Skip to main content

Lunch and Chitchat

Makan siang tadi, aku diajak makan bareng sama seseorang. Adek kelas cewe.

Kita makan siang di kantin kampus, kebetulan semua angkatan udah selesai ujian dan pada liburan, sisa anak-anak modul FCP doang yang masih ada kuliah, jadi jalanan kampus sepi banget. Selama jalan ke kantin, kami ngobrol. Dari ngobrolin jadwal kuliah, modul, jadwal IGD, sampe suatu isu yang sensitif banget di angkatanku dan angkatan dia.

Selama ini isu yang aku dengar adalah pihak A yang salah karena mengeluarkan sesuatu ngga sesuai. Ternyata adek kelasku yang ini punya pandangan yang berbeda.
Dia nyeritain kronologis kenapa banyak pihak B yang gagal. Terus ada dua hal yang aku 'ah iya' banget. Kata-kata adek ini bener.
Dia bilang,
“Sebenernya mereka bisa, Kak. Aku yakin mereka bisa. Tapi karena males 3 hari-1 minggu doang akhirnya mereka harus mundur selama satu tahun.”

“Ga ada yang bisa disalahin, sih, Kak. Ga bisa nyalahin pihak A juga. Ya, tapi emang udah sifat manusia itu nyari kesalahan orang lain supaya dia ngga merasa bersalah.”


Seketika aku ngerasa malu banget, karena jujur aja aku sering banget males-malesan. Kata-kata dari adek kelasku kali ini bener-bener kayak nepuk keras pundakku, “Inget, di sini ada amanah”


Makasih banyak, Adek Kelasku. Mungkin kamu ga baca ini, but I'm so thankful I heard this from you :)

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...