Bisakah kita memutuskan diri dengan masa lalu?
Rasa sakit, emosi, sedih, marah... yang berawal dari letupan-letupan bahagia yang pertama kali kita rasakan; yang disebut cinta pertama.
Bukankah masa itu sudah usai? Bukankah kita tidak akan pernah bertemu lagi? Saya tahu kamu sekarang entah di mana. Kamu juga bahkan tidak tahu kalau saya sekarang sedang menulis ini.
Bukannya saya seharusnya sudah lupa kenangan-kenangan itu? Yang mungkin... hanya saya yang seringkali mengingatnya.
Saya berkali-kali menebak, mengapa ketika itu tentang kamu, saya selalu saja gagal berdamai dengan diri sendiri? Sudah lebih dari satu dekade.
Saya pikir saya harus minta maaf agar saya lega. Tapi hingga saat ini saya memang tidak cukup berani.
Namun, setelah itu saya berpikir, apakah saya akan benar-benar berdamai setelah minta maaf denganmu? Apakah saya telah melakukan dosa besar kepadamu? Apa yang saya lakukan kepadamu di masa lalu?
Apakah dulu saya sejahat itu?
Dua hari ini saya bermimpi tentangmu. Berturut-turut.
Di malam pertama, saya melihat kamu sudah memiliki teman hidup. Kamu sangat menyayanginya. Ia sedang mengandung. Kamu menjaganya sepenuh hati. Kamu terlihat sudah sangat dewasa.
Tadi malam; malam kedua, saya bermimpi saya bertemu dengan kamu dan saudaramu, kita bertiga masih remaja dan sedang berbincang-bincang di kelas. Saya menggulung sebuah buku hingga membentuk teropong, mendekatkannya ke telingamu.
"Saya ingin berbisik." Kata saya.
Kamu mengangguk.
Saya menyebutkan namamu, lalu mengatakan permintaan maaf saya.
Yang saya ingat, saat itu kamu mengangguk dan tersenyum.
Saya tidak tahu apa arti mimpi-mimpi itu. Saya tidak tahu mengapa semesta malam mempertemukan saya dan kamu dalam mimpi.
Yang saya tahu, hingga saat ini, saya hanya berupaya tidak mengingatmu lagi. Mungkin pertama-tama, saya akan coba dengan pura-pura lupa.
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment