buat prakarya. Sekalian beli barang-barang dapur yang udah habis.”
“Oke.” Aku mengerem mobil perlahan, lampu merah masih 50 detik lagi.
“Bima..”
“Iya, ma?”
“Kamu masih sering batuk-batuk nggak?”
“Kadang sih, ma. Kenapa?”
“Kurangin ngerokoknya, kemaren temen mama yang dokter cerita, dia banyak dapat pasien PPOK* yang riwayat perokok berat.”
“Iya, ma. Aku nggak apa-apa kok insya Allah.”
Lampu lalu lintas kembali hijau.

(*PPOK: Penyakit Paru Obstruktif Kronis, memiliki gejala khas seperti batuk dalam waktu lama dan sering terjadi, biasanya dialami oleh perokok berat)
* * *
Hari ini, seperti hari-hari biasanya. 15 menit sebelum jam kuliah mulai, anak-anak kelas belum banyak yang datang. Aku menaruh tas di bangku tengah. Kulihat tas coklat dengan gantungan kunci besar huruf H di sayap kiri kelas.
“Eh, kayak tasnya si Hafshah.” Aku melihat ke sekeliling kelas. “Orangnya nggak ada...”

Aku keluar kelas, sebelum dosen masuk, memang paling nyaman duduk-duduk di saung kampus.
Di tengah perjalanan, aku melihat seseorang berkerudung hitam sedang duduk di saung.
“Hafshah, kan?” tanyaku.
Ia sedikit tertawa. “Kamu lupa?”
“Engga, cuma mastiin aja. Gue duduk di sini ya!”
“Iya, duduk aja.”
“Oh iya, tempat bekalnya... Gue lupa bawa. Maaf ya.”
‘Iya, nggak apa-apa kok.”
“Gue anter ke rumah aja kali ya, rumah lo satu komplek sama rumah Andina kan? Kebetulan gue mau ke sana negoin sewa sound system buat acara HMJ minggu depan.”
Ia melihat ke arahku. “Iya, deket situ. Terserah kamu aja.”
“Hhhhh, oke” aku menghela.
“Bima..” Aku melihat ke arahnya
“Kamu ngerokok ya?”
“Kenapa?”
“Kecium baunya, maaf.”
“Eh, gitu ya? Duh gue dong yang minta maaf. Sorry ya, lupa makan permen penyegar tadi.”
Hafshah mengangguk.
“Kenapa kamu ngerokok?”. Aku hanya menggaruk kepala.
“Hmmm....” ia menghela.
“Allah menciptakan tulang rusuk buat kita, gratis....”katanya
Aku melihat ke arahnya, menanti kalimat selanjutnya.
“Dan tulang rusuk itu menjaga paru-paru kita.” Sambil menunjuk pada dada kiri dan kanannya sendiri, seolah menunjuk paru-paru di dalam sana.
“Tapi kita seringkali khilaf dan merusak paru-paru kita sendiri... Bahkan untuk merusaknya pun kita harus mengeluarkan uang” Ia melihat ke arahku, lalu tersenyum.
Aku menggaruk kepala. “Iya, sih.” Kataku.
Ia tersenyum lagi, kali ini menampakkan deretan gigi-gigi mungilnya.
“Semoga suatu hari nanti kamu dipertemukan dengan tulang rusukmu, yang bisa ngejaga dan memperhatikan kamu..” ia beranjak, lalu berjalan ke arah kelas.
Aku termenung. Tak ada apa-apa di pikiranku. Kosong.
* * *
“Ma, Bima pergi rapat dulu ya! Assalamu’alaykum!”
“Iya, wa’alaykumsalam”
“Bima, tunggu! Ini tempat bekalnya siapa ya? Mama nemu di meja kamar kamu kemaren. Udah mama cuci”
“Oh iya! Untung mama ingetin. Makasih ya ma. Pergi dulu!” aku mencium tangan mama dan melaju menuju rumah Andina.
* * *
“Gimana din? Bokap lo bisa kasi potongan sewa nggak?”
“Bisa, sih. Tapi nggak banyak nih.”
“Usahain lagi dong. Bisa lah, kita kan sama-sama HPDD”
“Udah mentok segini aja, Bim. Di luar mana dapet segini.”
Aku menggaruk kepala. “Iyadeh, kalo deal segini, gue masukin ke anggaran ya pas rapat entar.” Andina mengacungkan jempolnya.
“Btw, rumah si Hafshah yang mana ya? Lupa gue.”
“Hafshah? Dua rumah dari sini ada belokan kan? Nah itu blok D, rumah nomer 4D warna cat putih.”
“Okedeh, makasih ya!”
* * *
“Assalamu’alaykum!” tak ada respon. Aku mengguncang pelan pagar hitam rumah 4D.
“Assalamu’alaykum!”
“Wa’alaykumsalam. Iya, sebentar!” terdengar balasan dari dalam rumah. Suara Hafshah.
“Oh, Bima.” Katanya sambil membuka pagar.
“Iya, nih. Gue mau balikin tempat bekal. Makasih ya!” aku menyodorkan tempat bekal.
“Iya, sama-sama.” Aku bergerak akan beranjak pergi. “Oh iya, tunggu, Bim.” Ia masuk kembali ke dalam rumah lalu keluar membawa sesuatu.
“Ini buat kamu. Nggak perlu dibalikin. Setiap kali kamu kepengen ngerokok, baca deh.”
“Apa nih?” aku mengintip pada goodie bag yang ia berikan.
“Surat cinta, hahaha.”
“Ha? Hahaha” aku tertawa heran. “Iyadeh, sekali lagi makasih ya!”
Aku pamit.
* * *
1 tahun kemudian....
Satu-persatu anak-anak kelas lulus wisuda. Sementara aku, masih sibuk dengan skripsiku. Untungnya besok sidang. Perasaanku sudah grogi sejak saat ini. Mama juga membantu persiapan untuk sidang. Aku menuju taman di belakang rumah.
Aku mengambil rokok di meja dan menyulutnya dengan api. Mungkin bisa membuatku lebih tenang.

Belum sempat aku menghisap rokok itu, adikku datang membawa sesuatu di piring.
“Nih gue bikin pudding mangga. Daripada ngerokok, nggak ada faedah.” Katanya menatap agak sinis.
Aku mematikan rokok. Pudding mangga tetap favorit pertama.

Entah kenapa, tiba-tiba aku terkejut. Teringat sesuatu.
Sesuatu yang diberikan Hafshah setahun yang lalu!
Hari itu hectic sekali, terutama karena itu kepanitiaan terakhirku, hingga aku lupa dengan pemberian Hafshah. Aku menuju ke kamar, mencari-cari lagi di lemari. Dapat.
“Alquran?”
Aku membuka-buka mushaf terjemahan itu, lalu berhenti pada salah satu lembar.
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?’ Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya...”
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Ar-Ra’d: 27-28)

Aku melihat pada saku celanaku. Di sana ada sebungkus rokok. 3 bulan yang lalu aku batuk-batuk dalam waktu yang lama, dan baru seminggu lalu batukku reda hingga bisa mengambil jadwal sidang besok. Dokter bilang semua gejala dan pemeriksaan fisik menunjukkan diagnosis PPOK. Aku menolak melakukan pemeriksaan penunjang, karena kalau mama tau, ia akan mati-matian menyuruhku berhenti merokok.

Apakah benar rokok yang selama ini menenangkanku?
Apakah selama ini aku tak peka bahwa Pencipataku telah memberikan penenang yang sangat sempurna?
* * *
Sidang telah selesai, Dosen-dosen pembimbing dan penguji sepakat meluluskanku dengan nilai yang cukup memuaskan, serta setumpuk revisi.
“Asik nih yang udah lulus!” Rizki menepuk pundakku. Aku tertawa, “Alhamdulillah”
“Ngerokok yuk, ke tempat Pak De, biasa!” aku menggeleng. “Gue duluan ya, lagi ada urusan hahaha. Btw, kurangin ngerokoknya! Dah!” kataku sambil melambai dan berjalan ke arah parkiran.

