Skip to main content

How to win my heart?

Level ke-PD-an meningkat 3729815046 kali lipat karena tema ini.


Jiahhhh, temanyaaa, kayak ada yang mau memenangkan hati gue aja! Nyahahah. Ya... tapi ngga apa-apa deh. Gue kasi tau aja *PD. Jaya*

Gue akan bahas how to win my heart as a friend aja ya, soalnya kalo as a partner... rahasia dong! Ceile. Ngga deng. Menurut gue malah yang lebih penting itu as a friend, karena seseorang ngga akan bisa masuk ke circle yang lebih jauh di hidup gue kalo jadi temen aja dia engga. Baik, kita mulai:

  • Menyenangkan. Gue suka orang yang menyenangkan. Wujud menyenangkan itu bisa beragam. Baik, ramah, dapat dipercaya. Menurut buku Master Your Time, Master Your Life, kita bisa nentuin apakah seseorang itu menyenangkan atau engga dari lima detik pertama kita ketemu sama dia. Meski first impression itu bisa aja keliru, tapi itu jarang terjadi. Gue biasanya akan mengamati apakah seseorang ini menyenangkan atau engga dari cara dia bicara, mendengarkan, bagaimana raut wajah dia ketika lagi senyum. Belive it or not, I observe. I do. Biasanya kalo dari pertama kali ketemu aja gue kurang senang, dia hanya akan menjadi kenalan gue doang.
  • Kompeten. Sedikit berbeda dari poin pertama, mengamati apakah seseorang berkompeten atau engga butuh waktu yang lebih banyak. Gue musti lihat gimana aktivitas dia, gimana kalo gue terlibat suatu proyek/event/kerjaan sama dia, dan mengamati bagaimana dia berproses (seengganya yang dia perlihatkan). Kalo dia orang yang kompeten, maka gue suka! Orang yang kompeten adalah orang yang bisa diandalkan dan dapat mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik.
Fun fact: secara sadar atau engga, kita cenderung lebih suka sama orang yang menyenangkan dan kompeten daripada orang yang menyenangkan aja. Ketika kita tau seseorang ngga kompeten, kita cenderung ragu untuk banyak terlibat dalam perkerjaan atau hal-hal penting dengannya.
  • Mentally mature. Gue seneng sama orang yang matur mentalnya, dan bisa berpikir dengan tenang, baik, dan benar terhadap sesuatu. Sebaliknya, gue paling gedek kalo orang ngga bisa matur dalam berpikir dan bersikap. Iya, gue juga masih belajar untuk menjadi orang yang matur. Tapi kan kadang kesel ya... Kayak, adaaa aja orang yang pas lagi diskusi tuh, kerjaannya nyelaaaa mulu, maksain pendapatnyaaaa terus, selalu menganggap pendapat orang lain sebagai ancaman, bahkan melontarkan banyak logical fallacy. Wah, logical fallacy ini nih, banyak banget dan sering kejadian!
Mulai dari ad hominem (bukan bahas pendapat orangnya, tapi malah nyerang orangnya langsung), kayak: "Halah! Lo kan pecinta k-pop, ngapain denger pendapat lo!"

Atau tu quoque, ketika temen lo meng-counter pendapat lo dengan "kamu juga begitu." Misal, lo bilang: "kalo menurut gue nih, nyontek tuh ngga baik.", dan temen lo akan bilang, "ah, dulu lo juga tukang contek." Mmmmmm, guys. Kalian harus sadari ya, nge-counter orang kayak gini tuh termasuk logical fallacy alias kecacatan berlogika.

Lagi, red herring. Pernah ngga lo pas lagi diskusi sama orang tentang suatu topik, terus dia malah jadi ngelantur ke hal lain? Alias, ngga nyambung braaayyy. Seperti contohnya, lo bilang: "Eh, ternyata JK. Rowling itu dermawan banget ya, dia nyumbangin keuntungan buku Fantastic Beasts, Beedle The Bard dan Quidditch Through The Ages buat yayasan Lagos, yayasan anak-anak yang udah ngga punya ortu.", eeeehhh, temen lo malah jawab: "Ya lebih dermawan Abu Bakar Ash-Shiddiq lah yang nyumbangin seluruh hartanya!" H to the UFT. HUFT!

