Skip to main content

Book Review: a Cup of Tea by Gita Savitri Devi

Setelah menerbitkan "Rentang Kisah" 3 tahun yang lalu, saya ngga nyangka bahwa saya akan membaca tulisan Gita dalam sebuah buku lagi. Bisa dibilang saya rindu tak rindu dengan tulisannya, karena selama ini saya juga masih membaca tulisan Gita di blognya, "a Cup of Tea", persis seperti judul buku ini.

Gita, sebagai tipikal seorang observer, selalu berhasil membuat saya kagum dengan pemikiran yang disampaikannya; baik melalui video maupun tulisan, seperti di buku ini.

Di buku ini, saya menemukan Gita, perjalanan dan misi-misinya.

Setiap BAB yang saya baca membuat saya merasakan pengalaman baru, lebih tepatnya seperti sedang mendengarkan seorang sahabat bercerita tentang "slice of life"-nya.

Gita membawa saya pada masa remajanya, ketika pertama kali pergi ke Amerika untuk mengunjungi Ayahnya yang bekerja di sana, juga bercerita ketika ia, Ibu dan adiknya menginap di apartemen Chinatown, saat di Singapore karena lebih murah.

Saat menjalani masa kuliah, ia menceritakan tentang Elias Escribano, seorang teman yang ia kenal saat mengikuti Erasmus+ di Stradonice, yang sudah 27 kali ikut pertukaran dan sedang melakukan proyek pribadi bersepeda dari Spanyol ke New Zealand.

Beberapa kali, Gita juga bercerita tentang perkenalannya dengan strangers saat traveling, ditebengin Uber gratis di L.A dan London hingga bertemu dengan seorang roommate yang bernama Kim ketika menginap di hostel Swiss; seorang perempuan dari Hong Kong yang punya 3 paspor.

Salah satu BAB yang berkesan juga buat saya adalah cerita tentang cyber bullying yang dialami Gita beberapa tahun lalu. Saya masih ingat karena saat itu saya mengikuti kejadiannya: ketika hampir semua orang muncul untuk menyerang Gita.

Gita juga bercerita mengapa ia memutuskan untuk tidak begitu bergantung pada orang lain dan akhirnya melepaskan diri dari ekspektasi orang lain.

Sebenarnya, ada banyak hal-hal baik untuk dibaca yang ngga saya tulis di sini, tapi bisa kalian baca di buku Gita.

Apakah buku ini patut untuk dibaca? Menurut saya, ya! :)


 
Judul buku: a Cup of Tea
Kategori: kumpulan cerita
Penulis: Gita Savitri Devi
Penerbit: GagasMedia
Tahun terbit: 2020
164 halaman.

Comments

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...