Skip to main content

Khayalan malam ini.

Pergi ke sebuah tempat, jauh dari perkotaan, melintasi hutan lebat, kemudian berujung di sebuah rumah di tepi danau.

Rumah itu kecil, teduh, terbuat dari kayu-kayu, namun kokoh sekali, berwarna cokelat dan berbau seperti pohon mahoni.


Lalu, saat itu akhir siang menjelang sore, hujan baru reda tapi cuaca masih lembab, gerimis masih turun, aku sedang di tempat tidur, di bawah selimut sambil memandangi langit dan danau dari jendela.

Kemudian aku beranjak ke dapur, membuat teh hangat dan mengambil buku dari raknya.
Aku kembali ke tempat tidur, meletakkan teh di atas meja samping tempat tidur, lalu membaca lembar demi lembar buku fiksi yang sedang kupegang.


Langit teduh dan mulai gelap, cuaca masih setengah mendung, atau karena sudah hampir senja?

Burung-burung terlihat berkicau-kicau di antara ranting pohon, sementara katak mengoceh di sekitar danau. Mungkin sedang kawin atau bertelur.

Tak terasa, malam sudah tiba, buku sudah habis dibaca, teh hanya tersisa ampas melatinya.

Aku memutuskan untuk tidur, di bawah selimut yang kutarik hingga ke leher, membiarkan jendela terbuka agar angin-angin malam tetap menyelinap masuk meniup rambut dan wajahku.
Akupun lelap, sambil tersenyum. Sepertinya aku memutuskan untuk bermimpi tentang buku yang barusan kubaca.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...