Lo pernah ngadepin cacat berlogika kayak anecdotal? Ketika temen lo menggunakan diri dia sendiri atau pengalamannya sendiri untuk berpendapat. Misal nih lo bilang, "praktik husband stitch itu adalah praktik misoginis, guys. Itu berdampak loh pada ketidaknyamanan aktivitas seksual si wanita. Lagian bukti saintifik tentang manfaat praktik inipun ngga ada.", tau-tau temen lo jawab, "Ah, emak gue dulu ngelahirin gue ditambah tuh jaitannya supaya lebih rapet (husband stitch), ngga kenapa-kenapa, buktinya gue akhirnya punya adek."

Strawman, Special Leading, False Dichotomy, Bandwagon, Appeal to Popularity, Appeal to Authority, Burden of Proof, False Cause, dan beeeh masih banyak lagi. Duh, kalo dijelasin atu-atu logical fallacy ini, bisa-bisa gue ngga tidur sampe adzan subuh. Tapi yang pasti gue paling males sama orang-orang kayak di atas. They are not going to win my heart, whether they want it or not!

  •  Healthy bragging. Gue itu tipe orang yang senang mengapresiasi dan mendukung temen karena gue bangga kalo temen gue punya pencapaian atau melakukan progress yang baik. Gue akan dengan senang hati memberi kritik, saran, dan masukan kalo diminta. Dan menurut gue, bragging (pamer) ini oke oke aja asal dilakukan dengan sehat (healthy bragging). Pamer ini ngga sama dengan sombong ya, guys. Pamer itu ngga apa-apa asal ngga dilakukan secara agresif. Tapi, asal tau aja ya, selama lebih dari dua dekade pengalaman gue berteman, kerap kali gue temukan temen yang humblebrag (pamer terselubung, atau istilah bekennya, "merendah untuk meroket"), dan bahkan ada juga yang terang-terangan proudbrag!.
Humblebrag: "Gue udah nyelesein catatan biokim nih!, tapi tulisan gue ga rapi-rapi amat, hehe"

Padahal catatannya rapi kayak catatan emmastudies.

Proudbrag: "Guys, di antara semua anak satu shift, yang berhasil buat sediaan preparat histologi tuh cuma gue! Waaahh, gila, berbakat ngga tuh gue?"
(gue yang mendengarnya, dalem hati: iya serah lu aja deh -_-).

Healthy bragging: "Gengs, jadi gue barusan bikin rancangan dekor buat acara malam inaugurasi. Dekornya udah gue sesuaikan sama konsep Bollywood yang mau anak acara pake. Let me know what you think, gengs. Thank you!"
Nah, kan enak tuh mengapresiasinya. Lo tuh bragging emang tujuannya untuk mengundang orang untuk menilai secara jujur, itu yang lo butuhkan untuk berkembang. Ketika pekerjaan lo bagus, lo akan mendapat pujian. Dan cara bragging kayak gini nih yang sehat dan gue suka. Bukan temen-temen yang humblebrag atau proudbrag!

Sebenernya cuma itu aja sih cara-cara yang bisa buat gue suka sama orang (untuk dijadikan teman). Tapi oke, ada satu lagi, ini yang terakhir, dan cuma kalian aja yang tau karena kalian udah baca sampe sini. Gue seneng banget sama orang yang cerdas. Boleh jadi, gue akan tertarik sama orang yang cerdas melebihi batas pertemanan. Cerdas dalam hal apapun ya. Apakah dia cerdas dalam akademisnya, cerdas dalam bakat-bakatnya, cerdas dalam humornya, cerdas membawa suasana... Pokoknya cerdas yang bisa membuat hati gue bergejolak dan bilang, "wah ini siapa?" sambil tersenyum. Hehe.


Baiklah, cukup sekian perjumpaan kita di blog gue hari ini. Nantikanlah tulisan-tulisan gue untuk tema-tema berikutnya! Byeeee :D

Comments

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...