Skip to main content

My personality.

Hellaaaw, selamat datang di tulisan pertama gue untuk 30 days writing challenge!
J-jaaang, kali ini gue bakal mengungkap kepribadian seorang perempuan berusia 22 tahun yang suka nonton video horror tapi abis itu nangis di kasur karena ngga berani ke wc sendirian pas kebelet pipis. Orang itu adalah.. gue sendiri. Hehe.
Ngomongin soal kepribadian, gue ngga pernah ngecek secara profesional sih. Cuma waktu itu, gue pernah tes di sebuah website dan ternyata gue cenderung ke arah INFJ, segolongan sama Marie Kondo, Nicole Kidman, Marthin Luther King, Nelson Mandela, dan Meika Meidina Yuanita (temen seangkatan gue, baru tau semalem dong dari twitter, haha). Denger-denger, INFJ ini populasinya kurang dari satu persen di dunia, what a trivia!

Despite of that, ketika lo pertama kali ketemu gue, lo mungkin akan berpikir gue adalah orang yang polos, kalem, pendiam, dan segenap tipikal orang yang mudah dihipnotis dan diculik. Yaaa... walaupun ada dikit yang bener, tapi ngga semuanya gitu juga sih.
Pernah waktu SMP, gue dan rombongan kelas lagi jalan menuju ruang kesenian, dan temen gue yang bernama Madelin ngomong ke gue,
"Eh, Irma. Aku kira dulu kamu tuh kalem."
"Ternyata?" tanya gue penasaran
"Usiiiiillll"
Gubrak!

Hmmm... ya emang sih, gue bukan orang yang mudah akrab sama orang yang baru gue temui, karena gue membuat batasan sama orang lain berdasarkan circle.
Gue mengategorikan orang-orang dalam hidup gue berdasarkan beberapa circle, yaitu: keluarga, sahabat, temen deket, temen biasa, kenalan, dan orang yang nggak gue kenal sama sekali.
Apa yang gue tunjukin ke orang yang cuma jadi kenalan gue, akan beda dengan temen biasa gue. Misal, gue ngga bakal karaoke-an Smule di depan adek tingkat gue, tapi gue bisa enjoy aja ngelakuin itu di depan temen sekelas gue. Jadi, jelas banget, lo bakal liat kepribadian yang lebih variatif dari gue kalo lo makin deket ke circle inti gue, yaitu keluarga. Dan dapat disimpulkan bahwa, kepribadian gue adalah tergantung siapa elo di hidup gue.



Kalo diminta mendefinisikan kepribadian gue dalam satu kata yang bermakna luas, maka gue akan mengatakan bahwa gue adalah orang yang bebas. Gue cinta kebebasan karena gue sagitarius bukan orang yang suka diatur dan didikte, tapi sebebas-bebasnya gue, tentu gue punya aturan, prinsip dan kompas moral sendiri dalam hidup! Gue adalah orang yang bebas berpikir, bebas bereskpresi, dan bebas untuk memilih.
Dari tiga kebebasan itu, lo akan lihat banyak hal di diri gue. Dari kebebasan berpikir, gue menjadi orang yang selalu ingin tahu dan suka hal baru, tipikal seorang yang penasaran, dan mengembangkan pemikiran gue. Dari kebebasan bereskpresi, lo bakal liat gue sebagai orang yang suka menulis dan vokal. Dari kebebasan memilih, lo akan liat bahwa gue adalah orang yang tetap pendirian. That's me. As simple as that.

Gue rasa, hal-hal di atas udah cukup menjelaskan banyak hal dari diri gue.
Tapi, ada sesuatu yang pengen gue bilang tentang kepribadian, dan ngajak lo sama-sama refleksi.

Seringkali, lingkungan berkontribusi dalam membentuk kepribadian kita. Kepribadian, menurut gue, punya kaitan yang sangat kuat dengan nilai dan perilaku. Dalam Social Cognitive Theory disebutin kalo perilaku seseorang itu dipengaruhi oleh hasil observasinya terhadap interkasi sosial, pengalaman (dan masa lalu), serta pengaruh media luar.

Sekarang coba lo pikir, gimana sih lingkungan lo? Seberapa banyak lingkungan lo itu udah memengaruhi perilaku lo selama ini?
Eitsss... jangan bilang lo cuma berpaku pada lingkungan keluarga lo? Inget bahwa lo punya lingkungan lain. Sekolah, kampus, tempat kerja lo, organisasi lo dannnn... media sosial. Iya, lo ngga salah baca! Social media is a very huge environment which you can find so many personalities within.
Lagi, sekarang lo tanya ke diri lo. Udah seberapa banyak media sosial memengaruhi perilaku lo? Apakah kepribadian orang lain di media sosial berhasil mendefinisikan siapa diri lo?
Apakah ketika ada orang yang posting pencapaian cum laude-nya lantas lo berpikir bahwa lo adalah orang yang tidak pintar, tidak cerdas, dan tidak beruntung?
Apakah ketika influencer panutan lo membuly temannya dengan kedok becanda, maka lo juga akan melakukan hal yang sama?

