Jadi ceritanya gini, kemaren umur gue bertambah, dan gue mengalami mimpi pertama gue di umur 23, wkwk. Sebenarnya mimpi yang akan gue ceritakan ini cukup menyedihkan sih, karena gue ditolak! Ditolak apakah itu? Haha, oke mari kita mulai dengan masuk ke point of view gue di mimpi itu.
___
Gue menjalani hari-hari dengan bosan, gue ngga berminat untuk nonton TV, atau kejar-kejaran dengan anak-anak lain di halaman. Satu-satunya hal yang mau gue lakuin cuma baca buku di bawah pohon. Tapi, hari itu berisik banget. Anak-anak lain juga pada main di deket pohon tongkrongan gue. Hhhhh, gue merasa ngga begitu betah jadi anggota kerajaan, terutama karena pautan usia gue dengan anak-anak anggota kerajaan ini terpaut cukup jauh. Mereka masih berusia 7-9 tahun, sementara gue udah 16 tahun. Anak-anak yang 2-3 tahun lebih tua daripada gue udah pada kuliah ke luar negeri.
Hhhhhh.
Gue akhirnya berjalan menjauh, mencari tempat yang lebih tenang untuk baca buku. Hari ini taman tampak lebih indah, sebetulnya memang selalu indah sih.
Kaki gue berhenti. Di depan sana ada kastil keluarga kerajaan yang lain, dan gue melihat seorang laki-laki, mungkin seusia gue atau lebih tua, lagi baca buku di halaman depan kastilnya, dikelilingi bunga-bunga tulip berwarna merah dan kuning. Dia siapa? Gue cukup lama memperhatikan.
Baru aja dia menghela napas berat saat membaca buku, jemarinya membalikkan halaman selanjutnya, tiba-tiba dia mengangkat wajah dan menoleh ke arah gue. Dia diem. Gue diem. Kami bertatapan. Gue kaku banget. Entah kenapa saat itu punggung gue panas dingin, jantung gue berdebar kencang. Apa gue kaget? Gue berdiri ngga jauh dari tempat dia baca buku. Ada kali ya sepuluh meter?
Dia menutup bukunya sambil masih menatap gue, lalu berdiri. Duh gimana ni? Apa dia bakal nyamperin gue dan nanya, "kenapa lo merhatiin gue dari tadi?"
Dia ke arah gue.
Dia ke arah gue.
Mampusss.
Tepat ketika dia udah hampir di depan gue, gue dengan mata terpejam bilang, "suer, gue ngga merhatiin lo kok!"
Ga ada jawaban, gue akhirnya buka mata pelan-pelan.
Dia ngga ada.
Dia ilang.
Gue membalikkan badan, ternyata dia tadi cuma ngelewatin gue dan sekarang berjalan ke arah pagar kastil.
Gue antara lega tapi juga penasaran dia siapa.
*mimpi pertamanya abis di sini*
___
Abis itu gue kan kebangun karena pengen ke WC, terus mimpinya tuh ngga nyambung lagi alias gue ngga ada mimpi. Subuhnya gue ke WC lagi, eh ternyata nyambung!
___
Udah lima tahun berlalu. Gue udah 21 tahun.
Gue bakal dijodohin sama anggota kerajaan lain. Yang gue tau cuma... dia tiga tahun lebih tua daripada gue. Gila! Gue ngga tau apapun tentang dia, gue ngga mau nikah sama orang yang ngga gue cintai.
"Mom, dad, married is not my current milestone."
"Are you trying to make an excuse?"
Gue langsung diem. Iya, gue cuma ngga mau nikah sama orang yg ngga gue suka.
Keluarga gue semuanya berangkat ke acara makan malam yang akan membahas perjodohan itu. Bahkan, semua warga pun berkumpul di luar kastil untuk mendengar hasil perbincangan keluarga tersebut.
Tapi gue diem-diem kabur ke pasar. Gue jalan tertatih-tatih karena gue pake heels.