Di dalam mobil aku membuka mushaf yang diberikan Hafshah, semalaman kemarin aku membolak-balik lembarannya, membiasakan diri untuk membacanya. Ada rasa tentram yang tak tergambarkan.
Aku membuka sebuah surah, yang tadi subuh murrotalnya kudengarkan melalui handphone. Ar-Rahman. Aku juga ingin tau artinya.
Aku bergeming. Setiap ayatnya menceritakan keajaiban yang jelas, yang selama ini aku percayai dari buku-buku. Semua telah disampaikan-Nya sejak masa lampau di Alquran. Setiap kemurahan-Nya membuatku merinding, terutama pada bagian ayat yang diulang berkali-kali itu. ‘Fabiayyi alai rabbikuma tukathiban’, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Satu-persatu ayat kuilhami. Hingga dilembar terakhir, ada sebuah sticknote berwarna biru tertempel di situ.
“Setelah sekian banyak nikmat yang Allah berikan, maka jagalah setiap nikmat itu dengan syukur yang sesungguhnya.”
Hafshah.
Hafshah.
Hafshah.
Dimana dia? Si pudding mangga.
* * *
“Dia udah wisuda 6 bulan lalu, Bim. Lupa lo kronis banget” kata Andina.
* * *
1 tahun kemudian....
Mama, Papa dan Adek udah siap. Rasanya grogi sekali. Kubuka mushaf sebelum keluar kamar, kubaca-baca lagi Ar-Rahman. 2 bulan lalu aku mendapatkan kontak whatsapp Hafshah. Aku memberanikan diri untuk langsung melamarnya, lalu ia menyuruhku datang ke rumah untuk bertemu orang tuanya.
* * *
“Apa dasar nak Bima ingin melamar anak saya?” tanya Ayahnya
“Ar-Rahman.”
“Dan ialah tulang rusuk yang ingin saya jaga dan syukuri keberadaannya di hari-hari saya”
* * *
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hafshah binti Adji Widjaja dengan maskawinnya yang tersebut tunai.”
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah”
Alhamdulillah. Hafshah menyalami suaminya, yang beberapa tahun lalu megobrol dengannya di saung kampus. Malaikat-malaikat menyertai akad mereka, menjadi saksi suci bagi kedua insan yang dipersatukan Allah.
* * *
Malam itu malam pertama Bima dan Hafshah, mereka sibuk bercerita.
“Dulu kamu duluan kan yang deketin aku?” kata Bima
“Hmm? Engga!”
“Loh kok lupa! Kamu waktu itu kan ngasi pudding mangga..”
“Oh itu.. Hari itu aku puasa, tapi pas sahur aku bikin pudding mangga buat orang rumah. Eh, ternyata paginya Ibuku masukin pudding ke tempat bekalku dan naroh di tasku.”
“Lalu?”
“Lalu waktu itu aku ke saung, niatnya mau ngasi pudding itu ke siapa aja di saung. Biasanya kan ada Mbak Sri di sana.”
“OG kampus kita ya?”
“Iya.”
“Bener apa engga nih?”
“Ya bener lah! Udah, udah, lanjutin muroja’ah yang tadi. Hahahah.”
“Hahaha iya, iya”
“Ar-rahman, Allamalquran, Khalaqal insan........”
Tamat.

Hafshah adalah nama istri Rasulullah SAW, putri dari sahabat yang dicintai Rasululah, Umar ibn Khaththab. Hafshah binti Umar ibn Khaththab, putri Zainab binti Mazh'un merupakan penghafal al-Qur'an al-Karim, yang sepeninggal Rasulullah SAW ke rahmatullah dipercaya untuk mengumpulkan, menyimpan dan menjaga mushaf yang mulia dari para sahabat.
Ia adalah sayyidah yang mulia, cantik dan bertakwa, ahli ibadah, puasa dan qiyammullail. Ialah yang dikatakan Jibril a.s. sebagai istri Rasulullah SAW di surga kelak.
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Hafshah binti Umar ibn Khaththab.
* * *

Cerita ini terlahir dari perasaan yang baru saja tumbuh. Eaaak.
Pontianak, 17 September 2017
Irmaningsih

Terimakasih, Kak Rahmaniar yang sudah mensponsori tethering hingga cerita ini bisa dipublish ke Blog saya. Wkwkwk.




Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...