Skip to main content

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio.

Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar.

Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu.

Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu.

Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru saja berbunyi, dan saya turun ke arah kantin. Mata kita bertemu, saya sempat penasaran karena saya belum pernah melihatmu sebelumnya.

Saya masih ingat, di hari itu juga, kamu dan Ibumu berjalan ke arah kelas kita, dan kamu bersembunyi di balik pintu. Hhhh, gimana sih! Kamu tetap kelihatan dong dengan hoodie Tazmania Devil warna hijau yang mencolok itu! Tapi, ngga apa-apa, seiring waktu kamu jago main petak umpet juga ternyata!

Kamu ingat, dulu kamu duduk di mana? Kamu duduk tepat di depan saya (yang duduk paling belakang), dan di hari pertama kita menjadi teman sekelas, kita ngga berkenalan. Karena ngga ada di antara kita yang memulainya.

Di hari kedua, teman sebangku saya, Nia, masuk. Setelah kemarinnya sakit. Saya iri juga dengan dia, karena bisa menyambutmu dengan mudah. Dia bisa langsung berkata, "hey ayo kenalan!", lalu menjabat tanganmu. Tapi, saya beruntung juga karena Nia saat itu bertanya, "kalian berdua udah kenalan belum?" Haha, kita akhirnya kenalan, dan berjabat tangan. Kalau bukan karena Nia, mungkin saya ngga akan pernah berani mengenalmu.

Kamu masih ingat ngga? Dulu, kita punya kode-kode untuk berkirim surat supaya baik teman-teman di kelas, maupun guru-guru, ngga ada yang mengerti apa isinya? Ya, kamu juga pasti tau, dulu kita sering surat-suratan saat pelajaran Pak Japri atau saat kelasnya Bu Sari. Kamu masih simpan surat-surat itu ngga? Saya cukup bahagia waktu dulu kamu bilang bahwa surat-suratnya sudah kamu scan. Maaf ya, surat-surat yang saya simpan sudah hilang. Sepertinya terselip di buku-buku SD yang disumbangkan ke orang lain. Tapi tenang! Kalaupun ada yang membaca, mereka ngga akan ngerti kode-kode itu kok.

Oh, iya. Kita juga suka kirim-kirim pantun. Kamu masih bisa bikin pantun? Kamu masih suka membuatnya? Hmmm... saya sendiri udah engga. Sulit sekali mencari teman sepertimu yang suka bikin pantun juga. Sejak SMP, saya putar haluan ke puisi berbentuk prosa. Eh, ngomong-ngomong, ada satu pantunmu yang saya ingat sekali loh! Soalnya lucu!

Shampo Sunsilk

Shampo Emeron

Kucing cantik

Namanya Doraemon

Kamu ingat kan, saya protes karena kamu bilang Doraemon cantik? Tapi, kamu bilang biarin aja. Gara-gara pantun ini unik, saya jadi ngga bisa lupa.

Hmmm, Doraemon. Saya jadi ingat, kamu itu suka sekali Doraemon. Setiap kali cerita tentang manga-nya pada saya, kamu terlihat sangat antusias. Kamu masih ingat komik Doraemon yang kamu bawa diam-diam ke sekolah untuk pinjamkan ke saya? Itu komik The Doraemons Special from the Lost World Chapters. Sebenarnya saya ngga ingat sedetail itu dengan judul chapternya. Cuma, saya ingat saat itu saya baca Doraemon dan Nobita sedang melakukan perjalanan ke the Lost World, dan bertemu Uno, manusia kloning yang diciptakan oleh Ilmuwan sebagai prototype anaknya yang sudah meninggal. Hey, saya juga masih ingat loh, saya baca komik itu sambil makan rambutan! Aneh banget ya saya. Baca komik sambil makan rambutan saja saya ingat-ingat.

Ooh!!! Saya tiba-tiba teringat kejadian lucu. Dulu kita berdua suka isi TTS sama-sama kalau lagi istirahat. Kebetulan saya suka beli dan isi TTS, jadi saya bawa aja sekalian ke sekolah. Ternyata kamu tertarik juga untuk ikut main. Hal yang saya paling ingat adalah ketika saya bertanya-tanya apa maksud sebuah clue di TTS itu.

