Skip to main content

Dear, my bestfriend...

 Yesterday is history, today is story, tomorrow is mystery. Masih ingat, kan?


Awalnya, aku ngga nyangka bisa ngerasa nyaman saat sekelompok denganmu di tugas Bahasa Inggris itu. Bahkan bisa sekelompok denganmu pun aku ngga menyangka. Maklum, kita ngga begitu dekat. Dulu jarak bangku kita adalah satu barisan bangku yang paling depannya adalah bangku Inung. Kalau ke barisanmu pun, aku akan ngumpet ke bangkunya Tata di belakang. Kabur dari penglihatan Pak Jamingan saat belajar Hukum Mendel!

Setelah aku pikir-pikir, kamu kok lucu juga ya? Bisa-bisanya kamu setuju dengan ideku untuk menempelkan gambar hantu casper dan kawan-kawan di karya Bahasa Inggris kita. Ya, walaupun waktu itu kamu ketawa-ketawa juga sih...

Kamu mungkin belum tau, semenjak itu, aku diam-diam memerhatikanmu. Jangan salah sangka dulu! Aku ngga ngefans ya, cuma kagum aja. Kamu ngga begitu banyak bicara, aku lihat kamu senang mendengar, kamu suka merajut (waktu itu sama Mia dan Ponco), dan salah satu yang paling penting juga adalah... kamu juga suka nonton On The Spot sepertiku! Hehe.

Sembilan belas april tahun dua ribu dua belas, aku dateng ke bangkumu dan bertanya, "kamu mau ngga jadi sahabat aku?", sebetulnya itu penuh pertimbangan. Apalagi dulu aku dekat dengan Alifa, yang juga teman dekatmu. Tapi aku ngga bermaksud bersahabat denganmu karena itu. Saat itu aku juga khawatir kamu merasa canggung, apakah rasanya seperti ditembak? Soalnya waktu itu kamu bergeming beberapa saat sampai akhirnya bilang, "iya.". Huft, untung ngga ditolak, hahaha. *jijay ya bacanya hahaha, iya ngga apa-apa*

Kamu adalah salah satu sahabat pertamaku, sebelumnya aku ngga ngerti gimana rasanya sahabatan. Kalau nonton di film-film sih, kayaknya seru banget. Tapi, ternyata ngga semua tentang persahabatan itu seru-seruan aja ya? Ada kalanya kita punya konflik dan bertengkar hebat sampai rasanya udah ngga sanggup untuk bicara langsung. Aku beruntung sahabatan sama kamu, yang ngga keberatan menulis panjang tentang perasaanmu ketika kita akhirnya hanya bisa bertengkar lewat surat. Mungkin lebih tepatnya, menyelesaikan masalah lewat surat. Heey, asal tau aja ya! Bertengkar denganmu itu sulit sekali bagiku. Aku harus memilih antara egoku atau mengakui kalau aku ngga bisa lama-lama bertengkar denganmu. Keburu kangen!

Waktu aku ulang tahun yang ke enam belas, kamu kasi aku kado yang kertasnya ini.
Kata-katanya bagus sekali dan menyadarkanku tentang persahabatan kita.
Aku sampai gunting kertas kadonya dan tempel di jurnal.
Aku kira kamu kasi kode ke aku, tujuh tahun kemudian saat aku tanya,
ternyata kamu bahkan ngga ngeh sama kertas kado yang kamu pilih. Hadeh.


Terima kasih ya, sudah menerimaku menjadi sahabatmu delapan tahun yang lalu. Ngga nolak kalo persahabatan kita dikasi anniversary segala. Terima kasih ya, waktu ulangan biologi pertamaku sama bu Peron dapet tiga puluh, terus aku nangis, kamu nepuk pundak aku, dan bilang... "ga apa-apa, Ir, nanti kamu pasti bisa dapet nilai yang bagus selanjutnya." Terima kasih juga karena kamu selalu lindungi aku dari ke-rese-an anak-anak cowo di kelas.

Terima kasih karena kamu ngga pernah ngeluh ketika aku tiap hari cerita soal sponge (udah lama ngga nyebut dia sponge, ya Tuhan!), mana kayaknya dulu banyak banget lagi dramanya. Oh, iya, ngomongin sponge... terima kasih karena udah mau liatin sponge di parkiran seberang karena aku malu untuk lihat langsung. Terima kasih karena bersedia aku ajak nonton liga volly pelajar waktu sponge tanding. Pokoknya, bagian ini aku terima kasih banget, karena aku banyak minta tolongnya kalo udah tentang dia. Hehe.

Terima kasih sudah dukung aku, kasi kritik saran di cerpen-cerpen aku, kasi ucapan selamat saat aku meraih sesuatu, mengirimkan doa-doa yang baik buatku, dan menghiburku saat aku sedih.

Terima kasih karena menjadi sosok yang keren!, yang membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa hebat. Terima kasih karena sikap dewasamu, aku juga jadi banyak belajar. Terima kasih karena udah sabar ngajarin aku matematika dan kimia, terima kasih karena ngga malu saat aku "ngeeeeng... ngeeeeng" waktu dibonceng sama kamu di motor.

Rasanya, untuk mengucapkan terima kasih pun panjang sekali. Saking panjangnya, sampai blogspot tutup juga belum selesai nih terima kasihnya!

Pokoknya terima kasih, karena sudah menjadi sahabatku yang berharga, dan jadi orang yang membuatku bangga.


Terima kasih :)

Comments

  1. Kembali kasih juga, nggak pernah nyangka bisa punya teman akrab. Semoga langgeng, haha 😂

    Aku sampe berkaca-kaca bacanya :"

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...