Tiba-tiba gue kesandung sesuatu dan kehilangan keseimbangan. Gue hampir aja jatoh kalo ngga ada orang yang nahan pinggang gue dari belakang. Tapi, sayangnya salah satu sepatu gue tercampak ke dalam got. Gue nangis melihat kenyataan itu. Di saat lagi sedih, pinggang gue yang tadi ditahan langsung dilepaskan oleh orang (yang belum gue lihat siapa, karena gue membelakanginya). Gue udah siap-siap bakal jatoh ke depan menuju got di mana sepatu gue tergeletak, tapi tangan kanan gue langsung ditarik, badan gue muter, dan punggung gue langsung ditahan oleh tangan kanan orang itu. Gue dan dia berhadapan, dekat. Dekatttt banget.
Dia laki-laki yang lima tahun lalu gue lihat baca buku di depan kastilnya. Gue langsung berdebar, punggung gue panas dingin. Perasaan ini persis kayak yang waktu itu gue rasain.
"Berdiri tegak. Lepas sepatu lo yang sebelahnya." Katanya dengan ekspresi datar.
Gue berdiri dengan tegak, dia ngelepasin tangan kirinya dari tangan kanan gue, dan tangan kanannya dari punggung gue.
"Lo ngga boleh kabur dari acara makan malam itu." Katanya masih datar.
"Lo... tau?" Tanya gue sambil ngelepas sepatu heels gue yang satunya.
Dia mengambil sebuah goodie bag dan ngasi ke gue.
"Nih pake." Sebuah sandal cowo warna coklat yang udah pasti kegedean buat gue.
"Gue ngga akan balik ke kastil." Kata gue
"Lo ngga bakal bisa kabur."
"Lo sendiri lagi kabur!"
"Gue bukan orang yang berkepentingan di situ. Yang bakal dijodohin itu elo."
"Tetep, gue ngga akan balik."
"Gue bakal anterin lo ke sana." Dia memimpin tangan gue, masih dengan ekspresi datarnya. Kami menuju kastil.
Gue rasanya udah mau nangis karena musti balik lagi ke kastil itu, sementara dia masih dengan santainya masuk duluan ninggalin gue sendiri di halaman.
"Ir!"
Gue kaget.
"Tatan?" tanya gue memastikan. Gue ngga nyangka gue bakal ketemu sama Tatan, temen gue masa remaja di sini.
"Kok lo ke sini sama dia?"
"Ketemu tadi waktu sepatu gue jatoh ke dalam got, terus dia ngasi sandal ini. Lo kenal?"
"Kenal lah! Sepupu gue. Dia adek dari orang yang bakal dijodohin sama lo. Alias calon adek ipar lo!"
"Dia lebih muda daripada kita?" Tanya gue.
"Ngga sih, seumuran kok."
Gue dipanggil masuk ke dalam kastil. Di situ ada dua orang laki-laki yang lagi duduk. Yang tadi nyelamatin gue di pasar, alias yang lima tahun gue liat baca buku depan kastil, dan satu orang lagi yang gue ngga tau siapa tapi dia senyum ke gue.
Entah kenapa gue ngga tertarik. Gue malah berharap laki-laki berekspresi datar itu nyelamatin gue lagi dari perjodohan ini.
"Aarrhhhh, andwae, andwaeyoooo" kata gue dalam hati.
Gue nyari Tatan.
"Ceritain tentang orang yang tadi ke gue. Sepupu lo" kata gue.
Tatan bingung, tapi kemudian bicara. "Dia masih kuliah di Seoul, dan salah satu mahasiswa genius di sana. Dia emang agak aneh, ga pernah pacaran, ga berbaur banget sama lingkungan, tapi dia favorit banyak orang."
Gue terdiam, sambil melihat sandal coklat yang lagi gue pakai.
"Oke, Tatan." Kata gue.
Gue berjalan menuju samping kastil. Di sana ada got. Gue lempar salah satu sandal coklat itu di sana.
"Lo hobi banget ya masukin barang ke got."
Gue kaget, dan membalikkan badan.
Dia.
Gue segera berlari. Seketika ekspresinya yang datar berubah jadi bingung.
Gue naik ke balkon kastil, diikuti oleh laki-laki yang bakal dijodohin sama gue.
"Kamu mau ngapain? Belum saatnya mengumumkan apa-apa ke semua orang." Katanya sambil berlari di belakang gue.
