Aku sulit untuk berbicara.
Sehingga yang paling sering kulakukan adalah mendengarkan. Menulis adalah hal kedua tersering yang kupilih untuk lakukan.
Aku sulit bercerita, jika kucoba... maka akan terlalu banyak jeda. Terlalu berbelit-belit dan banyak diksi yang sulit, hingga mungkin... orang lain terlampau lelah untuk menungguku selesai berbicara.
Namun...
Entah sejak kapan, aku mulai suka berbicara. Tapi yang jelas... itu hanya denganmu.
Kamu hanya akan duduk manis di depanku, mendengarku membunyikan ribuan kata dari berbagai cerita, lalu sesekali tertawa dan berkata, "kamu lucu sekali!" Dan aku akan malu-malu menutup mulutku dengan lima jari kanan sambil cekikikan kecil.
Mungkin kalau dihitung,
Ada seribu sembilan ratus tiga puluh tujuh kesempatanmu untuk menyela bicaraku
Tapi tidak kamu lakukan
Terima kasih, ya.
Rasanya ingin kupeluk tiap potong kesabaranmu.
Aku senang, karena dari sekian banyak raga yang kutemui... kamu juga hadirkan jiwa saat berbicara denganku.
Apalagi kalau bicara impian, kamu selalu semangat untuk mendukung!
Aku kira aku cuma bermimpi, kadang-kadang takut diremehkan, tapi.... kamu yang asing, dan datang dari tempat yang tak kukenal... membela setiap sisi emosionalku terhadap masa depan.
Hhhhh, kamu sopan sekali ya kepada angan-angan...
Kalau aku punya dua puluh sembilan harapan, nomor satunya pasti menikahimu, lalu beranak cucu dan sama-sama mengimpikan surga.
Sirius.
Apa boleh kujulukimu itu? Meski yang pertama kali kau kenalkan adalah pembajak, tapi yang selalu kutemukan lebih dulu di langit pasti Sirius, seperti kamu yang selalu paling bersinar.
Kapan ya kita bertualang lagi? Kapan kita lihat langit malam lagi?
Apa kamu ingat kamu pernah bilang sesuatu padaku?
Walaupun aku tidak lagi menganggapnya sebagai janji, ternyata aku belum bisa lupa.
"Next time lagi ya!"
"Next time apa?"
"Next time kita bertualang lagi."
"Ohhh..."
"Jawab iya. Next time lagi ya?"
"Iya..."
Sedihnya, kita tak pernah bertualang lagi... dan semua rencana kita sepertinya tertinggal saja di masa lalu. Kita bahkan tak pernah berpamitan langsung. Tak pernah... ada perpisahan. Kita hanya berpisah dan menghilang begitu saja.
Seperti debu... ditiup angin mendung.
(Picture from: hannah erickson, pinterest)
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment