Skip to main content

A letter to someone


Hhhhh, sebenarnya gue udah berencana bikin tulisan yang sedikit lebih elegan. Yang gue pikirkan adalah surat untuk pasangan gue di masa depan. Tapi, ternyata hari ini keadaan gue ngga begitu baik untuk menulis. Selain ke RS ngambil obat, lanjut baca buku, dan nonton Waikiki, rasanya ngga ada hal lain yang pengen gue lakuin hari ini *mengetik dengan lemas*.
Mungkin tulisan itu akan gue ketik dan publish di kemudian hari, ketika perasaan gue lagi baik untuk menulisnya. Sekarang, gue bakal nulis surat ke diri gue di masa depan aja.

Hai, gue di masa depan!
Ini mungkin akan menjadi kapsul waktu buat lo karena gue tulis ini di tanggal tiga belas oktober tahun dua ribu dua puluh. Saat lo baca ini, tanggal berapa? Semoga lo ngga disorientasi waktu karena kebanyakan makan indomie *ga deng, hehe, becanda*
Gue baru aja selesai nonton Waikiki episode lima, sampai perasaan bersalah gue muncul karena belum buat tulisan untuk hari ke dua puluh tiga ini. Gue kesel juga... karena harus nulis, gue jadi mem-pending drama gue.
Tolong jangan salah paham ya, di masa-masa ini, kalo udah nonton drama Korea, yang lain jadi less prioritas. Wkwkwk.
Lo di sana gimana kabarnya? Masih suka nonton drama Korea ngga?

Eh, tapi, btw, setelah gue memutuskan untuk berhenti di episode lima itu, meski gue merasa bersalah, gue ngga langsung buka aplikasi blogger untuk nulis, melainkan buka Shopee dulu.
Perlu lo tau, di jaman ini, gue suka banget main Shopee Candy dan Shopee Bubble, gue bahkan mengumpulkan 3 bintang pada 81/82 level yang udah gue mainkan di Shopee Bubble. Rekor tertinggi gue adalah dua puluh dua juta tujuh puluh tujuh ribu sembilan ratus sembilan puluh, wkwkwk! (Hayo, lo baca ini bisa sambil membayangkan angkanya ngga? Wkwk)

Di level ke delapan puluh dua tadi, gue udah mendapatkan tiga bintang. Sayangnya, di baris terakhir gue mati. Asal lo tau aja ya! Lo emang masih lebih cocok main sudoku atau game apapun yang ngga ada game overnya, karena kalo udah kalah, lo kayak lagi kerasukan gorilla! Tadi aja, lo guling-guling sambil bilang ottokhe ottokhe jinja dan menggertakkan gigi lo sampai ngilu dan lidah lo kegigit.
Apa lo masih kayak gini di masa depan? Jangan ya, gue kasian, hiks.

Kalo dipikir-pikir... nonton drama, main game... gue emang ngga sibuk apa-apa belakangan ini. Semoga lo masih inget sih, di tahun 2020 ada corona. Rencana koass lo di bulan maret tertunda. Sekarang udah bulan oktober, bahkan lo belum wisuda ataupun sumpah koass. Kampus lo juga ngga ngizinin koass online selain stase Forensik.
Kemaren sebenernya koass lo bakal mulai sekitar awal oktober, tapi tiba-tiba ada pelonjakan kasus corona di Kalimantan Barat, rektor melarang koass turun, dan staff fakultas lo di WFH-kan lagi karena ada satu kasus positif pada dosen di fakultas sebelah. WFH semakin berlanjut, dan ngga ada kepastian atas status de facto lo sebagai mahasiswa koass (padahal secara de jure, di siakad lo udah semester dua, hiks).
Hmmm, maret ke oktober ya, udah tujuh bulan. Itu kira-kira udah bisa dapet dua stase mayor dan tiga stase minor, atau bahkan tujuh stase minor. Corona ini rasanya benar-benar menghabiskan waktu. Sampe udah capek mikirinnya.
Lo sekarang baca ini saat apa? Apa lo udah koass? Atau lo udah lulus? Baca ini sambil jaga IGD saat pasien sepi? Atau mungkin lo sekarang lagi sarapan pagi sama temen-temen residen lo? Mungkinkah lo udah spesialis? Hmmm, apapun lo sekarang, tolong jangan lupa kondisi tahun 2020 ini ya. Bukan berarti lo ngga boleh move on, tapi seenganya, dengan lo inget, menjalani ini ngga mudah, dan tolong kalo lo berwenang atas sesuatu, jangan sampe lo bikin kecewa banyak orang.

Ngomong-ngomong, lo udah sampe hampir koass sekarang ini, gue jadi inget sesuatu.
Coba lo gulir lagi ke atas, iya, foto pembuka tulisan ini. Kata-kata Steve Jobs. Itu lo foto di Perpustakaan Universitas, lantai satu, tepat setelah lo menyelesaikan ujian OSCE lo, tanggal empat balas januari dua ribu dua puluh. Lo kira, lo bakalan gagal di modul terakhir yang bernama FCP itu. Ternyata engga. You're the champion! Wkwk. Gue sampe ngga nyangka, nilai lo cukup memuaskan.

Karena kutipan Steve Jobs itu, gue jadi inget, beberapa waktu lalu gue baca jawaban di Quora, tentang asal mula kata "this too shall pass" , gue harap sampai saat lo baca ini, lo masih paham sama maknanya. Lo boleh sedih, lo boleh kecewa, lo boleh ngga suka sama keadaan. Bersedihlah sampai lega. Lo tau sampe mana batasnya. Abis itu, lanjutin hidup, this too shall pass.

Kalo nasi udah menjadi bubur, maka lo tinggal tambahin aja ayam suir, kacang, teri goreng, bawang goreng, dan kerupuk. Sekarang lo punya bubur ayam yang ngga kalah enaknya!

Ini bukan toxic positivity ya! Karena gue juga ngga ngelarang lo buat merasakan emosi negatif lo. Lo cuma perlu ingat kalo selain memvalidasi emosi negatif, lo juga butuh asupan energi positif! (Gue disclaimer kayak gini aja nih, soalnya makin ke sini, orang ngomong positif dikit aja langsung dicap toxic positivity).

Gue kirimkan semangat untuk lo di masa depan! Gue harap lo masih tetap menulis, gue nantikan buku-buku lo terbit! Tolong, buku ungu yang lo rencanakan kolaborasinya itu rampungkan, okey?

Gue tutup sampai di sini dulu yaa! Lain-lainnya gue tulis di diary aja. Tentang surat untuk calon pasangan itu, entar aja gue pikirin lagi.

Daaah, gue di masa depan! Semoga lo sehat terus, dan mendapat segala yang terbaik dalam kehidupan!

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...