"Gue bakal bikin sayembara." Jawab gue tanpa menoleh sedikitpun ke orang itu.
Sampai di balkon, gue mengambil pengeras suara. Semua orang di halaman kastil bersorak. Gue memantau sekeliling. Di samping laki-laki yang mau dijodohin ke gue, ada dia. Dia. Gue dengan mantap bicara:
"Saya akan melakukan sayembara. Saya kehilangan sandal coklat seperti ini. Sayembaranya adalah untuk menemukan pasangan sandal saya yang hilang ini."
Laki-laki yang akan dijodohkan ke gue langsung berbisik, "Irma, ga perlu sayembara. Nanti kita minta orang untuk carikan ya"
"Sandal ini sangat berharga bagi saya! Sama berharganya seperti orang yang memberikannya pada saya." Lanjut gue (duh mampusss, bisa-bisanya gue bilang berharga padahal tadi gue lempar ke got.
"Saya tidak sengaja menghilangkannya saat membela diri dari serangan seekor binatang." Gue beralibi.
"Irma, udah, Irma." Kata laki-laki yang akan dijodohkan ke gue.
Gue memandang laki-laki itu dan dia.
"Siapapun yang berhasil menemukannya, kalau dia laki-laki, saya akan menikah dengannya."
Semua orang terperanjat.
"Kalau dia perempuan, akan saya berikan imbalan 500 dolar serta saya jadikan saudara saya."
"Saya tidak akan lanjutkan perjodohan ini sampai sandal ditemukan. Kalau laki-laki itu menolak menikah dengan saya, dia hanya akan mendapat imbalan 5 dolar." Gue berkata sambil menatap dia. Dia menghela napas panjang. Gue berbalik meninggalkan balkon. Keadaan kastil chaos.
Dini hari, keesokan harinya, gue pergi lagi ke balkon. Gue berharap dialah yang menemukan sandal itu. Lagian dia ngeliat gue ngelempar itu ke got kan?
Masih banyak warga menanti hasil sayembara itu.
Ngga lama, datang seseorang ke balkon.
"Saya sudah menemukan pasangan sandalnya." Dia. Iya, dia! Orang yang gue harapkan untuk nyelamatin gue kali ini.
Orang-orang bersorak. "Wohooooo"
"Apakah mereka akan menikah?" "Wah, itu kan adik dari calon pasangannya."
Laki-laki yang akan dijodohkan ke gue kaget dan mendekat ke arah kami.
Gue mengambil sandal yang masih ada di gue dan mencocokkan dengan sandal yang ada di tangan dia.
"Oke cocok!" Kata gue.
"Kalau begitu saya akan menika...." Belum sempat gue menyelesaikan perkataan gue, dia langsung menyela.
"Gue ngga minta hadiah sayembara itu, sebagai gantinya, balikin aja sandal gue ini." Katanya sambil mengambil sepasang sandal dari tangan gue. Dia beranjak meninggalkan balkon.
Orang-orang juga terkejut.
"Apa? Itu sandal miliknya?" "Jadi dia adalah orang berharga yang disebutkan oleh Irma?" "Tunggu, tunggu, berarti Irma ditolak? Astagaaa" "Wah, kasian sekali. Lalu perjodohan ini bagaimana?"
Gue kaku, ngga bisa ngomong, ngga bisa gerak. Dari kejauhan Tatan berlari ke arah gue dan membawa gue pergi dari balkon.
*mimpinya selesai dan gue bangun gara-gara gue kebelet pipis*
___
Begitulah mimpi gue. Di mimpipun gue ditolak.
Sedih tapi kok deg-degannya sampe sekarang gitu ya?
Btw, muka "Dia" itu ngga kayak Cha Eun-woo yaa. Foto Eun-woo cuma cover postingan ini aja, hehe.
Guepun ngga bisa merhatiin dengan jelas gimana mukanya karena semua muka di mimpi gue tu kayak blur. Cuma muka tatan yang jelas. Hhhhh. Gue cukup terkesan sama mimpi gue ini. Entah kenapa.
Cukup sekian cerita gue. Akhirnya emang gantung karena ya emang sampe situ aja, gue ngga bisa maksa lanjut mimpi.
Selamat menjalani hari!
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment