Skip to main content

Book Review: #deartomorrow: Notes to My Future Self by Maudy Ayunda


“Kok kayaknya gue yang sekarang beda ya dari gue yang dulu?”

Pernah ga sih lo bertanya hal itu ke diri lo?
‘Dulu gue orangnya aktif banget di sekolah, pede kalo ke mana-mana. Tapi kok sekarang gue pasif ya?’
Atau,
‘Dulu kayaknya gue pendiem, tapi sekarang bawel juga’
Atau bahkan hal-hal lain yang berubah banyak di hidup lo.
Terus pertanyaan selanjutnyapun datang, “Jadi gue yang sebenernya tuh yang mana?”

Gue juga sering bertanya-tanya tentang hal itu. Gue siapa? Gue tuh orangnya gimana? Kalo orang nanya gue, gue bakal jawab apa?
Cukup lama gue bertanya-tanya, but still, it ends to endless questions sampe akhirnya gue nemu buku ini: Dear Tomorrow.

Di usia 20-an ke atas ini, memasuki usia-usia quarter-life crisis, I have so many curiosity about life, about being a human-being among others, especially about me; myself.
Rasa kebingungan ini ga jarang membawa gue ke kegalauan yang gue sendiri ga tau solusinya. Bahkan seringkali berujung pada insecurity. #justathruth

Awalnya gue beli buku ini karena... ya karena penulisnya menginspirasi aja sih. Kehidupan dia, karir dan sekolahnya, seems perfect. Jujur, gue ga naruh ekspektasi sedikitpun pas beli buku ini. ‘Paling isinya motivasi-motivasi doang.’ kata gue dalam hati, waktu itu.
3 bulan setelah gue beli, akhirnya gue mutusin buat baca (I had focused on my final exams, so I didn't read this book earlier).

Di awal buku, gue ga menemukan kata pengantar ala-ala layaknya kebanyakan buku. Not even testimonials from another writer, lol.
Yang gue temuin di awal baca buku ini adalah "kenalan sama Maudy".
Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini ga menarik untuk diikuti, tapi bagi gue pribadi, halaman-halaman awal inilah yang pertama kali bikin gue jatuh cinta sama buku ini.
Maudy memaparkan dirinya dengan apa adanya, dengan cara yang rasanya tulus dan jujur. Ini kayak ‘what happened to you was happened to me too, and I feel what you feel.’ This part is an important part that bonds us; Maudy and her readers, before it goes to another contents.

Buku ini sendiri punya 4 bagian: Being Yourself, Dreams, Love, dan Mindset.

Di bagian Being Yourself, ada part tentang nemuin siapa diri lo, tentang lo harus gimana dengan waktu yang lo punya, tentang ngefilter ekspektasi; from the society even from yourself, sampe part "kadang-kadang lo emang harus egois sih."
Di bagian ini, gue jadi mikir lagi siapa gue sebenernya, yang tadinya gue sendiri ga ngerti cara mendefinisikannya. Gue jadi ngomong sendiri ke diri gue, hal yang sekarang jarang banget gue lakuin.
Gue juga jadi memahami bahwa diri gue sendiri itu penting, dan ga setiap waktu di hidup kita itu buat pleasing others.
Percaya ga percaya, setelah baca BAB ini, gue melakukan dua hal yang belum pernah gue lakuin sebelumnya: minta maaf ke diri gue, dan memaafkan diri gue sendiri :)
Quote favorit gue di bagian ini adalah: "time does not wait, but it does not chase either."

Di bagian kedua, Dreams. Di bagian ini gue memahami tentang kenapa gue harus membuat perubahan (ke arah yang positif), di sini gue ngalamin mindblowing ketika disuruh milih untuk tetap berada di comfort zone atau ambil risiko.
Dengan ketidaknaifan gue, sambil ketawa-ketawa, gue milih stay di comfort zone. "Hahaha, ya iyalah. Siapa sih yang ga pengen hidup damai di comfort zone?"
Tapi, setelah gue lanjut baca, gue langsung kediem. Kata-kata yang bakal gue inget sampai kapanpun.... "Tapi, stay di comfort zone juga punya risiko sendiri...."
Gue mengamini, lebih baik ambil risiko dari awal, daripada terdampak risiko yang ga kita sadari terjadi karena kita keenakan di zona nyaman itu.
Di bagian ini juga gue bisa ngebedain mana aktivitas yang gue suka, dan aktivitas yang emang harus gue lakuin (dan haruskan gue menyukai aktivitas ini juga?). Gue belajar bahwa semua harus satu persatu, not all at once, or so called ‘multitasking’, sehingga gue bisa membedakan mana yang lebih prioritas dan meminimalisasi distraksi.
Part lain yang gue suka di bagian ini adalah tentang Journey. Sesuatu yang ga bisa lo bandingkan dengan orang lain, dan kenapa lo ga perlu membandingkannya.
Gue juga belajar tentang kegagalan, self-doubt, dan.... sumpah, di sini gue amazed banget, gue marked halamannya karena bener-bener relate sama hidup gue (gue sering merasa gue gagal dan terus-terusan gagal). I wish I could tell you how it changes my mind about failure, but you should read it yourself to feel it!~

My fav on this part:
"If it doesn't open, it's not your door."
"Doubt kills more dreams, than failure ever will." (Suzy Kaseem)

Bagian selanjutnya adalah Love. Mostly di sini bahas tentang patah hati, toxic person and relationships, dan self-love ke diri sendiri tentunya. Di part ini gue kurang bisa relate, mungkin karena gue belum pernah menjalani hubungan sama sekali ya. Tapi ini jadi note tersendiri buat gue, supaya gue bisa jadi orang yang baik sebagai love-giver, baik kepada orang lain maupun ke diri gue sendiri.

And Maudy noted a playlist for the brokenhearted too! Hehe, yang paling aku suka lagunya Emily King, judulnya Distance. Coba deh dengerin, hehe.

Bagian terakhir adalah Mindset. Isinya tentang gimana kita bisa buka pikiran kita, menghadapi kritik, bicara tentang insecurity, kenapa kita ga boleh ngejudge orang lain, hingga female empowerment. Dibandingkan tiga bagian sebelumnya yang mana gue banyak brainstorming, di bagian Mindset ini gue lebih banyak mengevaluasi dan merefleksi diri.

Gue seneng benget gue ditakdirkan untuk baca buku ini. Ga cuma diajak brainstorming, evaluasi dan refleksi, gue juga belajar nemuin solusi dari masalah dan pencarian diri gue.
Gue seneng banget (dah dua kali ngomong seneng banget), buku ini se-worth it itu.
Desain bukunya juga bagus paraaaahhh. I won't ever get bored. Buku yang bisa dibaca sekali duduk, isinya ngga tulisan semua, banyak foto estetik dengan cold and warm tone yang balance sehingga enak dilihat.

Ini buku yang bakalan gue kasi ke anak gue nanti, di usianya yang ke 18-20 tahun, or maybe earlier :)

Reading this book is such a happiness. Thank you, Maudy.

Judul buku: Dear Tomorrow: Notes to My Future Self
Penulis: Maudy Ayunda
Penerbit: Bentang Belia Publishing House
Edisi kedelapan, Oktober 2019
179 halaman
Rate: 9.5/10

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...