Skip to main content

Book Review: Safa's Story by Sirhayani

Sudah lama saya nggak membaca wattpad, sepertinya terakhir tahun 2016, sempat install lagi sih tahun lalu, tapi tetap saja saya uninstall dengan alasan yang sama: storage handphone saya yang selalu full, fiuhhh.
Bicara tentang wattpad, memang, sudah sejak lama saya melihat buku-buku yang lahir dari platform ini membanjiri gramedia. Iya, sebanyak itu, beberapa bahkan diangkat menjadi film yang hebat!

Salah satu karya dari wattpad yang dibukukan dan saya baca adalah Safa's Story. Saya membeli buku ini karena sinopsisnya yang menarik. Sayang sekali, saya nggak tau bahwa novel ini sekuel, karena nggak ditulis di cover ataupun sinopsis. Ternyata cerita awalnya ada di Sandi's Style. Saya merekomendasikan untuk baca novel itu dulu untuk memulai Safa's Story walaupun saya sendiri belum baca.

Pada novel ini, ada dua konflik yang diceritakan. Hubungan Safa dan Sandi, serta keluarga Safa. Eksplorasi tokoh Safa menurut saya kurang berkembang. Yang saya dapatkan dari sosok Safa hanya pemalu, pintar biologi, sayang keluarga, dan oh... people pleasure. Really. Dia mengorbankan diri, mengatakan iya, berbohong dengan keadaan dan dirinya sendiri, hanya untuk menyenangkan orang lain; yang dia pikir itulah yang terbaik.

Sifat labil bisa saya temukan di setiap tokoh. Apa karena ini cerita tentang mahasiswa baru? Apakah memang semua mahasiswa baru sering labil begitu? Entahlah, saya sudah lama melewati masa itu, nggak inget lagi.

Saya juga menemukan beberapa typo, yang lumayan banyak. Beberapa cerita terasa inkonsisten, salah satu contohnya tentang umur Papa. Di halaman 38 Safa melihat foto Papa, seorang laki-laki yang berusia 30 tahunan. Namun di lain bagian diceritakan bahwa Papa berusia paruh baya. Menurut saya belum jelas 30 tahunan itu umur Papa sekarang atau umur Papa "saat" ada di foto.

Beberapa kejadian juga tak lepas membuat saya berkomentar. Misalnya saat Bu Nur meminjam LCD dari jurusan ekonomi. Jauh juga ya dari jurusan biologi minjem LCD ke ekonomi. Lintas Fakultas.

Jalannya konflik mudah ditebak dari awal. Baik itu konflik Safa dan Sandi, maupun konflik Safa dan keluarganya. Hanya saja penyelesaian konflik terkesan dipaksakan, apalagi konflik Papa Safa yang bahkan sampai bagian akhir nggak tau endingnya, alias gantung. Alih-alih memberi tahu bagaimana konflik itu berakhir, penulis membuat Sarah mengatakan kalau Papa sudah merencanakan penyelesaian masalah itu, tapi belum mau memberi tahu mereka, serta Safa yang menulis catatan harian berharap Papanya kembali. Entahlah.

Akhir kata, buku ini ringan untuk dibaca, semoga semakin banyak karya-karya bagus di wattpad yang bisa dibukukan!

Judul buku: Safa's Story
Penulis: Sirhayani
Kategori: Novel
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2017
278 halaman.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...