| Is love enough to fulfill your happiness? |
Dulu waktu masih kecil... kebahagiaan bagi gue adalah ketika gue bisa punya uang jajan setiap hari seperti temen-temen gue. Karena gue cuma dikasi jajan lima ratus rupiah setiap hari rabu kalo ada pelajaran olahraga. Waktu itu, kehidupan ekonomi keluarga gue dapat dikatakan cukup sulit, gue pernah mengalami masa-masa makan nasi kepal pakai garam doang, dan hal-hal yang rasanya terlalu sakit untuk diceritakan lagi. Bisa lo bayangkan setiap jam istirahat, gue yang baru berusia hampir tujuh tahun itu, cuma bisa berdiri di depan musholla memandangi teman-teman gue beli sosis goreng dan pop ice, dan gue harus menahan itu hingga hari rabu. Itupun lima ratus rupiah hanya cukup untuk membeli setengah sosis goreng aja.
Bukan hal muluk kan, jika pada saat itu gue memandang uang sebagai sumber kebahagiaan?
Gue tumbuh sebagai remaja yang... so called, "not attractive". Hampir setiap hari dibully pendek, botol yang ngga bisa gede, kepala ikan louhan, anak kecil, hidung pesek, dan masih banyak lagi bully-bully-an lainnya. Gue menjadi orang yang ngga percaya diri, selalu malu kalo ngga pake poni, selalu malu kalo harus berdiri atau berfoto di samping temen gue yang tinggi. Gue selalu merasa less attractive setiap kali gue harus tampil di depan, baik sendiri, maupun dalam sebuah kelompok. Gue menjadi orang yang sibuk membandingkan diri gue dengan yang lain, kemudian setelah itu, menjatuhkan diri sendiri dengan bilang: "lo tuh jauh lebih buruk daripada mereka."
Gue, Irma saat remaja, adalah orang yang cukup benci sama diri sendiri, orang yang akan membenturkan kepalanya ke kaca dan bilang "ya Allah kenapa sih aku kayak gini, kenapa aku ngga bisa tinggi kayak temen-temen, kenapa aku ngga bisa seperti mereka juga?"
Saat itu, kebahagiaan gue cuma satu. Dipandang sebagai manusia normal. Meski gue pendek. Meski jidat gue lebar kayak ikan louhan. Meski gue pesek. Meski meski meski dan masih banyak meski lainnya!
Gue ngga tau gimana caranya supaya gue bisa diterima dalam pertemanan, dan setidaknya bisa dihormati, dihargai, dan menerima lebih sedikit bully karena gue punya suatu prestige. Sebagai orang yang ngga menarik, gue pikir, otak adalah satu-satunya yang bisa gue andalkan. Gue cukup berprestasi ketika SD, tapi sejak gue masuk ke sebuah SMP RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) di kota gue, peringkat gue turun drastis menjadi peringkat enam belas di semester pertama.
Gue belajar dengan keras. Di semester dua, ngga disangka, ternyata gue mencapai peringkat tiga. Naik signifikan tiga belas peringkat. Hampir semua orang di kelas gue heran... mungkin mereka sampai sekarang ngga tau aja, betapa sakitnya gue nahan diri untuk sampe ke pencapaian itu.
Gue berusaha mempertahankannya, karena satu persatu teman gue mulai memberikan respect. Dari yang dulunya menjadi tempat bully, pelahan-lahan gue menjadi tempat mereka bertanya.
Di kelas dua, gue berhasil mencapai peringkat dua, kemudian peringkat satu, sampai akhirnya di-rolling ke kelas bilingual saat kelas tiga SMP.
Gue cuma pengen, bisa dipandang normal, pengen bisa percaya diri juga kayak orang lain. Gue cuma minta kebahagiaan semacam itu ketika itu.
Di SMA, gue masih mendapat bully, tapi kehidupan gue jauh berubah. Orang-orang ngga akan berani ngomong ketika gue lagi memberikan pidato. Mereka juga menyimak ketika gue memberikan amanat upacara saat menjadi pradana pramuka. Mereka ngga berani ngatain gue anak pendek saat membaca pengumuman nilai ulangan biologi sambil jinjit-jinjit karena ditempel di jendela laboratorium yang tinggi. Simply because... gue dapet seratus. Ketika gue dibutuhkan dan bisa mereka andalkan, intensitas mereka untuk membully gue semakin jarang, rasa sakit yang gue rasakan dalam pertemananpun berangsur-angsur akan hilang.