"Toto gelap itu apa?" tanya saya

"Toto gelap?" kamu bertanya balik

Saya mengangguk masih penasaran, tapi kamu seperti sudah akan meledakkan tawa

"Togel, Irma! Togel! Toto gelap itu TOGEL"

"Togel yang pasang-pasang nomor itu?" saya memastikan

"IYA!!!"

Kita lalu sama-sama tertawa. Sejak saat itulah saya mengenal toto gelap. Maksud saya, mengenal saja. Saya tidak pernah main toto gelap meski tiap hari ditawari lewat SMS! Haha.

Hei, dulu kita pernah telat upacara loh di hari senin! Tapi, kita ngga turun ke bawah. Haha, jujur saya takut banget waktu itu dihukum. Pertama, takut dihukum di lapangan karena telat upacara. Kedua, takut dihukum karena saya lupa mengerjakan PR Matematika. Saya sendirian saat itu di kelas. Saya kira kamu ngga masuk, soalnya bangku di depan saya kosong. Saya udah hampir nangis waktu itu. Bukan karena saya pikir kamu ngga masuk, tapi karena PR Matematikanya susah banget!

Waktu kamu datang dan masuk ke kelas dengan ngos-ngosan. Saya jadi merasa punya teman. Hahaha. Kamu langsung panik.

"Eh, Ir. Kenapa kamu ngga upacara? Udah telat, nih. Duh, mana aku belum piket kelas lagi." keluhmu sambil menyimpan tas.

Maaf ya. Saat itu otak saya langsung kepikiran untuk menghasutmu, haha.

"Eh, ngga usah turun upacara! Ngga akan ada yang sadar kalau kita ngga di sana. Gampang lah, nanti pas anak-anak mulai bubar, kita muter aja dari kelas tiga, terus ikut berkerumun sama anak-anak yang mau masuk kelas. Terus tinggal ngikutin anak-anak kelas enam yang lain."

"Emangnya ngga apa-apa?" tanyamu ragu

"Ngga apa-apa! Kamu kan juga belum piket. Mendingan kamu piket!"

"Oh iya." kamu segera mengambil ember dan pel, mengisi air dan mulai mengepel area depan kelas.

"Eh, gimana kalo gini..." kata saya

"Apa?" kamu berhenti mengepel.

"Kamu bantuin aku ngerjain PR Matematika, terus, aku yang ngepel!" (Maaf lagi ya, saya menjerumuskanmu dalam transaksi yang tidak baik)

"Ya ampun, Maning! Kamu belum selesai PR Matematika?" kamu geleng-geleng kepala

"Aku lupa! Jadi kamu mau ngga?"

"Yaudah deh." katamu

Kita bertukar aktivitas. Saya mengepel kelas, sementara kamu mengerjakan sisa PR saya.

"Memangnya mudah ya?" tanya saya yang sudah mencapai belakang kelas

"Iya, ini tinggal dibagi kayak biasa aja." katamu sambil terus berkonsentrasi


Hari itu, kita ngga ketahuan bolos upacara. Untungnya juga, ngga ada guru yang memeriksa kelas. Kamu ngga dihukum karena ngga piket, dan saya juga ngga dihukum karena belum selesai PR Matematika. Hhhhh. Saya ngga pernah lakukan hal seperti itu lagi kok. Saya sudah insyaf.

Oh, iya. Saya mau bilang terima kasih, karena waktu itu saat pelajaran agama, dan semuanya sudah bersalaman pulang dengan Bu Zainab, lalu hanya tinggal kita berdua, kamu bilang ke saya sambil tersenyum, "Duluan aja, Ir. Ladies first." Hmmm, seharusnya biasa saja, tapi saya waktu itu senang.

Eh, iya. Kamu masih punya binder? Dulu kita juga sering tukaran binder. Ternyata binder kamu bagus-bagus, saya senang pernah tukaran. Waktu itu kamu minta tukar dengan binder Spider-Man saya kan?

Kenangan-kenangan itu memang lebih banyak saat SD, karena setelah masuk SMP kita beda kelas. Meski begitu, kita masih bertemu beberapa kali. Masih kirim surat pakai kode juga!

