Skip to main content

My Parents.


Ini udah hampir di penghujung hari kelima, tapi gue masih belum selesai menulis untuk tema hari ini. Sebetulnya, cukup mudah untuk menceritakan banyak hal tentang tema ini, hanya saja... ini bukan platform yang tepat. Seenggaknya buat gue.
Keluarga adalah bahasan paling sensitif yang akan gue bahas dan hanya dengan orang-orang yang gue percaya aja, orang terdekat yang tau hanya sahabat tertentu, bahkan gue ngga pernah membahas ini dengan temen deket gue. It's just too personal for me, it's a privacy that I don't want others to know.

Selama hampir dua puluh tiga tahun gue ada di dunia, tentu gue udah ngerasain banyak emosi selama gue berada pada lingkungan keluarga. Baik itu emosi positif seperti senang, suka, riang, tawa, bahagia, maupun emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, kesal dan lain-lain.

Seperti yang gue katakan tadi, ini bukan platform yang tepat, sehingga untuk tulisan kali ini, gue hanya akan menulis sekelumit kisah. Setidaknya gue akan tulis kesan-kesan yang bernilai positif aja dalam hidup gue.

Ibu gue, gue, kakak kedua gue, dan tetangga gue; tahun 1998.


Gue, dilahirkan di Pontianak, pada tanggal dua puluh dua november tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh, di sebuah klinik bidan. Kedua orang tua gue, yang saat itu memang sudah menanti anak ketiganya, memberikan sebuah nama kepada gue: Irmaningsih. Dengan doa-doa baik  karena gue lahir pada bulan terjadinya Isra' Miraj pada tahun hijriyah, dan dengan penuh pengharapan dapat menjadi seorang yang berguna bagi kesehatan, seperti bidan yang membantu Ibu dan gue dalam proses melahirkan, yaitu bidan Ningsih.

Gue tumbuh dan dibesarkan, serta diajarkan tata krama hidup oleh seorang Bapak bersuku bugis dan Ibu yang bersuku dayak. Bapak bekerja sebagai PNS, sedangkan Ibu menjadi Ibu rumah tangga. Kami hidup dalam keadaan yang sangat biasa... Ibu yang setiap pagi membuat bubur dengan telur dadar yang dipotong-potong, Bapak yang pulang mengayuh sepeda sembari membawa nasi kotak bertuliskan selamat menikmati, dan cengkrama kami di depan TV menonton AFI di Indosiar sambil menikmati es lilin jualan Ibu yang menjadi favorit rombongan anak-anak mengaji.

Orang tua gue, bukan tipe orang tua yang akan membelikan anaknya bakso tiap kali mamang lewat di gang kami sambil mendentingkan sendok pada mangkok, tentu karena... membeli makanan di luar akan menjadi cukup mahal. Tapi, kadangkala, ketika lampu sedang padam, dan mamang kue putu lewat dengan bunyi khas dari ketel uapnya, Ibu akan mengambil beberapa ratus logam dari kaleng uang es lilin jualannya demi membeli beberapa putu yang akan menemani kami dalam gelapnya rumah. Ketika batang lilin dinyalakan, giliran kami, anak-anaknya yang berubah menjadi dalang sekaligus wayang, bermain boneka-bonekaan jari yang membentuk bayangan pada dinding. Kelinci, buaya, burung, banyak juga ya wayang kami dulu.
Selain kenangan-kenangan itu, sepertinya kenangan yang gue paling ingat kebanyakan adalah kenangan menonton acara TV bersama-sama, karena kami baru memiliki TV pada tahun dua ribu tiga. Acara-acara favorit kami adalah telenovela-telenovela seperti Yo Soy Betty, la fea  dan Carita de Angel, lalu menghayati kesedihan di sore hari karena menonton Dae Jang Geum serta serunya drama Full House, tak ketinggalan beberapa sinetron seperti Putri Duyung yang air matanya bisa jadi mutiara, dan Kisah Sedih di Hari Minggu yang tayang pada hari kamis. Kami juga tak pernah absen menonton AFI dan Mamamia. Wah, acara-acara di Indosiar dulu banyak yang menyenangkan!

Yo Soy Betty, la fea.


Carita de Angel


Dae Jang Geum

Putri Duyung

Kisah Sedih di Hari Minggu


Kehidupan gue di keluarga ini ngga nyampe tepat delapan tahun. Pada kenaikan kelas tiga, gue pindah.

Beberapa bulan sebelumnya, Ibu dan gue pergi ke wartel (warung telepon), dan menelpon kakak laki-laki Ibu di suatu kota. Saat itu, kondisi Ibu sudah melahirkan adik laki-laki gue. Gue tau, keadaan orang tua gue saat itu ngga begitu baik. Orang tua gue berpikiran untuk menitipkan salah satu anaknya pada kakak laki-laki Ibu gue. Awalnya, yang akan dititipkan adalah adik gue, tapi ternyata adik gue adalah anak laki-laki. Anak yang begitu diharapkan dalam keluarga. Maka diantara gue dan dua kakak perempuan gue, gue lah yang paling mungkin dititipkan ke sana.

Tanggal lima juli tahun dua ribu lima, gue pindah ke sebuah kota yang lebih kecil. Gue tinggal bersama om dan tante gue yang selanjutnya gue panggil Bapak dan Mama. Kami melakukan persidangan atas adopsi ini, sehingga secara hukum, gue sah sebagai anak mereka. Gue dirawat, dibesarkan dan diajarkan hidup dengan baik oleh mereka. Bapak gue seorang Melayu, sedangkan Mama adalah seorang Jawa. Ngga pernah gue ngerasa mereka adalah orang tua angkat, saking baiknya perlakuan mereka hingga gue merasa selayakanya anak kandung.
Gue belajar tata krama yang jauh lebih kompleks dalam keluarga ini. Gue dilatih menjadi orang yang sangat teratur, terencana, tertata, rapi, bersih, rajin... yang secara ngga langsung membentuk gue menjadi orang yang cukup perfeksionis.
Gue belajar bahwa gue ngga boleh mengecap dan berbunyi saat makan, tidur di bawah jam sembilan malam, mengerjakan PR di siang hari, bermain hanya sampai jam empat sore, mandi dengan baik dan bersih, ingat waktu saat menggunakan telfon rumah ketika menelfon teman, hingga membatasi jam menonton TV.
Bapak gue bekerja sebagai PNS, beliau cukup sibuk karena memegang jabatan yang cukup penting di sebuah instansi, sehingga gue ngga begitu sering bercengkrama dengannya meski pada jam istirahat Bapak selalu pulang ke rumah. Ibu, adalah ibu rumah tangga, gue belajar banyak dari beliau; membersihkan rumah, memasak, merapikan pakaian, dan pelajaran-pelajaran hidup lainnya. Setidaknya itu memori yang bisa gue inget saat kecil.

Gue berada di rumah itu selama sepuluh tahun. Di tahun dua ribu lima belas, gue mulai menjalani perkuliahan di Pontianak dan kembali hidup bersama orang tua kandung gue.
Iya, jadi gue punya empat orang tua. Dua orang tua kandung, dan dua orang tua angkat. Kalau ditanya, pembelajaran hidup mana yang paling melekat pada diri gue? Maka gue akan menjawab: pembelajaran dari orang tua angkat gue.
Bukan karena apa-apa. Tapi, hal itu karena gue hidup bersama mereka sejak umur delapan tahun. Usia tersebut adalah usia dimana pembentukan psikologis hidup gue sedang berkembang pesat. Gue menerima banyak informasi sejak kecil, remaja, dan dewasa muda selama tinggal bersama orang tua angkat gue. Itulah yang menjadi alasan mengapa gue lebih cenderung kepada pembejalaran yang orang tua angkat gue tanamkan, dan bahkan lebih dekat pada mereka.

Hingga saat ini, gue adalah anak yang mencoba untuk dekat pada semua orang tua gue. Gue mencoba memahami mereka. Despite of all the sadness, angriness, dan disappointment yang juga pernah gue rasakan selama hidup bersama mereka, gue menyayangi orang tua gue. Mereka adalah dimana gue akan pulang.

Comments

  1. Yassh. Tetap berbakti dan muliakanlah empat orangtua mu����
    kangen ba ng et Ir!

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...