Ngga. Sekalipun lingkungan bisa memengaruhi perilaku dan kepribadian, tapi lingkungan ngga bisa mendefinisikan siapa elo. Seberapa besar lingkungan memengaruhi lo, bergantung pada seberapa sering lo melakukan refleksi diri.
Beberapa waktu lalu, gue kuliah sama seorang dosen buat ngebahas suatu jurnal, di situ dijelasin bahwa di lingkungan kita, negative role itu akan selalu ada, siapapun dia, meskipun dia juga melakukan hal-hal positif, meskipun dia adalah panutan garis keras lo. Ngga menutup kemungkinan kalo dia bakal berperikalu negatif juga sewaktu-waktu. Sehingga kita ngga bisa jadiin seseorang sebagai complete role model (menjadikan semua perilakunya sebagai panutan).
Dengan refleksi diri, lo akan berpikir, "eh, yang tadi dilakukan sama orang ini bener ngga ya? kalo bener.. kenapa? kalo salah... apa yang membuat itu salah? belajar dari kejadian ini, gimana seharusnya gue berperilaku?"
Dari situ lo akan bisa memilah mana perilaku yang negatif untuk lo jadikan pelajaran, dan mana perilaku positif yang bisa lo contoh. 

Demi! Ini penting banget, karena di era kebebasan bergaul di mana aja, baik itu dunia nyata maupun dunia maya, sulit banget ngefilter diri. Dalam sehari, ada banyak informasi, apapun itu, yang kita terima. Kalo kita ngga pernah aware, kita bisa-bisa ngga sadar bahwa kita menjadi orang yang buruk.
So, please, take your time to do self-reflection.

Hhhh, ternyata udah banyak banget yang gue tulis. Itulah cuplikan kisah tentang kepribadian gue, dan sekelumit harapan agar kita dapat menjadi diri sendiri serta memfilter hal-hal di lingkungan kita.

Sekian tulisan gue di hari pertama ini, dan terima kasih karena udah baca sampai sini!
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, byeeee ✌

Comments

  1. Parah ! Emang ga kalem fix. Aku bangga dong bisa jadi salah satu sahabatmu *eaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, saking ngga kalemnya, kadang malah jadi malu-maluin!
      Aku juga banggaa dong punya sahabat seperti kamuuu *eaaa *tampol

      Makasih yaa aya udah berkunjung ;)

      Delete

Post a Comment

Hi! I highly respect a nice comment

Popular posts from this blog

Surat untuk cinta pertama saya

Untuk kamu, yang sepuluh tahun lalu, membuat saya hanyut dalam nyanyian lagu First Love, Nika Costa yang diputar di radio. Untuk kamu, yang sepuluh tahun kemudian, membuat saya terisak saat membaca webtoon Matahari 1/2 Lingkar. Hai! Apa kabar? Saya harap kabar kamu baik-baik saja seperti terakhir kali kita mengobrol lewat pesan Facebook, tujuh tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung, ternyata saya sudah kenal kamu selama dua belas tahun, ya? Selama itu juga saya tidak pernah benar-benar melupakan kamu. Hhhh, kenangan tentang kamu, kenapa rasanya sangat membekas? Saya sudah berkali-kali minta pada Tuhan, agar tempat otak saya menyimpan memori tentang kamu itu diformat saja. Biar saya bisa simpan materi-materi biokimia yang bikin saya nangis kejer di semester dua dulu, di situ. Tapi, sepertinya belum dikabulkan. Saya masih saja ingat banyak hal tentang kamu. Saya masih ingat hari di mana saya pertama kali melihat kamu; di lantai dua, tepat di depan ruang guru. Saat itu bel istirahat baru ...

as an INFJ

Yes, as an INFJ... I'm judging. I'm just not telling you... the things you don't wanna hear. I won't put much effort and energy to have arguments with someone else.

:)

I don't know why I fell in love with you, but I felt safe and secure. I could tell what I feel and you listened to me, yo'd never judged me. Dia ngehargain banget ketika aku butuh tenangin diri sendiri dulu. Dia paham kalo aku perlu waktu untuk bener-bener ngerespon emosi sedih dan kecewa aku. Dia tau gimana cara menghadapi dan memvalidasi perasaan dan emosi orang lain. Dia ga maksa aku untuk cerita dan nyelesein semuanya dalam satu waktu. I can't thank enough, bagi aku rotasi stase mayor yg itu cukup berat. Tapi dengan dia, rasanya bisa aku lewati dengan lebih mudah. Jujur sulit banget buat move on. Tapi setelah malam itu dia kasi penjelasan, harusnya aku bisa lebih lega untuk ngelepasin perasaan ini satu persatu. Makasih banget karena udah jadi bagian dari kenangan manisku, terutama saat koas. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu bisa dapet pasangan yang baikkkk banget, yg bisa menambahkan kebahagiaan dalam hidup kamu d...