Skip to main content

What has Aya told me.


Beberapa minggu lalu, Aya dateng main ke rumah.
Kami cerita banyaaak banget, karena udah tiga tahunan nggak ngobrol lama. Sejak kuliah berjauhan, ketemu cuma beberapa kali, pas di bandara atau pas lebaran doang.

Aku dan Aya udah sahabatan sejak kelas 3 SMP, dan sejak SMA kita dekat banget karena kita satu SMA dan satu kelas sampe lulus.

Aya typically adalah seorang pendengar dan dewasa banget, makanya dari dulu aku senang curhat sama dia.
Kemaren aku ngerasa dilema. Aku pengen curhat, tapi aku nggak enakan untuk curhat, padahal dulu aku nggak pernah ragu untuk curhat ke Aya.
Aku pengen curhat ke Aya kalo beberapa waktu lalu aku ngerasa kecewa sama seorang temanku, tapi aku takut Aya akan berpikir curhatan ini adalah masalah yang sepele, atau, masalah kekecewaanku itu ga perlu aku hiraukan, ya, awalnya aku kira seperti itu. Karena selama ini kalo aku curhat ke teman, seringkali aku dapet tanggepan, “udahlah, cuma perasaan kamu kali.” atau, “sebenernya itu masalah yang sepele sih...”, “yang kayak gitu jangan kebawa hati..”

Tapi hari itu Aya ngomong, “Mungkin orang lain bakal ngaggep apa yang kamu curhatin itu sepele, atau nggak perlu dibesar-besarin, atau mending disimpen sendiri aja. Tapi aku tau, nggak harusnya gitu. Yang orang lain anggap sepele, belum tentu sepele buat kita. Yang kita anggap sepele, belum tentu sepele buat orang lain.”
Setelah ngomong gitu, akhirnya aku curhat ke Aya. Dia samasekali nggak menyepelekan ceritaku, dia ngasi advice dan ngebuat aku sadar untuk ngomong langsung sama temenku itu untuk memperbaiki hubungan.

Disitu aku ngerti, bahwa ketika kita setuju untuk dengerin curhatan orang, kita juga udah siap untuk berempati atau paling tidak, bersimpati. Aku juga jadi paham bahwa menyepelekan cerita atau pengalaman orang lain itu nggak seharusnya kita lakukan.
Suatu masalah yang kita anggap kecil, mungkin adalah masalah besar bagi orang lain. Dan peran kita sebagai pendengar yang baik justru akan berdampak besar bagi hidup seseorang.

Aku inget kata-kata dosenku waktu ngajar kuliah psikiatri,
“Respect others like how you want others respect you”
Bahkan pasien psikiatri yang berhalusinasipun nggak mungkin kamu jawab dengan, “Ah, itu cuma perasaan dan halusinasi Ibu aja kali!”


“Yang kita anggap sepele, belum tentu sepele buat orang lain.”

Makasih banyak buat Aya, for being my bestfriend since then, dan selalu support dan nasehatin aku dengan baik sampe hari ini :)


Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...