Tapi... gue salah. Gue kira gue bisa percaya temen-temen deket gue. Gue pikir hidup pertemanan gue baik-baik aja. No. Kejadian di akhir masa sekolah menyadarkan gue, bahwa teman sejati gue cuma bisa diitung pake jari dengan sebelah tangan gue doang. Tanpa berniat nge-spill masalah ini lagi, saat itu gue sangat kecewa, bahkan sempat stress beberapa bulan karenanya. Untung gue tetep mendapatkan dukungan dari orang-orang yang berharga.
Gue rasa... menemukan siapa "true friend" saat SMA adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi gue.
_____
Semua hal yang pernah gue alami itu, membuat gue berpikir... jadi apa arti kebahagiaan buat gue? Apakah perasaan diliputi oleh cinta dari orang-orang? Apakah bahagia itu ketika gue punya uang buat bisa makan seperti orang lain pada umumnya? Apakah kebahagiaan bisa gue raih ketika gue percaya diri?
Sering gue denger temen-temen gue berdebat, mana yang bakal bikin kita bahagia. Uang, atau cinta?
"Sebanyak apapun uang lo, ngga akan bisa membeli cinta, cuy!" kata temen gue.
"Iya, tapi lo beli beras tuh pake uang, bukan pake cinta!" jawab yang lainnya.
Sounds cliche, right? Padahal, tanpa sadar, mereka sedang memperdebatkan dua hal yang sama-sama benar.
![]() |
| Maslow's hierarchy of needs. |
Menurut teori psikologi Maslow's hierarchy of needs, setiap manusia yang ada di dunia, memiliki kebutuhan-kebutuhan universal yang terdiri atas 5 (dicetak tebal), yaitu:
- Basic needs (kebutuhan-kebutuhan dasar), yang meliputi kebutuhan fisiologis (physiological needs) kayak makan, minum, air, oksigen, istirahat, dan kebutuhan akan keamanan (safety needs) seperti tempat tinggal, kesehatan, hingga sumber daya. Perlu diingat: untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasar ini, perlu uang.
- Phychological needs (kebutuhan psikologis), yang terdiri atas kebutuhan akan cinta, rasa memiliki, pertemanan (belongingness and love needs), serta kepercayaan diri yang timbul dari prestige dan pencapaian-pencapaiannya (esteem needs). Perlu diingat: kebutuhan psikologis ini memang tidak memerlukan uang, tapi butuh cinta dan perasaan yang tulus.
- Self-actualization (aktualisasi diri), adalah pencapaian tertinggi dari kebutuhan kita (self-fullfilment needs). Ketika semua hal potensial dalam diri lo bisa terealisasi. Ketika berada di level ini, lo akan merasa butuh untuk melakukan hal terbaik dan mengerahkan semaksimal mungkin yang lo bisa. Misal, jadi orangtua yang baik dalam hal parenting, sukses dalam karir lo bermusik, menjadi ilmuwan, membuat lukisan, dan masih banyak lagi aktualisasi diri lainnya.
Untuk mencapai kebahagiaan, maka kita butuh hal-hal di atas. Bisa makan, minum, bernapas, punya tempat tinggal, sehat, merasa aman, bisa mencintai dan dicintai oleh keluarga, pasangan, memiliki teman, bisa percaya diri, hingga mengaktualisasi diri.
Ya. Maka, makna kebahagiaan bagi gue adalah... ketika gue bisa meraih kebutuhan-kebutuhan universal yang ada. That's it.
Note: gue masih dalam tahap berdamai dengan diri gue. Sampai usia hampir dua puluh tiga tahun ini, gue masih kerap mendapat bully-an. Gue sedang pelan-pelan mengenal diri gue, menerima, dan yakin bahwa gue orang yang normal dan berharga, setidaknya bagi diri gue sendiri.
Semoga lo yang sekarang sedang membaca, mendapatkan kebahagiaan, menurut versi lo sendiri, apapun itu.
Terima kasih, karena udah membaca hingga kata terakhir dalam tulisan ini :)

Comments
Post a Comment
Hi! I highly respect a nice comment