Sabtu malam lalu, aku opname di sebuah Rumah Sakit karena DHF (Dengue Hemorrhagic Fever)/DBD.
Aku diopname selama 3 hari 3 malam, selama di sana, ada sesuatu yang aku alami.
Sabtu malam jam 23.00 aku menginap di sebuah kamar kelas 1 di lantai 2. Kamar tersebut tepat berada di depan ruang jaga perawat.
Meskipun kamar tersebut merupakan kamar kelas 1, toilet pasien berada di luar ruangan. Untuk 12 kamar, ada 3 toilet pasien di ujung bangunan. Kamarku kira-kira 4 meter dari toilet-toilet tersebut. Di samping toilet, ada tangga darurat menuju lantai 1.
Minggu pagi, seorang CS (Cleaning Service) datang untuk membersihkan ruangan. Namanya, sebut saja Mbak Dini. Ia sangat ramah. Mbak Dini adalah CS yang paling aku ingat karena ia yang paling sering datang ke kamar.
Sabtu malam, minggu malam, kulewati biasa saja. Di kamarku hanya ada aku dan kakakku, kadang kalau kakakku sedang pulang ke rumah di malam hari, aku tidur sendirian di kamar sampai ia kembali ke RS.
Senin malam, aku sangat ingin pergi ke toilet. Saat itu jam setengah 12 malam.
Akupun mengajak kakakku untuk pergi ke toilet.
Aku agak lama di dalam toilet karena BAB (wkwk, ngerepotin ya BAB tengah malam).
Kakakku duduk menunggu di luar toilet.
Selesai urusanku di toilet, akupun keluar. Saat itu keadaanku compos mentis (bener-bener melek) soalnya kan abis berjuang membuang hajat.
Kulihat ada 3 orang perempuan duduk di depan kamar terakhir.
Ada Mbak Dini lengkap dengan seragam CSnya pagi tadi, sedang mengobrol dengan dua orang perempuan berambut pendek.
Aku melihat Mbak Dini dengan tatapan heran. Mbak Dini membalas menatap sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah teman ngobrolnya.
Dalam hatiku berkata, "Yaampun Mbak Dini kerja dari subuh sampai tengah malam ngapainnn?"
Sampai di kamar, akupun bercerita kepada kakakku.
"Kok Mbak Dini tengah malam gini belum pulang ya?"
"Di mana?"
"Ada tadi tu ngobrol sama Ibu-ibu di dekat wc"
"Ndak ade, dek. Tadi tu lantai 2 kosong, yang ade cuma perawat cowo mandi, abis itu satu perawat cewe lagi video call. Selain itu ndak ade lagi."
"Ade, Ngah. Tadi tu ade."
* * *
Keesokan paginya, sedang terjadi tragedi air macet di RS lantai 2. Pasien-pasien tidak dapat memakai toilet-toilet di lantai atas, sehingga pasien-pasien terpaksa turun ke lantai bawah untuk BAK/BAB.
Aku yang saat itu juga mengalami gangguan pencernaan dan ingin BAB, terpaksa menggunakan tangga darurat di ujung bangunan untuk mencapai toilet lantai 1.
Saat itu aku diantar oleh kakakku dan seorang keluarga pasien sebelah kamar yang ingin mandi.
Selama aku di dalam toilet, kakakku dan keluarga pasien itu berbicara, mulai dari masalah air di RS, hingga suatu cerita yang diceritakan oleh CS-CS.
"Kemaren tu saye diceritekan kalau tangga darurat sini ni ade yang "nunggu". Biasenye yang ditengokkan tu pasien, kadang turun naik tangga tek tok tek tok ribut gitu, dek. Kadang die tu menyerupai CS, nampak tengah malam. Padahal CS abis isya dah balek dah."
Wah, asem, kataku dalam hati.
"Benarlah, Kak? Adek saye semalam ade nengok CS dekat WC, Kak. Dah tengah malam emang." Timpal kakakku.
"Ha? Merinding kakak. CS yang mane?"
"Yang pakai kerudung, agak berisi tu, Kak."
"Mbak Dini keee?"
"Iyeee"
"Mbak Dini tu lah yang cerite same saye kemaren, dek. Die semalam dah balek dari jam 8. Mane ade CS masih di RS sampai tengah malam."
Mereka berdua hening di luar. Begitu pula aku di dalam toilet.
Selesai BAB, aku kembali ke kamar bersama kakakku. Kami membicarakan apa yang tadi kakakku dan keluarga pasien itu bicarakan. Waktu berlalu, tak lama setelah dokter visit, dua orang CS datang ke kamarku untuk bersih-bersih. Salah satunya Mbak Dini.
"Dek, saye mau nanya" kata Mbak Dini. Wajahnya terlihat agak ketakutan.
Aku mengangguk.
"Kakak di kamar sebelah ni bilang kalau adek ade liat saye tengah malam semalam"
"Iyeee, Mbak. Benar emang saye ade liat Mbak. Agik ngobrol same dua orang Ibu-ibu."
"Dek, saye tu dah balek dari jam 8 malam semalam." Ia menyeka keringatnya.
"Makenye saye bingung, Mbak. Saye pikir ngape Mbak ni kerja dari pagi-pagi tapi tengah malam belum balek gak."
Ia mengelus dadanya. "Lalu die ngape, dek?"
"Ndak ade, Mbak. Die emang ade nengok saye sekilas. Tapi kan saye waktu itu ndak mikir ape-ape. Saye kire itu emang Mbak yang belum pulang. Abis nengok sekilas, die ngobrol agik same Ibu-ibu."
"Ya Allah, dek. Untunglah adek ndak kenape-kenape. Memang ade yang nunggu disitu dek. Kadang ribut di tangga, kadang nampakkan diri menyerupai CS tengah malam, padahal CS dah pade balek. Saye ngomong gini karena dulu kawan saye pernah ade yang kesurupan di situ, Dek."
Kami hening.
"Iyelah, Mbak. Untungnye ndak gimane-gimane juga sih." Kataku.
* * *
Sore itu dokter mengizinkanku untuk pulang. Akupun melewati tangga darurat di ujung bangunan. Aku menengok ke arah belakang, di koridor.
Kemudian aku menyadari bahwa tidak ada bangku di tempat aku melihat "Mbak Dini" semalam.
* * *
Percayalah, koridor kamar pasien tengah malam itu sepi. Kalau kalian masih bertemu CS tengah malam, coba tanyakan, "kamu siapa?"
Merindingggg
ReplyDeletesadessss
ReplyDelete