Skip to main content

Beda


Well, sebelumnya, mungkin postingan ini bakal kontroversial? Or whatsoever.
But it happened to me, dan ini masih mengganggu pikiran dan hatiku.

I don't blame anyone, but that one always stuck in my head over the time.


Aku selalu suka konsul sama dosen pembimbingku, cerita banyak, atau nanya-nanya tips. She's such a wise, humble and kind person.
Tapi dari setiap kesempatan untuk konsul, ternyata ga setiap waktu bisa konsul sama beliau. Ada kalanya saat beliau keluar kota, aku diminta untuk konsul ke pembimbing lain.
And that's the problem.

Not to compare, but how can I not compare?

Ketika aku dapet nilai jelek, pembimbingku selalu nyemangatin dengan bilang: "harus semangat lagi belajarnya, kamu pasti bisa di semester ini untuk perbaikin nilainya, kalo nilainya di atas seengaknya aman buat PPDS, bukan suatu hal yang mutlak sih, tapi in case buat ngeback-up syarat-syarat yang lain."

In the other hand, ketika aku konsul sama pembimbing lain waktu semester 3, pembimbing tersebut bilang: "kok nilainya segini, dek? Kalo nilai kamu segini kamu mau kerja di mana? Sedangkan PNS aja begini begini begini, apalagi kalo mau lanjut kuliah. Kamu tuh harusnya belajar lebih rajin dong, dek. Baru semester 3 aja kamu udah kayak gini, gimana di semester-semester selanjutnya?"

Dan yang paling aku kecewa, pas konsul beberapa minggu lalu, dikonsulin ke beliau lagi, beliau menyinggung masalah personalku, menanyakan tentang kehidupan keluargaku. 
I feel like being invaded by sensitive words, sensitive context. And. It's. Not. Her. Zone. To. Ask. And. Give. Advice. About. My. Personal. Life.

That's why, aku sangat berharap ga pernah dialih-konsulkan ke beliau lagi.
Aku berharap konsulku sama pembimbing asliku aja.

I know I'm not perfect, I'm not a good student, tapi apakah dengan demikian aku ga berhak dapet semangat yang pantas seperti orang lain?


It's just my thoughts, bukan bermaksud menjelek-jelekkan orang lain, lagipula aku ga call-out nama siapapun. Sometimes I just get depressed and want to explode them into an article. No, maybe a diary.

Thanks for reading, I even didn't think it should be red by people but yeah whatever.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...