Skip to main content

A place I want to visit: berawal dari Space-toon

Ke Berlin untuk melihat seperti apa batas Jerman Timur dan Jerman Barat ketika dulu dipisahkan oleh sebuah tembok? Ke Paris, tempat Louis Pasteur, orang yang membuktikan teori biogenesis menimba ilmu? Atau, yang lebih dekat... ke Jogja untuk short escape? Hhhh, tempat-tempat tersebut adalah beberapa tempat yang mungkin saja menarik, tapi setelah gue pikir-pikir, ada tempat yang pengen banget gue kunjungi sejak gue masih kecil. Kalo lo perhatiin judul postingan blog ini, itu adalah cluenya.

Oh, bukan. Gue bukan pengen ke stasiun TV Space-toon saluran masa depan, hehe. Gue pengen ke suatu tempat yang gue tonton di Space-toon. Tempat itu adalah... tubuh gue sendiri.


Semua itu berawal dari The Magic School Bus episode Inside The Human Body. Gue yang saat itu masih kecil, berkhayal gimana rasanya masuk ke dalam tubuh gue dengan sebuah bus dan merasakan badai adrenalin seperti saat bermain Hysteria di Dufan. Melihat makanan masuk dalam mulut gue, ke kerongkongan merasakan gerakan peristaltik, dan melihat makanan itu dihantam otot-otot dan enzim-enzim lambung gue sampe jadi chyme alias bubur, menjelajahi usus yang panjang dan turun naik, lalu bus-pun kembali ke lambung, menunggu gue bersendawa untuk keluar bersama gas. Arhhhhh, bukankah itu keren sekali?

Belakangan, setelah gue dewasa, gue ngga hanya pengen ada di dalam bus, tapi gue pengen ikut mengalir secara langsung bersama substansi yang ada di dalam tubuh gue, mengecil hingga 1 mikrometer dan meraba secara langsung sel-sel gue!
Rencana gue adalah, gue akan masuk dengan didampingi oksigen dan gas-gas lainnya (yang sebenernya lebih kecil daripada gue) sebagai tour guide, masuk ke hidung dan digelitik oleh rambut-rambut hidung itu. Gue akan lewati konka gue yang lembab sampe masuk menuju mulut dan berakhir di sebuah lorong gelap yang disebut faring. Oksigen selanjutnya akan membawa gue ke dua persimpangan, dan bertanya,

"Jadi lo mau kemana, Ir? Ada dua jalan nih, kalo lo mau ke lambung kayak khayalan masa kecil lo, kita masuk ke esofagus... tapi kalo lo mo ngerasain pengalaman seperti bermain labirin di percabangan alveolus, kita lanjut ke laring."

"Oke, gue udah pernah liat bus masuk ke esofagus waktu kecil di tipi. Sekarang, bawa gue melewati pita suara gue yang bisa mengeluarkan suara emas itu!" jawab gue.

Gue dan oksigenpun melanjutkan perjalanan ke laring, melewati glotis, trakea, bronkus, bronkiolus, hingga alveolus!

"Ir, jangan lama-lama dong kagum sama pemandangan di sini! Lo tau sendiri kan barusan lo makan indomie goreng pake nasi, akan ada banyak gula yang mengandung rantai karbon yang butuh gue, dan harus diubah menjadi karbondioksida, air dan energi!" tegas oksigen.

"Iya, gan! Eh, gen! Sabar, gue masih ngamatin itu!" gue nunjuk ke arah lubang di alveoli, di situ ada banyak oksigen yang hilir mudik dari alveoli satu ke alveoli lainnya.



"Itu pori khon! Temen-temen gue lagi silaturahmi antar alveoli, bahasa bekennya 'ventilasi kolateral', udahan yuk, gue udah ditelpon nih buat cepetan masuk ke intrasel."

"Yaudah, iya..." jawab gue sedikit ngambek.

Kamipun menjalani proses difusi ke dalam kapiler darah yang menyelimuti alveoli dan mengalir bersama darah menuju jaringan.

"Eh, btw, tadi gue liat itu sel-sel alveolus kayak kembar tapi beda yak? Kayak ada apa gitu, gue jadi merasa tertantang nih kalo ada kuis 'temukan perbedaan dari dua alvelolus di depan Anda', hahaha"

"Ya jelas. Emang ada dua tipe. Tipe I ama tipe II. Yang lo liat tadi pasti makrofag kan? Itu si makrofag sohibnya alveolus tipe II, makanya ada di situ." kata oksigen sambil bergandengan tangan dengan hemoglobin. Gue ngga tau sejak kapan mereka jadian!

"Eh, iya betuuu...." Belum sempat gue menyelesaikan perkataan gue, tiba-tiba oksigen narik gue dan kami masuk ke dalam intrasel.

"Selamat datang di sitosol!"

"Wah, gilak! Keren abis! Kita mau ngapain di sini?" tanya gue.

"Kita akan melakukan glikolisis. Eh, bukan kita. Gue aja sih." jawab oksigen.

"Lah, terus gue gimana?" *panik

"Lo perhatiin aja, udah waktunya gue melakukan tugas gue, dan kerjaan gue sebagai tour guide lo sampe di sini aja!" Kami berpelukan, "Abis ini lo akan liat gimana proses ini menghasilkan energi sebanyak 2 ATP. Terus, lo tinggal ikutin aja alurnya... masuk ke matriks mitokondria untuk liat siklus krebs yang ngehasilin energi sebanyak 2 ATP dan karbondioksida, lalu terakhir lo pergi ke membran dalam mitokondria buat ngamatin fosforilasi oksidatif yang bakal ngehasilin energi paling banyak." oksigen masih menjelaskan dengan sabar kepada gue.

"Berapa?" gue kepo. "28 ATP!" jawab oksigen ringkas.



Gue terdiam sesaat. "Oke, abis itu? Gue ngga mungkin terjebak dalam sel ini selamanya kan?"

"Tenang, meski wujud gue nanti bukan oksigen lagi, gue akan terikat dengan karbon sehingga menjadi karbondioksida. Gue akan pimpin lo ke kapiler darah menuju paru-paru, masuk lagi ke alveoli, jalan ke bronkiolus, bronkus, trakea dan melewati lorong-lorong yang tadi lo sebut laring dan faring. Abis itu kita bakal keluar dari tubuh lo."

Gue haru, tanpa sadar gue meneteskan air mata. "Udah, lo jangan sedih. Kita bakal ketemu lagi, mungkin ngga dalam bentuk kayak gini. Bisa aja I see you at ICU, dalam bentuk gue udah di dalam tabung besar yang manusia sering sebut tabung oksigen. Kalo lo nemu tabung itu, jangan lo gosok-gosok kayak lampu aladin! Gue keluarnya lewat ventilator!"

"Hahaha, iya iya..." gue mengusap mata.

"Banyak-banyak belajar ya lo! Eh, engga deh. Gue tau lo ngga suka belajar. Jadi gue saranin lo supaya banyak-banyak mikir, timbulkan banyak pertanyaan di otak lo, buat diri lo penasaran sehingga insting alami lo bekerja untuk nyari tau banyak ilmu."

"Iya, makasih yaa, lo banyak bantu gue hari ini. Dan untuk tour guidenya, kalo ada cara membalas kebaikan lo, pasti akan gue lakuin."

"Gampang, lo tanem aja pohon dan ikut kampanyekan larangan penebangan pohon liar!" oksigen mengedipkan mata.

"Makasih.." kata gue sekali lagi.

Oksigen melambaikan tangannya dan masuk ke dalam proses glikolisis.

TAMAT.


Begitulah kira-kita khayalan gue ini, teman-teman. Kalo aja itu terjadi, gue pasti seneng banget. Apalagi kalo bisa masuk ke sistem organ yang lain dan melihat betapa kerennya tubuh gue bekerja.
Ya! Kalo sebagian orang pengen keliling dunia bahkan keliling antariksa, maka gue adalah orang yang pengen keliling dunia gue sendiri, alias tubuh gue. Itulah tempat yang pengen banget gue kunjungi dari dulu.

Sekian tulisan gue kali ini, terima kasih udah baca sampe sini, see you on the next post!




Comments

  1. Ga paham banget suka tulisanmu aku ir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ayaaa, karena udah apresiasi dan support terusss *send a hug*

      Delete
  2. Kayak di film adiboo yang masuk kedalam tubuh buat menjelaskan. Tapi yang ini lebih wow kata-kata dan kalimatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk, terimakasih! Jadi pengen nonton adiboo nih, soalnya belum pernah! :D

      Delete
  3. Aku paling ingat episode yg menyelidiki kenapa ada anak yg tiba-tiba jadi oranye

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...