Skip to main content

Book Review: Hai, Conchita! (Pembajak Cinta), Reborn by Marthino Andries


Saking lamanya nunggu kopaja ngetem sepulang sekolah, Conchita Velasquez—cewek blasteran cantik yang tomboi—nekat membajak bus putih hijau itu.
Seorang pengamen jadi-jadian yang punya tampang imut tapi amit-amitpun berusaha menangin hati Chita.
Di balik lagaknya yang cuek, dia peduli sama orang-orang di sekitarnya. Siapa sangka keonaran akibat ulah Chita bikin dia jadi selebriti ngetop?

Hai, Conchita! adalah novel remaja best-seller yang terbit di tahun 2005. Kini, kisah Conchita si pembajak cinta yang populer pada zamannya telah dirombak dan hadir dalam versi yang lebih up-to-date.

Begitulah kira-kira yang tertulis di sampul belakang novel ini. Saat saya membelinya, sebenarnya saya nggak begitu ngeh dengan details novel ini, cuma karena (lagi-lagi) desain sampulnya cakep aja! Hehehe, makanya saya beli.

Novel ini bisa dibilang novel yang superduper ringan buat dibaca. Ceritanya yang berjalan mulus dan lancar seperti sirop marjan yang melewati kerongkongan saya saat buka puasa, bikin saya nagih dan nagih untuk segera menyelesaikan novel ini. Nggak heran, ga sampe 2 jam saya sudah meyelesaikan novel 115 halaman ini.

Menurut saya sih, ceritanya yang mudah dicerna membuat novel ini menjadi tipikal novel remaja banget. No wonder, novel ini best-seller di tahun 2005 lalu.

Tema novel ini... sudah pasti cinta (namanya juga Conchita si pembajak cinta), dan ada tema keluarga juga sih.
Ceritanya dikemas dalam komedi yang punya banyolan khas tahun 2000-an gitu loh! Hahaha.
Saya jadi teringat salah satu novel yang saya baca 11 tahun lalu. Kalo dingat-ingat... jayus juga. Tapi dulu saya baca banyolan kayak, "namanya Britney Hutagalung, inisial panggilan BH" aja langsung bikin saya tertawa terpingkal-pingkal sampe berapa hari.
Nah, di novel ini tuh persis. Banyolan-banyolan yang waktu remaja berhasil bikin saya tertawa jungkir balik dihadirkan dalam novel ini (walaupun sekarang saya nggak sampe tertawa jungkir balik!). Saya jadi ngerasa nostalgia pas baca novel ini. Beberapa istilah yang udah jarang saya dengar, saya temukan juga: koit, JOJOBA (Jomblo-jomblo Bahagia), Trims, dan lain-lain.
Karena novel ini reborn dari versi tahun 2005, maka novel ini mengalami adaptasi cerita dan kondisi (saya jadi penasaran pengen baca edisi tahun 2005-nya, hehehe).


Temanya yang ringan udah, ceritanya yang mengalir udah, banyolannya yang jayus tapi bikin nostalgia udah. Hanya saja, baca novel ini rasanya terlalu singkat. Eksplorasi tokoh kebanyakan (kayaknya semua) digambarkan dari sudut pandang atau keterangan dari penulis, barulah setelah itu langsung ke percakapan-percakapan tokoh. This is more like short story, maybe. Cerpen 115 halaman, hahaha.
Kalo ditayangin di TV, mungkin ini bakal jadi satu episode FTV atau sitkom.

Yah, kurang lebih gitu deh kesan saya setelah baca novel ini. Saya enjoy bacanya, ini enak banget jadi selingan setelah kita baca buku yang lumayan berat.

Thank you Om Marthino Andries (yang saya panggil Om walaupun nggak nikah sama Tante saya) karena sudah me-reborn novel ini :)

Judul buku: Hai, Conchita! (Pembajak Cinta), Reborn
Penulis: Marthino Andries
Kategori buku: Novel
Penerbit: Penerbit Bhuana Sastra (Imprint dari Penerbit BIP)
Tahun terbit: 2018

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...