Sebagian besar cerita tentang sekolah gue udah pernah gue bagikan di postingan-postingan sebelumnya. Gue sampe bingung sendiri mau cerita apa lagi. Setelah nyontek ke blognya Aya di sini, gue akhirnya “aha” untuk nulis apa, walaupun ngga “aha-aha” banget. Nyahahahah.
Oke, kita mundur ke... delapan belas tahun yang lalu...
Kala itu gue bukan kale (jiah, emang nkcthi!).
Kala itu gue adalah seorang anak kecil yang kalo yakult-nya direbut, bakal nangis kejer sampe nari jaipong. Ngga ngga. Tapi iya, gue bakal nangis banget, nyahahah. Karena emang pernah kejadian!
Jadi dulu, gue TK di TK Islam Harapan Indah. Gue satu kelas dengan seorang anak bernama Yupi. Dia ini sukaaa banget sama yakult. Pernah tuh, temen gue yang lain yang namanya cacha, bekal yakult, terus direbut sama Yupi dan diaku-akui sama dia kalo itu punya dia.
Suatu hari gue mau membuktikan seberapa anehnya Yupi terhadap yakult. Gue pun nekad membawa yakult ke TK. Bener aja, hari itu Yupi ngaku-ngaku kalo itu punya dia. Beeeehhhh, gue? Nangis lah karena yakult gue direbut, lapor guru. Hmmm. Abis itu Ibunya Yupi minta maaf ke Ibu gue. Gue agak merasa bersalah sih sama Yupi karena melakukan percobaan dan pembuktian ke dia.
Kejadian lain di TK yang gue inget juga adalah rebutan uang lima ratusan rupiah logam kuning gambar melati sama seorang anak bernama Anugrah. Jadi suatu hari gue bawa uang logam itu. Ngga sengaja gue ngejatohin di taman, tepatnya di pagar taneman dekat mainan panjat-panjat. Gue cari-cari tapi ngga dapet, huft. Padahal gue udah berencana menggunakan uang itu buat jajan kue mamang.
Besok paginya, gue ngga nyerah untuk mencari. Gue sibak tuh pagar taneman dan menyusuri rumput-rumput. Tiba-tiba seorang anak bernama Anugrah datang dan nanya, "nyari apa?"
"Nyari uang jatoh", jawab gue
Diapun tiba-tiba tanpa diminta, ikut mencari. Apesnya ternyata dia dapet! Dia berteriak gembira dan bilang "yeee... yeee... dapat uang"
Gue dengan kesal memotong kesenangannya.
"Kembalikan, itu uang aku!"
"Tapi kan aku yang nemu!", katanya
"Tapi kan itu uang aku!", gue ngga mau kalah
Anugrah tetap bersikeras. Gue akhirnya melawan dengan cara terakhir yaitu: menepis tangannya sehingga uang itu hilang kembali entah kemana. Bagi seorang anak TK, itu keputusan yang sulit loh. Tapi gue mikir, lebih baik gue dan Anugrah sama-sama ngga dapet uang itu, daripada uang gue dimiliki sama dia (aseeekkk).
Percaya ngga percaya, kejadian itu terjadi berulang kali karena sejak hari itu gue dan Anugrah berkompetisi mencari uang di taman. Siapapun yang mendapatkannya, pada akhirnya tangannya akan ditepis oleh yang ngga dapet. Yah, akhirnya kami capek sendiri dan berhenti melakukan itu sih.
Hal lain lagi yang gue inget waktu TK yaitu, gue orang yang cepet bosen dan cukup licik. Suatu ketika, kelas gue ditugaskan untuk membuat huruf a di buku garis tiga (buku tegak bersambung). Guru kami membuat contoh di papan tulis, tapi gue ngga mau ngerjainnya. Gue akhirnya membawa buku kosong gue ke depan kelas dan bilang ke guru gue,
"Ibu... boleh tidak, Ibu contohkan kepada saya huruf a di satu baris pertama ini? Bagaimana cara menulisnya, Bu?"
Gue saat itu yakin, guru gue ngga bakal nolak buat nulisin contoh itu di buku gue. Bener aja, guru gue pun tanpa curiga menyanggupinya. "Satu baris pertama selesai.", batin gue.
Setelah itu, gue mencari mangsa. Siapa lagi kalau bukan Cacha, si anak pintar di kelas. Gue mulai merayunya, "Cacha, nulis huruf a tu gimane? Bise contohkan tak di baris kedua ini?", kata gue
Cacha dengan senang hati mencontohkan, "pertame, buat perutnye dulu, lalu ekornye.", katanya dengan penuh semangat.
"Ooohhh... tulisan Cacha bagusss!!!", kata gue. Cacha terlihat senang.
"Cobe Cacha tulis lagi di baris bawahnye! Tulisan Cacha bagus!!!" Lanjut gue.
Seperti yang gue rencanakan, akhirnya Cacha menuliskan huruf a di baris selanjutnya. Kemudian, hanya dengan kata "lagiii, lagiii!!!" sambil memasang wajah antusias, Cacha menambah barisan huruf a di buku gue. Tugas huruf a gue selesai, dikerjakan oleh orang lain.
Tenang. Itu dulu, gue sekarang udah menjadi manusia yang bertanggungjawab kok. Tapi kalo inget-inget kejadian itu lagi, gue baru tau konsepnya setelah gue berumur dua puluh satu tahun dari sebuah buku. Ternyata kalo kita mau orang lain bantu kita, konsepnya adalah minta tolong, yakinkan dia bahwa dialah yang bisa menolong kita, lalu berikan reward atas bantuannya. Nyahahahah, iya, iya. Ngga gue ulangi konsep ini untuk kelicikan-kelicikan seperti itu.
Kehidupan gue di TK ngga hanya berkutat masalah yakult, uang, dan kelicikan. Gue juga masih inget, ada satu teman kelas yang naksir gue. Namanya: Andre. Dia sering banget melirik ke bangku gue tiap di kelas. Teman-teman juga banyak yang mendatangi gue dan bilang kalo Andre suka sama gue, dan dia salam ke gue.
Gue rasa si Andre ini adalah orang pertama di dunia yang suka sama gue. Anyway, gue sampe inget dulu telinga Andre pernah luka dan ditutupin kasa. Hmmm, Andre, Andre...
Selain itu, paling yang gue inget adalah tiap hari jumat Ibu-ibu masak bareng di TK untuk seluruh anak-anak.
Lanjut ke masa SD. Gue awalnya sekolah di MIN Pal 5 Pontianak. Cuma dua tahun karena gue pindah ke Sanggau ketika kenaikan kelas tiga.
Ga banyak hal yang gue inget di sekolah ini, kecuali nama kepsek gue Pak Basuni, wakel gue waktu kelas satu namanya Bu Rabi'ah, dan wakel gue waktu kelas dua namanya Bu Nurhayati.
Kejadian yang persis gue inget adalah gue duduk sama Wahyu, dan pernah melakukan kelicikan juga.
Persisnya itu pelajaran Fikih. Gue emang ngga bawa buku paketnya dan ternyata hari itu ada latihan. Ada satu nomor yang sulit banget buat gue. Gue akhirnya melihat punya Wahyu. Ternyata jawabannya sholat dzuhur.
Wahyu yang ngeh kalo gue ngeliat, langsung murka dan melapor, "Bu, Irma menyontek saya!", katanya.
"Ngga ada, Bu!"
"Ada, Bu. Dia lihat jawaban saya.
Semua orang di kelas menatap gue. Gue merasa terpojokkan. Guru gue mengkonfirmasi ke gue.
"Irma, apa benar kamu menyontek Wahyu?"
"Tidak, Bu...", gue mulai menangis
"Lalu, kenape kau liat buku aku?!", Wahyu masih murka.
"Saya tau, Bu jawaban nomor x itu sholat zuhur. Tapi kan saya tidak tahu, Bu... tulisan zuhur itu bagaimana. Jadi saya lihat punya Wahyu. Ternyata tulisannya adalah d-z-u-h-u-r.", jawab gue terisak-isak.
"Nah, Wahyu... kamu tidak boleh berburuk sangka kepada teman ya. Irma kan cuma mau lihat bagaimana penulisannya."
"Ck, ish!", kata Wahyu. "Jangan liat-liat buku aku agik!", dia kesal sekali.
"Wahyu, jangan begitu dengan teman", guru gue menasehati.
Gue lolos dari percontekan itu.
Lo kesel? Iya, gue juga. Playing victim banget, dan gue ngga suka. Tapi entah kenapa waktu itu gue lakukan. Yang pasti untuk menghindari hukuman dan mempertahankan diri di posisi terpojok. Kalo suatu hari nanti Wahyu baca ini, semoga dia memaafkan gue. Maafin gue ya, Yu...
Gue ngga pernah playing victim kayak gitu lagi. Karena sejak SMP gue ngga nyontek lagi. Seperti domino, satu keburukan bisa berefek pada timbulnya keburukan lain. Dan, gue ngga mau hal itu terjadi lagi di gue.
Tahun dua ribu lima gue pindah sekolah. Gue jadi anak baru di sebuah sekolah negeri. Tepatnya di tengah kota mungkin ya. Karena deket pasar juga. Sekolah itu terbilang unik, karena peninggalan jaman Belanda. Sebelum menjadi sekolah negeri di mana gue bersekolah, sekolah tersebut adalah SR (Sekolah Rakyat) tempat Nenek gue mengenyam pendidikan sekolah dasar. Bangunannya tua, tapi kokoh, terbuat dari kayu belian dan tinggi. Dulu gue ngga kepikiran kenapa arsitekturnya seperti itu. Tapi, nenek gue akhirnya bilang kalo itu bertujuan untuk mengatasi kalau sewaktu-waktu bajir. Kebetulan sekolah gue ini juga deket sungai kapuas. Banyak banget kenangan berharga gue di sini. Termasuk yang gue ceritain di tulisan “Surat untuk cinta pertama saya”, hehe.
Lanjut, masa-masa SMP adalah masa-masa yang mengasyikkan. Seru, kocak, sedih, kecewa, penuh drama dan kekonyolan. Masa-masa ngeliat orang-orang bikin geng yang namanya unik kayak narziz, lifeboyz, KCMT, SNC, dan lain-lain... sampe pertama kali liat kesurupan masal di sekolah dan terkagum-kagum sendiri.
Terusss, di masa SMA... ngga kalah seru. Banyak hal-hal yang gue ambil pelajaran selama SMA. Gue juga pernah cerita di sini: A moment to remember
Selain enak dan serunya masa SMA, saat itu gue juga pertama kalinya menghadapi konflik kehidupan yang sangat besar (masalah di sekolah) dan bikin gue stres. Tapi, akhirnya terlewati juga sih. Syukurnya.
Gue lanjut kuliah di Kedokteran Untan. Padahal awalnya gue mau masuk Sastra Inggris UGM. Padahal juga, gue ngga pernah pengen jadi dokter.
Gue mengalami masa terpuruk selama empat tahun berkuliah. Ceritanya bisa lo baca di Quora gue karena cukup panjang. Tulisannya di sini: Adakah penyesalan kamu kuliah di jurusan kedokteran?
Saat ini, gue udah lulus S1 dan lagi lanjut Koass. Mohon doanya yaa, teman-teman! Gue udah tujuh bulan libur nih selama pandemi, hiks.
Mungkin itu aja yang bisa gue bagikan hari ini. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Byeee!
Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment