![]() |
| Gambar yang gue buat tahun 2014 silam. |
Ngga terasa, gue udah menjalani status jomblo ini selama dua abad!
Gue jomblo dari abad 20 hingga abad 21, atau makna singkatnya berarti gue jomblo sejak lahir.
But, wait. Kayaknya lebih enak nyebut status ini sebagai single ya? Atau self-partnered seperti kata Emma Watson?
Emang... beda ya?
Beda. Menurut gue, jomblo itu orang yang sedang tidak memiliki pasangan, tapi dia membuka kesempatan untuk punya hubungan sama seseorang.
Sementara, kalau single, adalah orang yang ngga punya pasangan, bisa jadi dia membuka kesempatan untuk punya hubungan, meski hubungannya bukan pacaran/menikah, atau bisa jadi juga dia sedang tidak ingin menjalani hubungan sama sekali.
Kalau self-partnered?
Menurut seorang psikolog klinis, Carla Marie Manly, yang gue kutip dari NBC News, "self-partnering focuses on the ideal of being happy and complete as a solo individual. A self-partnered person would feel whole and fulfilled within the self and does not feel compelled to seek fulfillment through having another person as a partner. That doesn't necessarily mean a self-partnered person doesn't date or never hopes to get married someday. It's that they're taking the time to know themselves first. To be truly self-partnered, one must often invest a great deal of time and energy on personal development."
[Self-partnering berfokus pada tujuan untuk menjadi bahagia dan merasa lengkap sebagai individu tunggal. Orang yang sel-partnered akan merasa utuh dan puas dengan dirinya dan tidak merasa terdorong untuk mencari kepuasan dengan memiliki orang lain sebagai pasangan. Bukan berarti orang yang self-partnered tidak berpacaran atau tidak pernah berharap untuk menikah suatu hari nanti. Hanya saja, mereka meluangkan waktu untuk mengenal diri mereka sendiri terlebih dahulu. Untuk benar-benar menjadi self-partnered, seseorang harus sering menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk pengembangan diri mereka.]
Baik, sebelum masuk ke cerita, gue akan puterin sebuah lagu buat kalian kawula muda, ini adalah lagu yang hits dan rilis 9 tahun lalu, dibawakan oleh Oppie Andaresta... Single Happy!
Stay tune dan simak terus cerita gue, selamat mendengarkan!
Baik, gue mulai ceritanya...
Di masa awal-awal gue pertama kali jatuh cinta, yaitu saat kelas enam SD, gue udah mengenal apa itu arti memiliki dan berpacaran. Rata-rata temen sekelas gue waktu itu udah mulai pacaran sejak kelas empat SD, hmmm... sekitar tahun dua ribu enam lah waktu itu.
Seperti anak yang menginjak remaja pada umumnya, gue juga punya keinginan untuk memiliki cinta pertama gue itu, pacaran dengan dia, memegang tangannya ke kantin, telfonan di sore hari, sms-an sampai bonus sms habis, dan nulis diary tentang hal-hal yang membahagiakan bersamanya hari itu.
Tapi.... gue dan dia ngga pernah pacaran. Emang cinta gue yang ngga berbalas aja sih kayaknya. Kita cuma jadi temen baik saat itu, hehe.
Pergolakan gue tentang memiliki hubungan dan pasangan ini terus bergulir hingga gue SMA, ketika itu gue naksir ketua OSIS gue... tapi, ada perasaan yang memang aneh. Gue pengen ada hubungan dengan dia, tapi bukan pacaran. Hanya sekadar hubungan deket? Guepun sampai sekarang belum ngerti perasaan gue itu. Yang gue tau pasti, gue seneng banget dapet perhatian dari dia, bercerita dan curhat dengannya.
Di usia enam belas tahun, gue pernah berpikir untuk menikah di usia ke dua puluh tiga. Kalau lo ngikutin blog gue dari lama, mungkin lo inget gue pernah nulis itu di blog empat tahun lalu di sini: Plan Menikah. Di tulisan blog itu, gue mengomentari rencana menikah gue dan berkata bahwa menikah itu bukanlah hal yang mudah, dan lo harus paham bener mengenai rumah tangga, parenting, dan finansial keluarga.
Ngga hanya sampai di situ, awal tahun dua ribu sembilan belas, gue menuangkan keresahan hati gue di tulisan ini: Hidup Sendiri?, setelah sekian malam gue bertanya-tanya...
Apa yang gue inginkan dalam suatu hubungan? Apakah gue hanya akan mencapai kebahagiaan ketika memiliki pasangan? Apa tujuan gue menikah? Apakah gue akan menikah atau tidak? Apa aja konsekuensi yang harus gue terima ketika gue menikah, punya anak, menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir? Apakah gue masih bisa mengembangkan diri gue jika gue menikah? Pertanyaan-pertanyaan itu, ngga bisa dijawab dengan mudah. Ngga seperti membalikkan sebuah koin lima ratusan yang beratnya cuma tiga gram, pertanyaan-pertanyaan itu bebannya lebih berat daripada berat badan gue sendiri.
Sampai hari ini, gue belum memutuskan. Gue ngga tau akan menikah atau ngga. Yang jelas, saat ini gue merasa content banget sama diri gue sendiri. Ngga memiliki pasangan bukan berarti gue ngga bahagia, bukan berarti juga gue harus menyandang stigma negatif di masyarakat. Toh, kebahagiaan kita ngga diukur dari label yang diberikan oleh orang lain. Buktinya, Raditya Dika mencapai awal kesuksesannya ketika dia menjadi jomblo, dan karena masa-masa itu, dia jadi orang yang hebat sekarang.
Dengan seluruh pergolakan pikiran gue, dan sekian malam yang gue habiskan untuk merefleksi diri...
Gue menyadari bahwa...
Sampai saat ini, gue adalah seorang self-partnered, dan gue sangat bahagia menjalaninya!
Pesan terakhir dari gue, apapun status lo sekarang; jomblo, single, self-partnered, pacaran, HTS-an, menikah... gue harap lo lah yang menentukan kebahagiaan diri lo sendiri. Don't let others define your happiness!
Sekian, dan terima kasih udah baca :)

👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
ReplyDeleteMantap gansis 👍🏻👍🏻
Delete