Skip to main content

Nulis kok pake lo-gue? Sok Betawi!

 

Hahahahaha, duh gue udah berapa kali ya dikomen karena nulis pake lo-gue? Udah berkali-kali sih, yang pasti ngga gue itung karena ngga penting juga.

Gue akhirnya tertarik bahas ini, karena gue rasa cukup penting untuk memberikan pengertian ke mereka yang menganggap nulis lo-gue itu cringe kalo lo bukan orang Betawi atau Jakarta.

Baik, gue akan mulai dengan... etimologi kata sapa gue/lo. Ternyata, kata gue/lo sendiri bukanlah berasal dari Betawi atau spesifik pada Jakarta aja. Gue/lo berasal dari bahasa China, atau tepatnya bahasa daerah Fujian. Karena budaya Fujian disebut sebagai Minnan atau Hokkian, maka dialek gue/lo ini disebut juga dengan dialek Hokkian. Sejak abad ke empat masehi, orang-orang China mulai banyak yang bermigrasi ke Indonesia, sehingga ada banyak pula bahasa Hokkian yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dan dipakai sehari-hari, dua di antaranya ya gue dan lo ini!

Selain gue dan lo, lo bisa nemuin kata-kata serapan lainnya di buku Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia, tinggal download aja di internet!

Lha, terus, kalo bukan gue, bahasa Betawinya saya apa dong? Yup, kata sapa saya dalam bahasa Betawi adalah aye. Atau bisa juga ane, tapi itupun serapan dari bahasa Arab juga. Hahaha.

_____

Gue sendiri nulis lo-gue, terutama di blog, karena merasa lebih luwes dalam menulis, gue inget kata-kata seorang penulis, tapi gue lupa siapaaa, haha. Katanya, "kalo lo mau pembaca lo menikmati tulisan lo, pertama-tama lo harus menikmati dulu proses menulis lo."

Dalam tulisan-tulisan ringan kayak gini, gue lebih menikmati aja kalo pake kata sapa gue/lo. Karena audiens gue sangat umum dan merujuk pada audiens yang membaca tulisan ringan/santai.

Iya. Guepun melihat kondisi audiens/orang yang gue tuju kok. Saat nulis di Quora gue pake saya, di Instagram atau Twitter, gue pake saya atau aku. Nulis chat sama temen juga gue pake aku. Nulis pesan ke dosen? Ya gue pake saya!

Selain itu, gue dari SMP dulu di internet lebih sering berinteraksi dengan teman-teman fandom dari banyak daerah di Indonesia, yang ketika lagi saling interaksi, ngomongnya ya pake gue/lo. Dulu kayaknya gue ngga pernah tuh denger stigma ngga baik terhadap orang-orang non-Betawi/Jakarta yang ngomong gue/lo. Hahaha.

Bersikaplah biasa aja, seperti ketika temen lo yang bukan orang sunda nyebut saya dengan sebutan aing, atau nyebut diri sendiri dengan I atau me meski bukan orang Inggris.

Ya, pokoknya gitu deh. Gue cuma mau bilang, ngga perlu lah julid sampe bilang "nulis lo-gue, ingat-ingat tuh tembuni (plasenta/ari-ari) di kubur di mana".

Hahaha, malu bos sama orang Hokkian yang datang tujuh belas abad yang lalu!



Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...