Mencintai seseorang, gue beberapa kali mengalaminya. Ada banyak hal yang bisa gue ambil jadi pelajaran hidup. Salah satunya: cintai diri lo sebelum cinta sama orang lain.
Dulu, saat mencintai seseorang, sebagian besar waktu gue habiskan buat nyari tau dia suka warna apa? Klub bola favoritnya apa? Apakah dia main instrumen? Instrumen apa yang dia mainkan? Dia suka makan apa? Film dan artis favoritnya?
Gue tau. Gue tau semuanya. Gue bahkan nyari tau dia suku apa, dan berusaha belajar bahasa daerah tempat suku dia berasal.
Ketika gue mencintai seseorang, gue seringkali berubah menjadi seseorang yang bukan diri gue sendiri.
Gue mulai tertarik sama real madrid meski klub favorit gue barcelona, gue jadi suka latihan gitar dan upload di media sosial padahal skill gue masih payah, gue marathon avengers padahal sebelumnya gue ngga ngerti, gue pergi ke kantin di mana dia pergi padahal kantin langganan gue lebih deket sama kelas.
Dulu, ketika gue mencintai seseorang... I was not myself.
Menurut gue, dengan begitu, dia akan berpikir kita satu frekuensi. Aliran kita sama sehingga semesta menakdirkan bersama. Gue berupaya untuk menjadi yang mungkin dia suka. Bicara hal-hal yang dia suka, melakukan hal-hal yang dia suka, pergi ke tempat-tempat yang dia suka. Sampai gue lupa sama apa yang gue sendiri suka.
Mencintai seperti itu sedikit banyak melelahkan, kalau ngga terasa di awal, seenggaknya lo bakal ngerasain itu di akhir. Believe me. Lo sibuk dengan dunianya dan ninggalin dunia lo sendiri hanya karena atensi yang lo dapat dari dia terasa lebih candu.
Hhhhh. Tapi....
Makin ke sini, gue makin sadar. Gue boleh kok jadi diri gue sendiri. Gue boleh membicarakan apa yang dia suka, tapi bukan berarti gue harus pindah aliran literally kayak dia. Kalau dia suka genre rock dan indie, bukan berarti gue harus meninggalkan genre country dan jazz yang gue suka.
Kalo dia main drum, bukan berarti gue harus les drum dan mengabaikan gitar yang suka gue gonjrang-ganjreng ga jelas di rumah.
Kalo kompas politik gue A, bukan berarti gue harus canggung hanya karena kompas politiknya B. Kalo gue suka bubur diaduk, bukan berarti gue harus jaim ngaduk bubur hanya karena dia tim bubur ngga diaduk.
Dengan jadi diri sendiri, gue yakin gue akan menemukan orang yang menghargai perbedaan. Suatu saat, ketika gue temukan orang yang tepat, kita akan bicara tentang kita berdua, bukan hanya tentang dia aja karena gue suka dia, atau tentang gue aja karena dia suka gue.
Saat hari mencintai itu tiba, gue akan dengarkan apa yang dia suka, gue akan kenali dia dari setiap ceritanya. Lalu, gue akan kenalkan diri gue sendiri juga, yang udah lebih dulu gue cintai ini :)
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment