“Dia berdiri di bawah
pohon mangga besar di tengah sekolah yang sudah sepi. Di bawah gerimis;
sendirian.”
Cerita yang kutulis ini adalah kisah nyata yang terjadi 9
tahun yang lalu. Nama orang-orang yang ada di dalam kisah ini disamarkan untuk
menghormati privasi.
*
2009.
Bapak memarkir mobil di seberang sekolah. Aku turun. Bau hujan
masih sangat melekat, belum sampai setengah jam hujan reda.
Aku membawa tikar yang bapak keluarkan dari bagasi. Hari ini
hingga besok, sekolah mengadakan persami (perkemahan sabtu minggu) untuk
menyambut anak-anak kelas 7 dari tamu gugus depan untuk menjadi calon
penggalang. Setelah upacara pembukaan, aktivitas mulai berjalan. Anak-anak
kelas 7 mulai memasang tenda di lapangan takraw, beberapa diantaranya
menyiapkan dapur di dua ruang kelas. Aku ditugaskan untuk membantu panitia
menyapu kelas 7A yang akan dijadikan ruang barang-barang. Di kelas itu ada tiga
orang. Aku dan dua orang lagi yang belum aku kenal.
Dia menyapu lantai dengan lemah, wajahnya terlihat pucat. Sedari
awal dia diam saja.
“Eh, kau sakit?” tanyaku
Dia menggeleng pelan, “engga, kok.”
“Oke. Aku Irma. Nama kau siapa? Kayaknya aku pernah liat kau
di ulang tahunnya kawan, si Rizki.”
“Namaku Atikah. Oh, aku sepupunya Rizki”
*
Hingga menjelang maghrib, semua hampir selesai dipersiapkan. Beberapa
regu memasak nasi di dapur, mereka berencana untuk membuat nasi goreng, bahkan
membawa rendang dari rumah.
Regu kami hanya memasak air untuk makan mi instan cup.
Setelah sholat isya, semua peserta kemah diarahkan ke
lapangan basket, kami diajak ramah tamah dengan pembina dan kakak-kakak
penggalang. Sesi itu berlangsung cukup lama, sementara tumpukan kayu yang sudah
disirami minyak tanah di tengah lapangan sudah siap untuk dibakar.
Malam semakin larut, angin malam itu membuat tulang ngilu,
gigi-gigi bergeletuk karena kami tidak menggunakan jaket pada saat acara api
unggun.
Api unggun akan dimulai, seluruh peserta membuat lingkaran. Pembina
gugus depan mulai memberikan sekapur sirih (seperti amanah upacara). Upacara api
unggun berjalan khidmat.
Saat pembacaan dasa darma, satu persatu kakak penggalang
melempar lilin mereka ke api unggun.
Tiba-tiba ada suara tangis dari beberapa baris di sampingku.
“Ngapa tuh?” tanyaku berbisik
Tak kalah berbisiknya, teman di sampingku menjawab, “dia bisa
lihat hantu. Mereka ada di sekeliling api unggun, sama di belakang Kak Karin.” Matanya
mengarah pada seorang kakak penggalang yang sedang berjaga di depan UKS.
Aku mengumpat berkali-kali dalam hati, tiba-tiba punggungku
panas dingin.
“Udah tuh, ditenangkan jak. Nanti kalo ada kakak penggalang
di belakang kita, biar dia dibawa ke UKS.” Kataku
“Dia ndak mau, dia udah ketakutan dari tadi. Hantunya udah
ada di dekat UKS dari tadi.”
Aku diam. Dalam hati aku ingin mengumpat lagi, tapi aku
tersadar dan mulai membaca ayat kursi.
Semuanya hening, lampu-lampu disekitar lapangan memang
dipadamkan menyisakan cahaya yang berasal dari api unggun, meskipun aku bisa
melihat beberapa orang sedang berbisik-bisik.
“WOIIIII!” suara teriakan terdengar jelas dikupingku waktu
itu. Benar-benar tepat di belakangku, seorang kakak penggalang putera berlari
ke bukit atas sekolah menuju hutan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekolah kami.
Aku kaget sekali.
Beberapa kakak penggalang putera menyusul berlari kencang. Rasanya
gila sekali melihat mereka berlari karena saat itu ada meja dan mereka
melompatinya seperti sedang parkour.
Temanku yang tadi melihat hantu makin ketakutan, dia bilang
hantu-hantu itu ada di belakang beberapa peserta. Aku makin berdebar-debar. Kuberanikan
bertanya apakah ada di belakangku? Dia menggeleng.
Tak berselang lama, ada suara teriakan dari dalam UKS,
diikuti beberapa teriakan ketakutan anak-anak cewek.
“Apa tuh?”
“Ada yang kesurupan, Ir.” Kata Dona.
“Siapa?” tanyaku, Dona menggeleng.
“Tenang, tenang.” Kata Kakak pembina
“Itu suara Atikah, sih. Dia juga ndak enak badan makanya
masuk UKS” Kata salah satu teman.
Atikah, yang tadi sore menyapu bersamaku.
Ternyata tak cuma Atikah, beberapa orang juga mulai
kesurupan. Beberapa langsung di bawa ke ruang guru, ada juga yang diamankan ke
rumah guruku yang letaknya di belakang sekolah.
*
Acara api unggun berakhir lebih cepat. Beberapa informasi
dari teman, Atikah sudah dibawa ke ruang guru. Peserta-peserta puteri dilarang
untuk tidur di tenda, kami semua dipindahkan ke kelas 7A.
“Kak, tadi bang Doni sama bang Ardi tuh ngapa lari ke atas
kak?” tanya salah seorang temanku kepada kakak penggalang yang menjaga kami di
kelas 7A. Semua menoleh pada kakak itu. Dengan pelan kakak itu menjawab, “Ada
sesuatu, kayaknya orang. Dia kayak bakar-bakar sesuatu di atas.”
“Wah, bakal seru nih.” Kata Tiara
“Hush.” Kakak itu menaruh jari telunjuknya di bibir. “Udah
kalian tidur sana, baca doa, jangan mikir macam-macam. Jangan kosongkan
pikiran, banyak-banyak dzikir atau doa sama Tuhan.”
Malam itu aku tidak bisa tidur, semalaman aku turun naik gedung
(karena kelas 7A ada di lantai 2), menuju ke ruang dapur untuk makan. Kakak-kakak
penggalang memergokiku belum tidur, mereka bertanya apa yang kulakukan, aku
menjawab aku lapar dan mereka memperbolehkanku ke dapur.
Sebenarnya aku tidak hanya lapar, tapi juga penasaran. Sebelum
ini aku tidak pernah melihat orang kesurupan. Situasi persami saat itu jadi
terasa mencekam. Aku ingin sekali melihat ke ruang guru, jadi kuputuskan untuk
beralasan ingin ke toilet di ruang guru.
“Atikah kemana, Pak?” tanyaku pada pembina pramuka.
“Udah dibawa sama Bu Nunik. Kamu cepet balik ke ruangan,
jangan keliaran di bawah terus”
Aku mengangguk.
*
Pagi harinya, kegiatan dilanjutkan dengan penjelajahan. Tidak
ada hal aneh yang terjadi saat ini. Selesai penjelajahan, acara dilanjutkan
dengan sayonara dan semua peserta dilepas untuk pulang.
*
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Senin siang, sebuah teriakan luar biasa besar mengagetkan
seluruh antero sekolahku. Semua anak-anak keluar dari kelas.
“Ada yang kesurupan, ada yang kesurupan!” sumber suara
teriakan itu berasal dari UKS. Tidak lama berselang, muncul teriakan-teriakan
lain. Kesurupan itu sudah seperti penyakit berjangkit yang cepat sekali
menular.
“SEMUANYA MASUK KELAS, JANGAN ADA YANG DI LUAR” guru mulok
kami menyuruh kami masuk ke kelas, lalu ia meninggalkan ruangan menuju kantor
guru.
“Ada banyak yang kesurupan, ini imbas kemah yang kemaren.” Kata
temanku.
