Skip to main content

Toxic Friend

One of them is the one who says, "that's because of me you're reaching it."

Banyak banget kriteria temen yang toksik. Tapi kali ini gue mau bahas satu, yaitu: temen "penyemangat" yang toksik.

Support, meskipun kita udah punya support dari keluarga, atau pacar, kita tetep butuh support dari temen. Terutama kalo emang temenlah orang-orang yang tiap hari kita temui dan paling deket sama kita, sementara keluarga lagi jauh.

Tentu, sebagai seseorang yang sudah disupport dan diberikan bantuan, kita perlu berterimakasih dan menghargai support dan bantuan yang mereka berikan. Tapi bukan berarti selama proses menggapai sesuatu itu lo sendiri ga punya effort kan? Hal pertama yang harus lo pahami adalah, lo harus berterimakasih juga sama diri lo sendiri.

Tapi, kadang ada aja temen, so called "toxic friend" yang kayaknya pengen eksistensi dan atensi lebih dalam pergaulan. Salah satunya adalah mereka yang bakalan bilang, "yah siapa dulu yang ngajarin lo fotografi sampe sejago ini!" pas lo dapet ucapan selamat dan pujian ketika lo menang lomba fotografi nasional.
Temen-temen tongkrongan bakal langsung mikir, 'oh jadi si Udin bisa sejago ini fotografinya karena diajarin sama Ceking'

Atau "wedew, udah jadi youtuber sebesar ini dong temen yang dulu gue pinjemin kamera buat bikin konten." ketika lo sekarang punya satu juta subscribers.
Dan temen tongkrongan lo bakal mikir, 'gila baik banget si Junet minjemin kameranya dari awal Galih bikin konten'

Padahal saat ada orang yang melemparkan pujian, maka saat itu yang sedang dibicarakan adalah orang yang mendapatkan pujian. Tahan-tahan diri lah untuk memuji diri sendiri dan pengen banget jadi topik pembicaraan.

Atau lo punya pengalaman yang lain?
"Ga sia-sia gue ajarin lo bela diri, bro"
"Karena belajar bareng gue dong makanya nilai lo bisa tinggi."
"Pas banget emang gue rekomendasiin lo ke presiden BEM kita."

Kata-kata yang biasanya akan meluncur dari mulut temen toksik itu bukan hanya di depan kita aja, tapi juga di depan temen-temen kita yang lain. Tentu saja, karena mereka butuh atensi dan eksistensi.

Apa sih yang mereka harapkan? Of course: PUJIAN DARI ORANG LAIN JUGA

"Mantep bro"
"Wah, Met. Lo harus berterimakasih banget sih sama si Parjo yang udah ngajarin lo"
"Emang supporter terbaik sih lo."

Gaessss, gaes, padahal gaes, tanpa dimintapun, sebagai teman yang tau diri, lo pasti SANGAT berterimakasih lah sama dia. Tapi apa perlu dia bahas itu di tongkrongan? Bahkan di tiap tongkrongan? Shame on them.

Gue harap, temen toksik kayak gini bukanlah gue, dan bukan lo juga yang lagi baca.
Karena apa? Kalo kita kek gitu, kita tuh seolah-olah udah menjatuhkan value orang di depan orang lain tau nggak.
Misal,
"Karena belajar bareng gue dong makanya nilai lo bisa tinggi."
Orang-orang yang denger itu bakal mikir tanpa belajar sama "si gue", nilai lo ga bakalan tinggi.
Padahal dibalik itu semua, lo juga punya proses dan effort. Dari nyempetin baca di waktu sempit, bangun tengah malam buat belajar, sharing sama temen lain, bikin catatan, latihan ujian, skip makan saking pas lagi konsennya belajar, dan lain-lain.

Atau,
"Pas banget emang gue rekomendasiin lo ke presiden BEM kita."
Padahal sebelum itu, lo emang rajin panitiaan, dedikasi lo ke organisasi tinggi, time management lo bagus, dan kriteria-kriteria pendukung lainnya yang menjadikan lo orang yang pantas, sehingga lo bisa masuk BEM.

Sekali lagi, percayalah. Kalo emang lo temen yang bener-bener 'supporter', temen lo bakal bilang dengan sendirinya: "ah iya, kalo bukan karena dia rekomendasiin gue ke presBEM, gue ga bakalan yakin juga taun ini maju ke BEM."

"Wehhh, ya alhamdulillah ga nyangka banget cuy bisa menang di event fotografi nasional, kalo nggak karena si Ceking ini, mana kenal gue sama fotografi haha. Thanks ya, King!"

Inget, setiap hal yang lo capai, di dalamnya ada banyak unsur: doa, support, bantuan orang lain, usaha lo, proses jatuh bangun, depressed, achievements kecil, burnouts, materi, waktu.
Dan itu semua yang membuat lo memiliki value.
Dari setiap part unsur-unsur itu, harus lo syukuri, tapi bukan berarti karena satu part merasa superior, part lain jadi hilang dan value lo juga jadi ga ada di depan orang lain.

Ya, semoga aja kita bukan temen toksik macam di atas, dan dijauhkan dari temen toksik yang kayak gitu juga. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...