Saya masih ingat waktu saya bertanya denganmu, "Jika kamu tersesat di dalam hutan, dengan siapakah kamu ingin bersama?"

"Kakakku" katamu

"Jika kamu dan kakakmu menemukan sebuah rumah di tengah hutan itu, kamu mau rumahnya berpagar atau tidak?"

"Engga berpagar."

"Jika di dalam rumah itu kamu dan kakakmu temukan teko, teko seperti apa yang ingin kamu lihat? Teko dari tanah liat, teko dari kaca, atau teko dari seng?"

"Teko dari seng"

Setelah itu, sayapun mulai menerjemahkan jawaban-jawabanmu layaknya seorang psikolog yang sedang melakukan tes psikologi pada seseorang. Haha.

Eh, kamu masih suka Cinta Laura? Waktu pramuka, kamu bilang artis favorit kamu Cinta Laura!


Ngga. Ngga. Masa-masa SMP saya dan kamu ngga sedamai-damai itu aja. Kita pernah berantem karena kebodohan saya. Waktu itu, saya dengar, kamu suka dengan seseorang kan? Iya, saya sangat cemburu. Saya ngga tau harus gimana mengekspresikannya. Kamu itu yang pertama di hidup saya. Saya bertindak bodoh. Saya seperti orang yang meracau. Saya ngga jelasin kenapa saya marah sama kamu.

Kamu selalu bertanya kenapa saya marah. Dan saya ngga tau harus jawab apa. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang kalau saya marah karena kamu sombong.

"Yaudah ayo baikan" katamu. Tapi saya malah diam dan meninggalkanmu di musholla. Pikiran saya kacau sekali. Baikan karena saya anggap kamu sombong bukanlah hal yang saya mau. Saya ngga bisa mengungkapkannya. Saya ngga bisa. Saya.... seharusnya saya minta maaf sama kamu. Saya yakin ada banyak kata-kata saya yang menyakitkan buat kamu dengar waktu itu.

Beberapa hari kemudian, kita masih saja belum baikan. Saya telat dijemput hari itu. Sekolah sudah sepi, saya menyebrang jalan dan menunggu di bawah pohon mangga depan rumah orang. Saya lihat kamu masih piket kelas bersama teman-temanmu. Kenapa ya anak-anak kelasmu piketnya lama sekali? Tapi, wajar sih. Kelas kalian memang terkenal bersih.

Setelah piket kelas, saya lihat kamu masih di sekolah. Teman-temanmu pulang. Kamu menunggu di depan gerbang. Jarak kita saat itu hanya kurang dari tiga meter. Hanya sebatas jalan aspal yang diseberangi. Saat itu saya dan kamu beberapa kali saling pandang. Saya tidak mau menegur lebih dulu. Saya berharap kamu melakukannya. Tapi, saya juga tau... kamu sudah terlalu jenuh untuk memulai percakapan, apalagi mengajak baikan lagi. Ngga lama, sebuah mobil datang. Saya kira kamu akan langsung pulang. Ternyata, kamu masih bolak-balik dengan papamu ke TU.

Saya ngga tau, bahwa, itu terakhir kalinya saya bisa lihat kamu.

Saya ngga tau, bahwa, kamu akan pindah ke tempat yang jauh sekali.

Saya belum sempat minta maaf secara langsung. Saya bahkan ngga mengucapkan salam perpisahan untuk kamu. Saya berharap, saya adalah orang yang berani saat itu. Suatu hari jika kita tidak sengaja bertemu lagi, saya ingin minta maaf. Saya ingin minta maaf karena tidak bisa menyukaimu dengan baik. Saya ingin minta maaf karena saya tidak tau caranya memberitahu bahwa saya cemburu (dan apakah saya berhak?), saya ingin minta maaf karena ada banyak perkataan yang menyakitkan.

Setelah kepindahanmu, saya merasa dunia saya kosong. Saya merasa ada yang hilang. Saya ngga bisa lihat kamu lagi, saya ngga bisa denger kamu lagi, saya bahkan ngga bisa menikmati sosis goreng dan ale-ale dengan baik semenjak kepergianmu. Itu pertama kalinya saya merasakan rindu yang berat sekali. Saya cuma bisa meratapi langit-langit kamar saya sambil memutar Mp3; La Luna, Selepas Kau Pergi. Tolong jangan bilang saya lebay. Memang itu yang saya rasakan. Itu pertama kalinya!

Saya berusaha mencari nomor handphonemu. Saya tanya Wulan, dan dia kasi. Bodohnya lagi, kenapa ya waktu itu saya SMS kamu dan bilang, "ayo tebak aku siapa, kamu udah sombong ya sekarang"

Iya, saya salah. Ya Gusti, saya ingin sekali merutuki diri sendiri yang saat itu masih bodoh. Maaf ya, sekali lagi, saya ngga tau bagaimana caranya memulai percakapan. Wajar aja kamu marah. Tapi saya agak kecewa sih karena kamu juga marah ke Wulan hanya karena saya dapat nomormu dari dia. Dia kan innocent. Dia ngga tau kalau kamu ngga mau nomormu dikasi sembarangan. Tapi, kalo boleh bertanya, memangnya saya orang sembarangan ya?

Semenjak itu, saya takut sekali menghubungi kamu. Bahkan lewat Facebook. Tapi, beberapa waktu, ternyata kamu mulai menegur saya di sana. Saya senang. Terakhir kali kita komunikasi adalah di tahun dua ribu tiga belas. Kamu cerita kalau kamu sekolah dengan sistem kredit semester (SKS) dan itu berat karena musti ngebut belajarnya, lalu kamu ngira saya sekolah di SMA 3 yang deket gereja. Hmmm, ngga, sekolah saya ngga deket gereja.

Setahun setelah komunikasi terakhir kita, saya lihat kamu mulai kegiatan ospek. Saya ngga nyangka ternyata kamu akselerasi. Saya kira kamu ITB, ternyata bukan. Haha. Saya bukan siapa-siapa kamu, tapi saya bangga sekali kamu ada di sana. Itu kampus impian saya loh dulu!

Kamu, saya rasa sudah banyak kenangan yang saya ceritakan tentang kamu. Saya selalu bilang pada sahabat saya, Aya, kalau perasaan saya kepadamu belum selesai. Dia sering bertanya, kenapa? Saya ngga bisa menjelaskannya. Saya hanya merasa kenangan tentang kamu membuat saya jatuh cinta, lagi, dan lagi, meski saya tidak pernah bertemu lagi dengan kamu.

Saya mengambil waktu cukup lama hanya untuk memikirkan ini. Tatan pernah bilang waktu saya SMA, kalau mungkin aja perasaan seperti ini hanya tipuan. Ini bukan perasaan cinta lagi, melainkan perasaan karena saya pernah cinta sama kamu aja. Tatan ada benarnya.

Saya bukan mencintai kamu lagi, saya hanya senang ketika teringat kenangan-kenangan baik saat denganmu.


Kemarin, kemarin, kemarin, hingga hari ini, saya sudah yakin perasaan saya kepada kamu sudah selesai. Saya sudah lega. Terima kasih ya, sudah pernah ada di hati saya, dan untuk pertama kalinya membuat jantung saya berdebar tidak seperti biasa.

Terima kasih sudah menjadi teman saya. Terima kasih karena sudah isi TTS bersama-sama. Terima kasih karena sudah ajari saya matematika. Terima kasih karena sudah mau mengobrol dengan saya. Terima kasih karena sudah menjadi teman saya untuk bikin pantun. Terima kasih karena kamu selalu menjadi seseorang yang membuat saya bangga. Terima kasih karena kamu sudah menjadi orang yang baik dan berharga.

Jika suatu hari nanti kamu menemukan surat ini, semoga saat itu kamu dalam keadaan yang baik-baik aja. Saya mendoakan agar kamu selalu bahagia, dan diliputi kebaikan-kebaikan lainnya.

Semoga hal-hal terbaik selalu menyertaimu!


Sincerely,


Your primary school classmate that had ever fallen in love with you :)

Comments

  1. Ini sih yang paling aku tunggu ceritanya dan ternyata dihari kesembilan belas

    ReplyDelete
  2. Sampai tetidok nunggukan postingan hari ke-19 ini

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...