Salah satu teman mengatakan bahwa saat malam api unggun itu
memang ada yang membakar menyan di TPA sekolah. Kakak-kakak penggalang mengejar
orang itu, namun mereka segera kabur dan tak bisa dikenali karena memakai helm.
“Kampret sekali orang kayak gitu.” Kataku.
Dini cerita bahwa satu diantara hantu yang masuk ke teman-teman
yang kesurupan itu adalah arwah Kak Lia. Dia adalah anak kelas 9 yang tahun
lalu akan menjalani UN, namun ia meninggal dalam sebuah kecelakaan bermotor.
Lagi, setiap tahun selalu ada anak kelas 9 yang meninggal
sebelum UN. Sebelum Kak Lia, ada Kak Hilda yang meninggal karena Malaria. Banyak
yang mengait-ngaitkan kejadian-kejadian itu sebagai kejadian yang akan menjadi
tradisi tiap tahun.
Teriakan-teriakan masih terdengar. Kesurupan massal sedang
berlangsung. Bu Erin, guru mulok kami mengumumkan bahwa kami dipulangkan lebih
awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh sekolah.
Semua murid mengantri untuk memakai telpon sekolah karena
kami tidak boleh membawa hp. Beberapa memutuskan untuk jalan kaki.
Teriakan-teriakan semakin tidak jelas. Orang-orang yang
kesurupan itu tidak berbicara namun hanya teriak saja. UKS penuh. Ruang olahraga
dialihkan menjadi ruangan untuk menangani anak-anak kesurupan. Ada juga yang
dibawa ke musholla dan ruang guru.
*
Kesurupan massal
berlangsung lebih dari dua minggu. Kejadian tidak hanya di UKS, tapi juga di
kelas dan wc. Hampir setiap hari terjadi, sehingga kami sering dipulangkan
lebih awal.
Dini mengatakan
bahwa kemarin Atikah kesurupan dan menyeret diri dari kelasnya hingga ke
ruangan koperasi di samping pohon mangga besar di tengah sekolah. Kakinya
luka-luka. Adik alm. Kak Lia yang sekarang kelas 9 juga ikut turun tangan. Dia berbicara
dengan anak yang kesurupan tadi.
Selama itu
juga keadaan di sekolah terasa mencekam, rasanya seperti hantu-hantu sedang
berkeliaran di sekolah, mencari-cari tubuh yang akan dimasuki.
Kejadian ini
tidak habis-habisnya hingga suatu sore, guru fisikaku yang sedang memberikan
les bercerita,
“Sekolah kita memang ada yang menghuni. Ibu memang ketemu dia
waktu lagi kesurupan. Waktu itu Ibu pulang lebih siang dan sedang hujan. Dia
berdiri di bawah pohon mangga besar di sekolah waktu udah sepi. Di bawah
gerimis; sendirian. Ibu tanya kenapa dia belum pulang?
Dia cuma diam.
Ibu tau itu Lia. Ibu bilang ke dia pelan-pelan untuk ikhlaskan yang udah
terjadi, kasihan anak-anak yang tiap hari kesurupan. Lalu dia nangis. Meskipun Ibu
tau, bukan cuma dia yang menyebabkan kesurupan”
*
Aku tak ingat gimana kejadian kesurupan itu bisa berhenti. Tapi
setelah kejadian pasca kemah itu, kesurupan terjadi lagi saat bangunan kelas 9B
dihancurkan. Persis seperti kesurupan pasca kemah, kejadian itu berlangsung
lebih dari dua minggu bahkan selama pembongkaran berlangsung. Namun kesurupan
tidak terjadi setiap hari. Katanya, banyak penghuni yang tidak suka kalau ada
bangunan yang dibongkar. Semenjak kejadian itu pula, pembina gugus depan
mengarahkan untuk tidak dilaksanakannya persami lagi untuk tahun selanjutnya (lupa
sih apakah arahan ini beneran dilakukan atau ndak di tahun selanjutnya).
*
“Mereka tuh di
sekeliling api unggun, sambil ngeliat kita. Mereka ngeliat kita.”
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment