Assalamu'alaykum wr wb.
Cuma curahan hati. Tidak masalah jika punya pandangan yang berbeda :)
Ada hal yang saat ini membuatku masih terjaga. Aku membaca begitu banyak perbedaan, yang pada akhirnya membuatku gelisah, menggebu-gebu dan marah.
Lantas apa bedanya aku dengan mereka? Tanyaku.
Namun, apakah salah ada perbedaan? Pikirku.
Tentu tidak, jika setiap perbedaan itu tidak memicu perpecahan.
Maka, aku putuskan untuk menerima, bahwa setiap orang punya kepala berbeda, dan egois jika aku menolak tiap hal yang berseberangan denganku.
Saudaraku, jika dirimu membaca ini, ini adalah pendapatku, maka pendapatmu boleh berbeda. Dan akupun adalah fakir ilmu, apa yang kutulis hanya berisi apa yang aku resahkan.
Aku bukan orang yang secara sempurna agamawi. Tentu aku memiliki banyak dosa dan kekurangan dalam beragama. Namun, aku merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, dan keprihatinanku ini bukanlah sebuah ajang pengakuan serta pembuktian betapa agamawinya diriku. Keprihatinan ini bukan pula bertujuan merendahkan orang-orang yang berbeda denganku. Bukan. Rasa prihatin ini murni dari hatiku.
Kubaca beberapa laman berita, termasuk yang memuat pernyataan Menko Polhukam bahwa ada pembakaran bendera HTI di Garut oleh oknum. Sayangnya aku melihat ada lafadz suci di bendera itu, yang entah secara sadar atau tidak, mereka bakar.
Ternyata pengamanan bendera HTI tidak hanya terjadi di Garut, namun di daerah lain juga. Kudengar bendera itu diamankan dengan tertib di daerah lain.
Aku lalu teringat tentang sesuatu. Mungkin dirimupun pernah melihat videonya di sosial media.
Saat itu ada berita tentang maling di sebuah kota. Saat sedang menjalankan aksinya, hal itu diketahui warga. Maka, dikejarlah maling itu.
Ketika tertangkap, alih-alih mengamankannya ke pihak berwajib, warga dengan bar-bar menghakiminya. Ia dibakar di depan ramai, dipertontonkan hingga mati. Haaaahhh *menghela napas*
Aku bertanya-tanya, benarkah tindakan mereka?
Pantaskah mereka menghakiminya seperti itu?
Apakah ada, turut campur nafsu di dalam benak mereka ketika membakarnya?
Saat itu aku berpikir. Setiap manusia terlahir suci. Adakah bayi yang lahir penuh dosa? Namun, saat ia kemudian memiliki dosa, apakah orang lain pantas memperlakukannya demikian? Apakah orang lain berhak mematikannya dalam keadaan seperti itu dan mendahului-Nya?
Aku sangat menyayangkan hal itu terjadi. Apakah dirimu juga?
Baiklah, rehat sejenak.
Kulihat lagi bendera itu. Hitam bertuliskan putih. Lafadz suci itu jelas kubaca di sana. Namun... Itu kan bendera HTI? Pikirku.
Tapi, apakah yang salah dari kalimat tauhid itu sendiri, hingga harus dibakar? Apakah tidak ada cara lain mengamankan bendera itu? Apakah, memang ada perintah dari atasan untuk membakar bendera itu?
Apakah mereka yakin, tidak ada turut campur nafsu di dalam benak mereka ketika membakarnya?
Haaaahhh *menghela napas*
Aku akhirnya menyadari, bahwa inisiatif tidak melulu berarah positif. Niat baikpun bisa berdampak buruk bila ada hal lain yang mengiringinya.
Hadits Arbain 01:
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Saudaraku, pada akhirnya, aku setuju bahwa kita harus memiliki jiwa nasionalis dan persatuan di tengah-tengah krisis perdamaian dan dengan segala perbedaan seperti ini. Namun, jadikanlah nasionalis itu juga merupakan ibadah kepada-Nya.
Berhati-hatilah dengan nafsu, karena tanpa sadar ia bisa menggiring kita pada arah yang salah.
Semoga kelak, kita dapat dipertemukan di tempat terbaik yang Allah pilihkan untuk kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu'alaykum wr wb.
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment