“Aku
juga ada di sini....”
Cerita
yang kutulis ini adalah kisah nyata yang kualami 4 tahun yang lalu.
* * *
Saat
itu bulan Februari 2014. Aku terpilih menjadi salah satu peserta Fahmil Qur’an
delegasi sebuah khafilah di kegiatan MTQ Kabupaten. Kegiatan itu dilaksanakan
di sebuah tempat yang jarak waktu tempuhnya dari kotaku sekitar 30-45 menit
dengan menggunakan bus.
Kami
akan mengikuti kegiatan hingga 4 hari mendatang, dan menginap di sana juga.
Singkat
cerita, kami menginap di suatu bangunan. Bangunan itu berada di antara pasar
dan tempat utama pelaksanaan lomba MTQ.
Kira-kira jarak ke pasar maupun tempat lomba masing-masing sekitar 300 meter.
Bangunan
itu berdinding dan berlantai semen. Langit-langit ruangan menggunakan papan dan
jendelanya masih kayu. Bangunan itu terdiri dari 2 ruang cukup besar untuk
kamar. Kamar perempuan ada di dalam dan kamar yang pintunya langsung ke
lapangan luar digunakan sebagai kamar laki-laki. Ada sebuah kamar mandi, ruang depan untuk
latihan lomba dan sebuah ruang dapur di bagian belakang bangunan. Saat pertama
kali sampai, bangunan itu harus dibersihkan terlebih dahulu.
Ya,
bangunan itu memang sudah lama tidak digunakan. Dulunya bangunan itu adalah
bekas bangunan TK. Masih ada beberapa gambar- gambar tergantung pada dinding
bangunan serta beberapa coretan juga.
Meskipun
begitu, menginap di sana cukup nyaman. Terutama karena di sana aku kenal dengan
banyak orang yang selalu mengajak dan mengingatkan untuk sholat, mengaji dan
beribadah.
Aku
memiliki 4 teman perempuan sepantaran saat itu. Vava, Wawa, Rara dan Nata. Kami
sekamar dan kemana-mana selalu bersama.
Tidak
ada hal aneh yang terjadi sebelumnya, hingga hari itu...
Malam
setelah hampir semua kegiatan lomba dilaksanakan, kami akan pergi menonton dan
mendukung salah seorang peserta hafidz qur’an di khafilah kami. Kami semua
bersiap-siap untuk pergi ke tempat lomba.
Vava,
Wawa dan Nata sudah siap dan menunggu di ruang latihan bersama peserta khafilah
kami yang lainnya.
Aku
dan Rara masih di dalam kamar karena mobil yang menjemput peserta khafilah kami
belum datang. Kami ngobrol-ngobrol sambil masih bersiap-siap.
Rara
mengajakku berfoto (ya maklum lah, dulu tahun 2014 lagi demam-demamnya banget
foto selfie). Kami selfie menggunakan kamera hp-ku. Namun karena kamera depanku
saat itu resolusinya hanya 1,3 MP dan tidak bagus saat malam hari, maka kami
selfie menggunakan kamera belakang.
Selesai
mengambil beberapa foto selfie, kami bergabung dengan teman-teman di ruang latihan.
Tak berapa lama, mobilpun datang dan kamipun pergi.
Awalnya
kami tak menyadari apapun hingga saat pulang ke tempat menginap dan berkumpul
bersama Vava, Wawa, Rara dan Nata, kami melihat-lihat foto selfieku dan Rara.
“Eh
tunggu, tunggu. Itu apa?”
“Mana?”
aku menambah kecerahan hp-ku.
“Ini,
yang di samping!”
Jelas
terlihat ada sesuatu yang berwarna putih di samping foto. Padahal saat itu
benar-benar hanya aku dan Rara di kamar. Semua orang berkumpul di ruang depan.
Tidak ada kain putih maupun mukena yang tergantung di kamar. Sesuatu itu tampak
tinggi (atau sedang “melompat?”), karena ia menyentuh langit-langit kamar yang
cukup tinggi.
Aku
merinding.
“Astagfirullahaladzim”
kami serempak beristighfar.
Nata
langsung berinisiatif, “Oke, sekarang lebih baik kita buka qur’an masing-masing
dan kita sama-sama baca ayat kursi.”
Kami
mengangguk dan dengan segera membaca ayat kursi dan yaasin. Setelah itu kami
segera tidur (dempet-dempetan dan selimutan sampe muka).
* * *
Paginya,
aku melaporkan hal itu kepada Bapak yang membina khafilah kami. Bapak berkata
jangan dipikirkan. Meskipun begitu, aku melihat ada ekspresi yang berbeda dari
wajah Bapak setelah aku melapor.
* * *
Esoknya
kami bersiap-siap untuk pulang. Kami meninggalkan bangunan itu, bangunan yang 2
malam lalu membuat bulu kuduk kami merinding.
* * *
Beberapa bulan kemudian, bangunan itu
dihancurkan.
* * *
“Dengan
siapa kamu selfie?”
* * *
P.S:
Untuk sementara, ini adalah serial terakhir #MalamJumat karena Irma insyaAllah
akan posting #TulisanRamadhan yang lebih relevan dengan bulan ramadhan ini,
Hehe. Terima kasih ya sudah membaca :)


Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment