Skip to main content

I like tteokbokki, but I don't like you.

Hai! Sudah lama saya ngga nulis di blog lagi. Lebih tepatnya, kemarin-kemarin ada nulis sih, cuma akhirnya saya draft-kan karena saya sudah punya diary. Jadi, beberapa tulisan yang sensitif saya tulis di sana saja. Belakangan, saya juga aktif di quora (walaupun sekarang sedang hiatus), jadi memang jaraaang sekali menulis di sini.

Well, tulisan saya hari ini sebenarnya adalah kelanjutan dari tulisan saya yang ini: This is not a tteokbokki recipe (but it could be a little bit spicy). Saya kemarin baru saja datang ke instansi itu (sebagai catatan, instansi yang saya tulis itu betulan ada!).

Di masa pandemi seperti ini, tentu keadaan instansi itu jauh lebih sepi. Saat itu saya datang jam dua siang, ketika matahari sedang terik-teriknya. Begitu masuk portal, saya langsung disuguhkan sebuah banner besar bertuliskan: AREA MEMAKAI MASKER DAN MENCUCI TANGAN. Wah, kabar baik ini!, pikir saya, rupanya di masa pandemi, ada kemajuan fasilitas. Asumsi saya, pastilah akan ada wastafel cuci tangan di dekat pintu masuk gedung utama, tempat di mana orang-orang pertama kali akan masuk ke area instansi itu.

Saya berjalan gontai (karena panas banget euy!), sambil mengamati keadaan sekitar. Saya lihat, ada satpam sedang berjalan ke arah wastafel di dekat tangga masuk gedung utama. Wastafel baru... tapi tampak tak baru-baru amat. Sebuah tong penguin besar berwarna oranye. Satpam itu seperti sedang mencuci sesuatu, entah apa, tapi berwarna coklat. Ya sudah, saya berjalan saja ke arah wastafel itu, karena sejak pandemi saya memang mencuci tangan sebelum masuk ke area tertentu. Lagipula fasilitas cuci tangan ada di mana-mana sejak pandemi, bahkan mini market di daerah saya tinggalpun ada.

Betapa kagetnya saya, ternyata tidak ada sabun di sana. Lebih tepatnya, botol sabunnya ada, tapi isinya tidak. Ada dua botol sabun di situ, satu di antaranya seperti yang bisa kita temukan di toilet umum, di mall, atau restoran. Yang satu lainnya adalah bekas botol air mineral yang tutup botolnya dibolongi.

Huft! Saya benar-benar mengembuskan napas. Instansi ini... kenapa tidak ada perubahan yang signifikan ya? Setidaknya di pintu masuk, sediakanlah fasilitas cuci tangan yang memadai, sebagai cerminan banner yang digantung dan terpampang nyata di depan gedung.

Akhirnya? Ya, saya cuma cuci tangan pakai air saja. Itupun, untung-untungnya ada. Saya kemudian memilih memakai hand sanitizer untuk membersihkan tangan saya.

Saya sadar, tak bisa berharap banyak, tapi herannya, instansi itu kok tidak sadar-sadar ya? Hhhh...

Photo by estherwee1960

Tteokbokki (re: kritikan) kali ini memang tak pedas, tapi bukan berarti saya mulai memaafkan ketidaksesuaian kampanye dan gerakan yang instansi itu lakukan. Saya tetap tidak suka dengan pencitraan mereka, sementara nyatanya fasilitasnya tidak se-memadai yang mereka gaungkan.

Sekian, dan terima nasib.*


*masih harus berurusan dengan instansi itu.


Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...